Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Pastor Dr Markus Solo Kewuta SVD: Dari Lewouran Menuju Vatikan - Hidup Katolik

Pastor Dr Markus Solo Kewuta SVD: Dari Lewouran Menuju Vatikan

Jumat, 8 Maret 2013 14:26 WIB
Pastor Dr Markus Solo Kewuta SVD: Dari Lewouran Menuju Vatikan
[HIDUP/Heri Kartono OSC]
Pastor Dr Markus Solo Kewuta SVD

HIDUPKATOLIK.com - Ketika ia ditugaskan studi Islamologi, diam-diam ayahnya gelisah. Sang ayah tidak setuju anaknya menggumuli bidang yang menurutnya berbahaya. Kini, justru karena bidangnya itu, Dr Markus Solo duduk sebagai anggota Dewan Kepausan.

Kegelisahan sang ayah tampaknya cukup beralasan. Ia sering mendengar berbagai kerusuhan bernuansa agama di banyak tempat. Karena itu ia sempat meminta Markus Solo, anaknya, untuk menghentikan studi Islamologi dan bahasa Arab. Markus yang menaruh hormat pada ayahnya, kala itu tak dapat memenuhi permintaan ayahnya. Ketaatannya pada pimpinan tarekat lebih diutamakan daripada memikirkan keselamatan pribadi.

Pada bulan Juli tahun lalu, Markus Solo Kewuta resmi diangkat menjadi anggota Dewan Kepausan untuk Dialog Antar Agama. Andai ayahnya masih hidup, pastilah ia akan bangga melihat anaknya menjadi orang Indonesia pertama yang duduk dalam jabatan terhormat itu.

Markus lahir di kampung Lewouran, Flores Timur (4/8/68). Ayahnya, Nikolaus Kewuta adalah seorang petani sederhana sementara ibunya Getrurd bekerja sebagai ibu rumah tangga. Kedua orangtua ini telah meninggal dunia. Ayahnya meninggal tahun 2005 sedangkan ibunya tahun 1985. Markus adalah anak bungsu dari lima bersaudara.

Saudara sulungnya, Yosef Bukubala adalah seorang imam SVD juga. Markus mengaku, cita-citanya menjadi imam tumbuh saat mendengarkan kisah-kisah menarik tentang seminari yang disampaikan kakak sulungnya ini. ”Perjalanan panggilan kakak saya menjadi motivasi sekaligus inspirasi bagi saya juga”, ujar penggemar sepakbola ini.

Pulau Flores, khususnya di kampung halamannya, mayoritas penduduk beragama Katolik. Tidak banyak umat dari agama lain. Markus mulai menyadari kenyataan pluralitas Indonesia melalui buku-buku yang dibacanya. Lelaki yang selalu menjadi juara kelas ini memang rajin membaca sejak Sekolah Dasar. Mulai saat itu, ia juga tertarik mengenal agama lain khususnya Islam.

Mengenal Islam
Keinginan Markus mengenal agama Islam mulai terpenuhi saat mengikuti kuliah Islamologi di Seminari Tinggi Ledalero. Selesai studi Filsafat di Ledalero, ia meneruskan studi Teologi di Austria (1992-1997). Di Austria, ketertarikannya pada Islam tetap melekat. Skripsi yang ia tulis juga berkaitan dengan agama Islam, judulnya: Humanisierung der Handhabung des Gesetzes im Koran (Humanisasi Penerapan Hukum Agama Islam dalam al-Qur’an).

Setelah memperoleh gelar Master Teologi, Markus sempat bekerja di sebuah paroki di Propinsi Salzburg, Austria, tempat kelahiran pemusik terkenal Wolfgang Amadeus Mozart, selama dua tahun. Tahun 1999 ia melanjutkan studi Doktorat Teologi Fundamental di Universitas Innsbruck, Austria. Tahun 2002 ia berhasil meraih gelar Doktor Teologi dengan predikat Summa Cum Laude.

Pimpinan tarekat tampaknya mengamati, Markus mempunyai minat besar pada masalah dialog agama terutama dengan Islam. Karena itu, kendati Markus telah meraih gelar doktor di bidang teologi, pimpinannya menugaskan lagi untuk studi Bahasa Arab dan Islamologi. Untuk itu, ia sempat studi di Kairo, Mesir, kemudian di PISAI (Pontifical Institute for Arabic and Islamic Studies) Roma. Markus menyelesaikan studi ini sampai tingkat Licensiat.

Ketika studi di Kairo (2002-2003), imam bertubuh bongsor ini berkenalan dengan Presiden PCID (Pontifical Council for Interreligious Dialogue atau Dewan Kepausan untuk Dialog Antar Agama) Mgr Michael Fitzgerald, yang sedang melawat ke Kairo. Beberapa tahun kemudian (2005) saat Dewan Kepausan menyelenggarakan Konferensi Internasional Dialog Antar Agama di Wina, Austria, Markus Solo juga diundang.

Waktu itu, Markus memang sudah kembali ke Austria dan bertugas sebagai Rektor Institut Afro-Asia di Wina. Mgr Fitzgerald sendiri yang mengundang Markus. Pada kesempatan itu Markus diperkenalkan dengan tokoh-tokoh PCID dan peserta konferensi yang lain. (Mgr Fitzgerald kini beralih tugas sebagai Nuntius di Mesir).

Penasihat Paus
Pertemuan dengan para tokoh PCID itu amat menentukan perjalanan Markus selanjutnya. Rupanya PCID melihat mantan Ketua Irrika (Ikatan Rohaniwan/ wati Indonesia di Kota Abadi) ini sebagai sosok yang tepat untuk duduk sebagai anggotanya.

Setelah melewati proses screening, termasuk wawancara, Januari 2007 Markus mendapat panggilan untuk bergabung dengan PCID. ”Rasanya seperti mimpi. Saya tak pernah membayangkan dapat bergabung dalam tim Penasihat Sri Paus”, tutur Markus yang fasih berbahasa Jerman, Italia, Inggris, dan Arab ini.

Juli 2007, Markus, yang kerap disapa Padre Marco, diterima resmi bekerja di PCID. Ia menempati Desk Dialog Kristen-Islam untuk wilayah Asia, Amerika Latin dan Afrika Sub-Sahara. Tugas utamanya adalah memantau serta mengikuti perkembangan Dialog Kristen-Islam di wilayah tersebut. Informasi yang ia peroleh lewat berbagai jalur, ia observasi dan simpulkan untuk kemudian diserahkan pada Presiden PCID.

Informasi tersebut diteruskan juga ke Sekretariat Vatikan. Tugas lain yang tak kalah penting adalah menyiapkan berita-berita tertulis (instructions) untuk setiap Nuntius (Duta Besar Vatikan) baru di wilayah tanggungjawabnya. Selain itu, bersama rekan PCID yang lain, Markus ikut menerima kunjungan ad-Limina para uskup seluruh dunia.

Pertemuan dengan para uskup tersebut merupakan ajang tukar informasi tentang perkembangan mutakhir dialog Kristen-Islam. Selain itu, PCID juga memberikan peneguhan serta motivasi kepada para uskup untuk terus mempromosikan dialog.

Ciptakan Lagu
Bekerja di lingkungan Vatikan menuntut kerja keras serta disiplin tinggi. Markus yang doyan makan kentang ini, bekerja dari Senin hingga Sabtu. Kantornya terletak di depan Basilika Santo Petrus, Vatikan. Hari Minggu adalah satu-satunya hari untuk beristirahat.

Biasanya ia mengisi waktu luangnya untuk mengembangkan hobinya di bidang musik. Sejak kecil ia memang senang bernyanyi. Ketika masuk seminari, Markus sudah mampu memimpin kor bahkan menciptakan lagu. Sudah cukup banyak lagu rohani yang ia ciptakan, salah satunya adalah lagu Bawalah Daku ke Sion. Lagu ini ia gubah tahun 1992.

Hobi Padre Marco dalam hal musik sempat membawanya masuk dapur rekaman. Kaset pertamanya dikeluarkan tahun 2001, bersama salah seorang keponakannya. Kaset tersebut berisi lagu-lagu pop daerah Flores Timur. Sekarang ini ia sedang menantikan DVD terbarunya bernama Album Agora Volume 1. Album yang dibuat bersama rekan-rekan imam SVD ini berisi lagu-lagu rohani dalam bahasa Italia, Jerman, dan Indonesia.

Beberapa lagu merupakan ciptaannya sendiri dan sebagian lagi merupakan terjemahan lagu-lagu Italia dengan aransemen baru. Markus merasakan, hobinya di bidang musik ini merupakan selingan yang segar dan seimbang dari tugas-tugasnya yang cukup berat.

Menjadi orang Indonesia pertama yang duduk dalam Dewan Kepausan untuk Dialog Antar Agama merupakan kebanggaan tersendiri. Markus menyadari, tugas yang diembannya tergolong berat. Ia tak tahu apa yang akan terjadi kelak pada dirinya. Namun, ia tahu bahwa dirinya harus bekerja keras dengan semangat pengabdian total. Itulah sumbangsih yang dapat ia berikan untuk Gerejanya yang ia cintai.

Biodata
1975- 1981 : SD di Lewouran
1981 – 1984 : SMPK Ilebura Lewotobi
1984 – 1988 : Seminari Menengah San Dominggo di Hokeng, Flores Timur
1988: Masuk Novisiat SVD di Nenuk, Pulau Timor dan melanjutkan studi Filsafat dan Teologi di Seminari Tinggi Santo Paulus Ledalero, Flores. Setelah menyelesaikan Filsafat di Ledalero, melanjutkan studi Teologi di Sekolah Tinggi Teologi milik SVD di Austria.
1992 – 1997 :
Menyelesaikan studi Teologi di Austria, meraih Magister Teologi dan ditahbiskan menjadi imam di Austria, 3 Mei 1997.
1997 – 1999 :
Menjadi Kapelan di Paroki Sankt Maximilian di Bischofshofen, Propinsi Salzburg, Österreich.
1999 – 2002 :
Studi Doktorat Teologi Fundamental di Universitas Innsbruck, Austria.
2002 – 2003 :
Studi Islamologi dan Arabistik di Kairo, Mesir.
2003 – 2005 :
Melanjutkan Studi Islamologi dan Arabistik di Institut Kepausan ”PISAI” (Pontifical Institute for Arabic and Islamic Studies) di Roma, Italia (meraih gelar Licensiat).
2005 – 2006 :
Kapelan di Paroki Tritunggal Maha Kudus Distrik X Wina, Austria sekaligus Referent untuk Dialog Kristen-Islam di Dioses Agung Wina.
2006 – 2007 :
Rektor Institut Afro-Asia di Wina, Austria.
Sejak Juli 2007:
Anggota Dewan Kepausan untuk Dialog Antar Agama (Pontifical Council for Interreligious Dialogue - PCID) menangani Desk Dialog Kristen-Islam di wilayah Asia, Amerika Latin dan Afrika Sub-Sahara.

Heri Kartono OSC




Kunjungan: 2232
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com