Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Tekanan dari Teman Sebaya - Hidup Katolik

Tekanan dari Teman Sebaya

Jumat, 15 Maret 2013 16:37 WIB
Tekanan dari Teman Sebaya
[rehaansays.blogspot.com]

HIDUPKATOLIK.com - Ibu Ita yang baik!
Saya, Dian, ingin menceritakan persoalan tentang anak saya Deta. Dia adalah satu-satunya anak perempuan dan saat ini duduk di kelas delapan. Dia punya dua kakak laki-laki. Akhir-akhir ini ia seringkali murung dan terkadang cepat tersinggung. Pernah sepulang kerja, saya menemukan Deta menangis di kamarnya. Saat ditanya baik-baik, Deta hanya diam dan menggelengkan kepalanya tanda tidak ingin diganggu.

Hal ini cukup membingungkan saya. Selama satu minggu saya dekati Deta, barulah ia mau cerita. Deta sedih dan jengkel karena masih ”jomblo” tidak seperti dua orang teman dekatnya. Kedua temannya itu selalu mengucapkan sindiran-sindiran kepada Deta,

”Ngapain …. jomblo ?”, ”Nggak seru ah….. jomblo, kayak Deta.”

Deta mempunyai banyak teman baik laki-laki dan perempuan. Tetapi, saya dan suami beranggapan belum saatnya untuk putri kami yang baru berusia 13 tahun berpacaran. Hal itu jadi masalah bagi Deta dan membuatnya sedih serta jadi tertutup karena ”tekanan” teman-temannya dirasakan begitu ”kuat”.


Kejadian yang dialami Deta dan ibunya, tidak sedikit terjadi di lingkungan sekitar kita. Banyak remaja ingin melakukan sesuatu seperti merokok, membolos, memilih model pakaian, gaya hidup, mencoba drugs, dll, karena pengaruh teman sebayanya.

Tekanan teman sebaya adalah tekanan sosial dari sekelompok orang yang mengharuskan seseorang bertindak dan berpikiran dengan cara tertentu agar ia dapat diterima oleh kelompok tertentu. Tekanan teman sebaya (peer pressure) seringkali membuat anak bingung, seperti dalam kasus Deta yang bingung apakah ia mengambil keputusan ”berpacaran” atau ”tidak berpacaran”. Bila mengambil keputusan berpacaran, maka Deta akan sama dengan teman-teman akrabnya, tetapi ”berahasia” dengan ibu dan ayahnya.

Bila mengambil keputusan tidak berpacaran, ia akan ditekan terus oleh teman dekatnya dengan sindiran-sindiran atau menjadi bahan ”olok-olok” temannya yang mungkin membuatnya merasa lebih tertekan lagi, karena ”tidak sama” dengan teman-temannya.

Dalam obrolan singkat dengan remaja seusia Deta, saya memperoleh masukan bahwa mereka (remaja) memiliki alasan-alasan saat memilih untuk ”sesuai” dengan teman-temannya, kebanyakan dari mereka mengatakan ”solider” dengan teman, setia kawan, ada juga yang berkomentar, ”biar asyik aja…..” bisa bareng dengan teman, biar bisa diterima teman, biar nggak ”kuper”. Ada juga yang menjawab takut tidak mempunyai teman.

Namun, ”tekanan” teman sebaya ini bisa juga berupa hal positif, seperti tekanan untuk tetap kompak menjadi the best di kelas pada dua orang atau lebih teman dekat. Jika yang dialami anak adalah tekanan teman sebaya yang bersifat positif, hal ini tidak terlalu menjadi masalah. Lain halnya jika sebaliknya, tekanan yang bersifat negatif ini boleh jadi menjadi beban buat anak/remaja, di satu sisi mereka ingin melakukannya (karena ingin diterima teman), tapi di sisi lain tidak ingin melakukannya karena berbeda dengan prinsip mereka atau aturan yang telah mereka miliki. Bila hal semacam ini terjadi maka mereka akan merasa tertekan, serba salah dan tidak nyaman, yang dapat muncul dalam beberapa perilaku, seperti menarik diri dan murung. Juga mengakibatkan orangtua menjadi cemas dan khawatir tentu saja.

Tekanan teman sebaya secara nyata sering terjadi dalam kehidupan anak dan remaja. Tekanan tersebut mempunyai pengaruh besar pada anak usia sekolah. Namun, itu merupakan hal yang biasa terjadi.

Enam langkah
Sebagai orangtua, apa yang harus dilakukan bila anak mengalami hal tersebut? Ada enam langkah yang bisa dilakukan orangtua. Pertama, melakukan pengasuhan yang positif sedini mungkin. Dengan pengasuhan positif anak akan berkembang menjadi pribadi yang memiliki citra diri positif yang tentu saja akan terlindungi dari tekanan teman sebaya jika dibandingkan dengan anak yang memiliki citra diri negatif. Dalam kasus Deta, bagi keluarga khususnya ayah dan ibu Deta serta kedua kakaknya, tidak ada kata terlambat untuk memulai atau meneruskan pengasuhan positif dalam keluarga.

Kedua, memberikan masukan pada anak untuk mendekati teman-teman yang ”sesuai”, karena bergaul dengan teman yang sesuai tentu saja ada kemiripan atau kesamaan tentang nilai-nilai dan aturan dalam keluarga yang telah mereka miliki sehingga tekanan teman sebaya tersebut diharapkan berdampak positif bagi anak. Dalam kasus Deta, hal ini juga dapat dilakukan ayah dan ibu untuk memberikan masukan tentang pergaulan Deta.

Ketiga, doronglah anak untuk bergaul seluas-luasnya. Namun, jangan lupa jadilah sumber informasi dan pertimbangan bagi anak. Dengan pergaulan yang luas anak tidak akan merasa takut kehilangan teman bila dihindari sekelompok teman yang melakukan tekanan negatif. Namun, anak bertahan untuk tidak melakukan tuntutan temannya. Peran orangtua di sini memberikan masukan tentang konsekuensi dari keputusan yang dibuat anak. Hal ini juga dapat dilakukan oleh orangtua Deta.

Keempat, ajaklah anak untuk memiliki kepekaan tentang perasaannya sendiri, sehingga ketika dalam pergaulan sehari-hari anak merasa ”tidak nyaman” dengan salah seorang temannya, anak akan menyadarinya sendiri karena ia telah terlatih sehingga dapat mencari jalan keluar dengan berdiskusi dengan orangtua atau saudara dekatnya.

Kelima,
diharapkan orangtua dan kakak dapat menjadi partner yang positif dalam berkomunikasi. Perlu pembiasaan hal tersebut sejak usia dini. Hal ini juga perlu diupayakan orangtua terus-menerus.

Keenam,
kenalkan kepada anak beberapa alternatif untuk menghindari tekanan teman sebaya (peer pressure) yang negatif seperti dengan cara humor. Misalnya, Deta dapat menjawab teman-temannya dengan humor, ”Pacaran? Bisa-bisa aku pusing tujuh keliling, biar aku berteman saja dulu.” Mudah-mudahan dengan dengan sikap yang tegas teman akan respek pada anak.

Dra Yang Roswita MSi, Psi




Kunjungan: 820
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com