Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Hidup Sesudah Mati - Hidup Katolik

Hidup Sesudah Mati

Kamis, 14 Februari 2013 15:30 WIB
Hidup Sesudah Mati
[blog.hillsbiblechurch.org]

HIDUPKATOLIK.com - Seringkali dikatakan bahwa sesudah kematian, jiwa masih hidup bersama Tuhan. Kalau ternyata jiwa sudah hidup bersama Tuhan, mengapa masih dibutuhkan kebangkitan? Apa perlunya ada kebangkitan? Minta penjelasan Romo.

Theresia Maria Agustyarini,
08179625xxx

Pertama, memang harus diakui bahwa kita sering menggunakan ungkapan teologis seperti “dalam kematian, jiwa terpisah dari badan dan jiwa menghadap Tuhan. Mari kita mendoakan jiwa saudara kita yang sudah meninggal!” Bahkan, dalam buku-buku resmi liturgi Gereja, bisa ditemukan ungkapan teologis seperti itu (KGK 1005, 1016: “jiwa terpisah dari badan”). Tidak heran, jika para imam dan petugas Gereja lainnya juga memakai ungkapan teologis tersebut.

Sebenarnya ungkapan teologis itu perlu dimengerti secara tepat, yaitu dengan latar belakang teologi Kristiani, bukan dengan pengertian filsafat Platonis. Pengertian Saudara (sadar atau tidak) kental akan pengaruh filsafat platonis. Plato mempertentangkan antara jiwa dan badan. Kematian dipandang sebagai pembebasan jiwa dari penjara badan. Filsafat platonis ini berpendapat bahwa sesudah kematian, jiwa bisa ada mandiri lepas dari badan. Dari butir pengertian inilah muncul pengertian yang Saudara ungkapkan di atas. Pandangan yang demikian ini kurang sesuai dengan ajaran Kristiani yang menekankan kesatuan pribadi manusia. Artinya, manusia tidak terdiri atas unsur-unsur yang sebelumnya sudah ada secara mandiri, tetapi manusia adalah kesatuan yang unik. Badan, jiwa, dan roh bukanlah unsur-unsur yang membentuk manusia (karena itu bisa ada mandiri secara terpisah), tetapi adalah dimensi manusia yang satu.

Kedua, jika manusia dipahami sebagai suatu kenyataan yang utuh dari dalam dirinya sendiri, maka kematian harus dilukiskan sebagai kehancuran pribadi manusia itu, tidak hanya badannya, tetapi juga jiwa dan rohnya. Bukan hanya badan yang mati, tetapi seluruh diri manusia itulah yang mati. Komisi Teologi Internasional merumuskan hal ini: “kematian secara intrinsik menghancurkan manusia. Sesungguhnya, karena pribadi manusia tidak hanya jiwanya saja, tetapi badan dan jiwanya secara hakiki bersatu, maka kematian mempengaruhi pribadi (Beberapa Pertanyaan dalam Eskatologi Dewasa ini, 226).

Thomas Aquinas merumuskan ajaran ini dengan mengatakan bahwa segala sesuatu terdiri dari materia dan forma. Pertemuan keduanya menyebabkan eksistensi sesuatu itu. Dalam hal ini, jiwa adalah forma sedangkan badan adalah materia. Manusia ada ketika materia dan forma itu bersatu. Setelah kematian, ada “sesuatu yang konstitutif” dari diri manusia yang tetap hidup. “Sesuatu yang konstitutif” itulah yang seringkali diungkapkan dengan “jiwa yang terpisah”. “Sesuatu yang konstitutif” ini yang menunggu saat kebangkitan, agar seluruh pribadi manusia diperbarui. Untuk mempermudah perkenankan saya menyebut “sesuatu yang konstitutif” ini dengan “hati” agar tidak disamakan dengan “jiwa”.

Ketiga, ada perbedaan yang besar jika membandingkan keadaan “hati” dan “manusia baru yang dibangkitkan”. Kebangkitan berarti dihidupkannya kembali seluruh pribadi manusia yang satu itu tetapi secara baru. Keadaan baru inilah yang disebut dengan “badan baru, badan yang dibangkitkan”. Jadi, meskipun “hati” itu ada bersama Tuhan sesudah kematian, tetapi “hati” masih terus menantikan saat kebangkitan, karena pada saat itulah kesempurnaan pribadi manusia itu diwujudkan. Kebahagiaan kekal dinikmati secara sempurna hanya setelah kebangkitan orang mati.

Apakah Allah sejak semula sudah merencanakan kematian? Ataukah kematian itu muncul kemudian?

Theresia Maria Agusetyarini, 08179625xxx

Menurut Perjanjian Baru, hanya Allah saja yang baka (1 Tim 6:16). Bertitik tolak dari sini, bisa dikatakan bahwa manusia itu fana. Namun demikian, kematian bukanlah bagian dari rencana asali Allah, tetapi adalah hukuman atas dosa manusia. “Upah dosa adalah maut” (Rm 6:23). “Sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa” (Rm 5:12). Dosa dengan sengatnya maut inilah yang kemudian dikalahkan oleh ketaatan, wafat, dan kebangkitan Kristus (Rm 5:12-21). Karena itu, Kristus adalah “Tuhan, baik atas orang-orang mati maupun atas orang-orang hidup” (Rm 14:9) dan memegang “segala kunci maut dan kerajaan maut” (Why 1:18).

Pastor Dr Petrus Maria Handoko CM




Kunjungan: 2048
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com