Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


TPA Indriasana Tangerang: Tiada Sekat Perbedaan - Hidup Katolik

TPA Indriasana Tangerang: Tiada Sekat Perbedaan

Kamis, 7 Maret 2013 14:11 WIB
TPA Indriasana Tangerang: Tiada Sekat Perbedaan
[Konradus R. Mangu]
Tak sekadar menitip: Ibu Taryono (kanan) dan Ibu Marius (kiri) bersama anak-anak di TPA Indriasana

HIDUPKATOLIK.com - Berawal dari keprihatinan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Wanita Katolik Republik Indonensia (WKRI) DKI Jakarta, melihat anak-anak kaum buruh ditinggalkan begitu saja oleh orangtua untuk bekerja.

Kehidupan keluarga kaum buruh yang memprihatinkan, membuat mereka mempercayakan anak-anaknya kepada orang lain untuk dijaga dan dirawat dengan kondisi apa adanya. Suasana rumah kontrakan kurang sehat dan anak-anak itu dibiarkan bermain di atas lantai tanah tanpa pengawasan yang lebih serius.

Keadaan tersebut menjadi titik awal pendirian Tempat Penitipan Anak (TPA) Indriasana I yang berlamat di Jl. Nusa Indah I Blok DB No 2 Keroncong Permai, Tangerang, Banten. Sesuai dengan namanya tempat ini digunakan sebagai tempat titipan anak-anak ketika orangtuanya sibuk bekerja di berbagai pabrik yang tersebar di Tangerang.

Koordinator TPA Indriasana I Keroncong dan II Pasar Kemis, M. L. Haryati Sutaryono, menceritakan awal pendirian TPA bermula dari gagasan sejumlah anggota DPD WKRI DKI Jakarta, sewaktu Nanik Purwoko, menjabat sebagai Ketua Presidium DPD WKRI DKI Jakarta. WKRI lalu membicarakan gagasan itu di KWI.

KWI menyambut positif rencana ini. Dengan modal semangat dan kasih WKRI mulai meniti karya ini untuk meningkatkan taraf kehidupan para karyawan pabrik.
Sebelum gagasan pendirian TPA Indriasana I dan II dalam suatu kunjungan DPD WKRI DKI Jakarta, mereka melihat langsung

Isu tak sedap
Setelah melihat keadaan memprihatinkan tersebut TPA Indriasana I Keroncong, Tangerang, resmi mulai beroperasi, pada 1 Maret 1996. Karya pelayanan ini tidak ditangani langsung oleh DPD WKRI DKI Jakarta melainkan WKRI Cabang Paroki St. Agustinus Karawaci Tangerang. Semua kepengurusan saat ini didomiasi oleh aktivis WKRI cabang paroki setempat.

’’Awal Maret 1996 TPA Indriasana menempati sebuah unit bangunan bertipe 45 yang adalah rumah milik Lembaga Daya Dharma (LDD) Keuskupan Agung Jakarta untuk melakukan karya cinta tulus ini,’’ tutur Ibu Taryono sapaan M. L. Haryati Sutaryono.

Seperti karya sosial lainnya yang dilakoni umat Katolik, awal pendirian TPA Indriasana I sempat menuai prasangka kurang sedap. Pihak pengelola Indriasana I menanggapinya dengan biasa-biasa saja. Menurut Ibu Taryono, pihaknya tidak pernah berpikir untuk membuat atau memaksa orang lain untuk menjadi Katolik. ’’Kami melakukan karya ini atas dasar sebuah kasih yang kokoh, tidak memandang agama tertentu tetapi memperhatikan semuanya dengan hati yang tulus,’’katanya.

Pada waktu dibuka, TPA baru menerima 15 anak. Semula anak-anak yang diterima berumur enam bulan sampai dengan tiga tahun. Namun atas permintaan para orangtua, anak-anak yang diterima dari enam bulan sampai dengan lima tahun.

Tata cara mendaftar untuk menitipkan anak di TPA Indrisaina I tidak sulit. Pelaksanana Harian TPA Indriasana I, Yuliana S. Yohannnes menjelaskan, bagi calon pengguna jasa TPA harus menyerahkan selembar fotokopi KTP, Kartu Keluarga, surat nikah, dan surat keterangan sehat dari dokter. Selanjutnya pihak TPA melakukan wawancara kemudian menentukan apakah anak itu layak atau tidak dititip di TPA.

TPA dengan moto dan semangat kasih yang terus berkobar menerima dari semua kalangan dari berbagai agama. Buktinya walaupun dikelola orang Katolik yang banyak menggunakan jasa ini juga berasal dari keluarga Islam. ’’Kami melayani semuanya dengan tulus ikhlas tanpa membeda-bedakan. Kami melakukan dengan senyum, sapa dan saling meneguhkan,’’tambah Yuliana.

Sebagai anggota masyarakat dan untuk menunjukkan eksistensi TPA, menurut Yuliana pihaknya selalu mengikuti kegiatan bila ada program RT/RW dan kelurahan. Biasanya kalau ada penarikan iuran, kerja bakti pihaknya selalu berpartisipasi. Menurutnya hingga kini hubungan TPA dengan masyarakat sekitar baik-baik saja. Bahkan Yuliana sendiri terlibat langsung dalam kegiatan PKK di tingkat kelurahan sebagai perwakilan dari TPA.

Animo masyarakat terhadap TPA boleh dikatakan meningkat dan mendapat kepercayaan banyak pihak. Buktinya banyak warga yang banyak menggunakan jasa TPA menitipkan anaknya.

Kini WKRI memperluas jangkauan pelayanannya. Setelah dua tahun berkarya TPA Indriasana I disusul pembukaan TPA Indriasana II berlokasi di Jl Bremis, Pasar Kemis, Tangerang. TPA tersebut menampung sebanyak 30 anak sedangkan di Keroncong hanya menampung 15 anak.

Jumlah anak di TPA Pasar Kemis lebih banyak karena terletak persis di tengah pemukiman karyawan pabrik. Untuk itu jumlah pengasuh di TPA I Keroncong dua orang, seorang pelaksanan harian dan seorang pembantu umum. Sedangkan di TPA Indrasiana II terdiri dari dua pelaksana harian, empat pengasuh dan seorang pembantu umum.

Pengalaman unik
Walaupun TPA Indriasiana baru berumur sepuluh tahun lebih, ada suatu pengalaman unik yang tidak dilupakan begitu saja. Ibu Taryono menceritakan ada sebuah keluarga yang telah dikaruniai seorang putera. Dalam perjalanan waktu keluarga ini menghadapi masalah pelik, dilanda keretakan lantaran suami memiliki wanita idaman lain. Keduanya akhirnya memilih berpisah.

Selanjutnya mantan istrinya itu menjadi kebingungan karena tidak memiliki pekerjaan tetap dan harus membiayai hidupnya serta puteranya tercinta. Ibu muda ini berniat mencari pekerjaan. Ia mendatangi TPA dan menceritakan persoalannya. Ibu ini kemudian menitip anaknya dan ia mencari pekerjaan.

Pada waktu itu semua pengasuh, pengelola TPA Idrasiana bersama-sama tekun berdoa kepada Tuhan agar suatu ketika ayah anak itu bisa bersatu dan berkumpul kembali. Doa-doa yang didaraskan itu ternyata didengarkan Tuhan. Ayah yang telah berpisah dengan anaknya selama beberapa tahun akhirnya memiliki kerinduan bertemu dengan buah hatinya.

Ayahnya itu mencari tahu di mana anaknya itu tinggal setelah mengetahui mantan istrinya bekerja di sebuah pabrik di Tangerang. Akhirnya keluarga ini dipertemukan di TPA Indriasana. Hati kedua insan dulu bersikeras untuk berpisah kini berangsur mulai ‘dingin’. Sang suami kemudian menyadari kekhilafannya. Selanjutnya pasangan suami istri yang telah berpisah itu akhirnya sepakat untuk rujuk dalam suasana bahagia.

’’Pengalaman menghadapi anak dari pasangan bercerai ini kemudia mereka dipersatukan kembali merupakan pengalaman kami yang paling berkesan. Artinya keberadaan TPA saat ini sangat dibutuhkan masyarakat,’’ujar Ibu Taryono.

Nilai hidup positif
Yuliana S. Yohannes mengatakan soal kegiatan anak di TPA Indriasana tidak jauh berbeda dengan kegiatan umumnya ketika anak diasuh di rumah. Misalnya memberikan susu, memandikan, menyikat gigi, makan bersama, bermain, tidur, menonton, bernyanyi dan kegiatan positif lainnya. Anak-anak lebih banyak waktu adalah bermain. Kami berusaha menanamkan nilai-nilai sikap positif seperti kerja sama, cinta kasih, saling menghormati, empati, bertanggung jawab, serta kemandirian. Kegiatan ini dilakukan bersama-sama dengan teman-temannya.

Irwandoko, salah satu orangtua yang menitipkan anaknya di TPA Indriasana mengisahkan pengalamannya sejak menitipkan anaknya di TPA Indriasana I. Puteranya mengalami perubahan. Ia menjadi anak mandiri. Misalnya makan dan buang air besar dilakukan sendiri.

Untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan setiap kali datang menyerahkan anak dan menjemput anak, orangtua wajib menandatangani buku sebagai bukti anak sudah dijemput. Kecuali sebelumnya sudah ada penyampaian bahwa nanti akan dijemput bukan orangtuanya.

Biaya penitipan anak di tempat ini memang tidak menguras kocek. Cukup mengeluarkan uang Rp 100.000,- per bulan. Uang itu digunakan untuk biaya peningkatan gizi dan penambahan jumlah fasilitas permainan anak di TPA tersebut.
Pengelola TPA berharap tempat penitipan ini tidak hanya sebagai tempat penitipan saja tetapi hal-hal positif yang dilakukan anak selama berada di TPA dapat dilanjutkan orangtuanya di rumah.

Taryono dan Yuliana Yohannes berharap, TPA Indriasiana I dan II tetap eksis karena pelayanan ini berlandaskan kasih serta bertujuan mengangkat derajat kaum buruh yang selama ini termarjinalkan.

Konradus R. Mangu




Kunjungan: 1035
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com