Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Tabur Bunga di Makam - Hidup Katolik

Tabur Bunga di Makam

Selasa, 19 Februari 2013 14:09 WIB
Tabur Bunga di Makam
[us-funerals.com]

HIDUPKATOLIK.com - Apakah Gereja memperbolehkan jika kita sedang mengikuti pemakaman seseorang, kemudian di makam itu kita juga menabur bunga di makam orang lain?

Albertus Pariaman,
0819 3773 3xxx

Tidak ada larangan dari Gereja. Mereka yang sudah meninggal sudah tidak lagi berada di bawah pengaruh badan yang lemah dan bisa cemburu. Pikiran dan hati mereka yang sudah meninggal telah dibuka dari selaput atau kebutaan sehingga mereka lebih mengerti rencana dan kasih Allah. Karena itu, pasti mereka sudah tidak lagi cemburu atau iri sehingga bisa mencelakakan mereka yang hidup. Jadi, boleh saja kita menabur bunga di makam orang lain, ketika kita datang untuk mengikuti pemakaman seseorang.

Yang perlu diperhatikan ialah maksud utama dari kedatangan kita di makam itu tetap jelas, artinya lebih baik mengikuti pemakaman secara penuh sampai selesai, baru kemudian kita ke makam-makam orang lain.

Ketika kakek saya meninggal dan dibawa ke Gereja, kami berdebat tentang posisi yang benar dari jenazah kakek di depan altar. Saya merasa bahwa lebih hormat jika kepala kakek saya yang lebih dekat dengan altar, bukan kakinya. Tetapi Pastor Paroki mengatur justru kebalikannya. Mengapa demikian? Bukankah ini menyulitkan ketika keluarga dan para sahabat ingin berdoa di hadapan jenazah kakek saya? Bolehkan diposisikan sejajar dengan altar? Mohon penjelasan.

Diana Kosasih, Purwokerto

Pertama, dalam hal posisi jenazah yang disemayamkan di Gereja untuk misa requiem, dibedakan antara jenazah mereka yang tidak ditahbiskan (awam, suster, frater, bruder) dan jenasah mereka yang sudah ditahbiskan (diakon, imam, Uskup). Posisi jenazah menggambarkan posisi yang bersangkutan seperti ketika mengikuti perayaan Ekaristi.

Kedua,
jenazah seorang yang tidak ditahbiskan disemayamkan dengan posisi kaki yang lebih dekat ke altar, sedangkan kepala berada pada bagian umat. Seolaholah, orang itu berada pada bagian umat dan menghadap ke altar untuk mengikuti perayaan Ekaristi. Sebutlah posisi ini sebagai ”posisi menghadap altar.” Perasaan bahwa posisi tersebut kurang hormat karena justru kaki jenazah itu yang menghadap ke altar, kiranya tidak perlu dipersoalkan. Bukankah jenazah itu sudah tidak bisa diberdirikan lagi? Bukankah tidak ada pilihan posisi lain, selain horizontal untuk menyemayamkan jenazah itu? Tidak ada maksud melecehkan altar atau Tuhan dengan posisi kaki yang menunjuk ke altar.

Demikian halnya ketika jenazah disemayamkan di rumah duka, kaki jenazah yang mengarah ke pelayat tidak boleh ditafsirkan sebagai ”tidak sopan” atau ”kurang ajar” kepada para pelayat. ”Posisi menghadap altar” berlaku untuk kaum beriman, awam, para suster, frater, dan bruder. Perhatikan bahwa pada suster, frater dan bruder, meskipun mereka sudah berkaul, tetap tidak termasuk mereka yang ditahbiskan.

Ketiga, di lain pihak, jenazah mereka yang sudah ditahbiskan disemayamkan dengan posisi kepala dekat dengan altar dan kaki berada pada bagian umat. Seolaholah, orang itu berada di altar dan menghadap ke umat seperti layaknya seorang yang ditahbiskan mengikuti perayaan Ekaristi. Sebutlah posisi ini sebagai ”posisi menghadap umat.” Meskipun jenazah sesungguhnya berada
pada panti umat, bukan di panti imam, tetapi posisi jenazah dipertahankan sesuai dengan status tahbisannya. Posisi ini berlaku untuk diakon, imam dan uskup. Pro-diakon atau asisten imam tidak termasuk dalam kelompok ini, karena mereka tidak ditahbiskan, tetapi hanya dilantik.

Keempat,
”posisi menghadap ke altar” dari jenazah orang yang tidak ditahbiskan memang bisa menimbulkan kesulitan ketika keluarga atau para sahabat ingin berdoa di hadapan jenazah itu. Sebenarnya ini bukan kesulitan, tetapi hanya perbedaan yang membutuhkan sedikit penjelasan.

Ketika jenazah disemayamkan di rumah duka, para pelayat datang menghadap jenazah itu dan berdoa kepada Tuhan untuk kesejahteraannya. Sedangkan ketika jenazah disemayamkan di rumah duka, kita bisa membayangkan bahwa orang yang sudah meninggal itu bersama-sama dengan umat lain menghadap Tuhan dan bersama-sama memohon pengampunan dan kebahagiaan kekal dari Tuhan. Posisi yang lebih baik dalam mendoakan ialah berdiri di samping peti jenazah.

Kelima, tidak lazim meletakkan jenazah itu sejajar dengan altar, artinya kaki dan kepala sama dekatnya dengan altar. Gagasan yang hendak ditampilkan dalam posisi jenazah ialah kehadiran dalam perayaan Ekaristi. Kita datang ke perayaan Ekaisti untuk menghadap Tuhan. Ungkapannya ialah wajah kita diarahkan kepada Tuhan yang hadir di altar.

Pastor Dr Petrus Maria Handoko CM




Kunjungan: 1128
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com