Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Asal-usul Jalan Salib - Hidup Katolik

Asal-usul Jalan Salib

Selasa, 19 Maret 2013 15:39 WIB
Asal-usul Jalan Salib
[spreadjesus.org]

HIDUPKATOLIK.com - Dalam Masa Prapaskah, seringkali diadakan ibadat Jalan Salib. Dari mana asal-usul devosi ini? Apakah maknanya untuk hidup kita saat ini?

Albertus Suryantono, Surabaya

Pertama, asal-usul devosi Jalan Salib dapat ditelusuri sampai pada awal Kekristenan. Sesudah menemukan Salib Kristus pada tahun 325, Santa Helena, Ibu Kaisar Konstantinus, mencari makam Yesus yang terlupakan. Diilhami oleh mimpi, akhirnya Santa Helena menemukan makam Yesus, yaitu di bukit di mana terdapat kuil yang dibaktikan kepada Dewi Aphrodite. Di situ ditemukan sebuah gua makam yang kecil.

Kuil tersebut kemudian dihancurkan dan dibangunlah sebuah gereja. Segera tempat itu menjadi pusat ziarah orang-orang Kristen. Seiring dengan itu, berkembanglah sebuah bentuk devosi yang menelusuri jejak perjalanan Yesus yang ditempuh sebelum disalibkan, yaitu dari Benteng Antonia sampai ke Kalvari dan berakhir di Makam Suci. Napak tilas jejak Yesus itu disertai dengan meditasi mengenangkan sengsara Kristus. Pelan-pelan Gereja meresmikan devosi saleh ini dan memberikan indulgensi penuh pada devosi ini.

Tidaklah mudah mencapai Yerusalem untuk mengunjungi Makam Suci ini dan melakukan napak tilas jejak Yesus. Ini disebabkan oleh jarak yang jauh, biaya yang tidak murah dan belum lagi bahaya yang muncul setelah kaum Muslim menguasai Tanah Suci. Maka Gereja mengizinkan membuat semacam Makam Suci di pelataran gereja atau di biara atau di pertapaan. Dibuatlah peristiwa-peristiwa utama sengsara Yesus. Juga diberikan pahala suci atas ziarah atau devosi yang dilakukan. Namun hal ini juga tidak mudah dilakukan oleh mereka yang hidup jauh dari Gereja atau Biara.

Pada abad XIV, biarawan-biarawan Fransiskan menemukan pemecahan yang praktis, yaitu mendirikan stasi-stasi Jalan Salib di paroki-paroki dengan ijin dari Takhta Suci. Salib-salib kayu sederhana ditancapkan untuk memperingati peristiwa-peristiwa penting dalam sengsara Kristus. Pelan-pelan, stasi-stasi itu dilengkapi dengan gambar. Jumlah stasinya beraneka sampai Paus Clemens XII menetapkannya sebanyak empatbelas pada tahun 1731. Bapa Suci juga memberi izin untuk membuat stasi-stasi Jalan Salib itu di setiap gereja. Versi yang lama mulai dengan pengadilan oleh Pilatus sampai Yesus dimakamkan. Sekarang ada versi baru, yang mulai dengan Perjamuan Malam Terakhir dan berakhir dengan Kebangkitan Tuhan.

Kedua, apa maknanya? Ibadat Jalan Salib mengajak kita masuk dalam peristiwa-peristiwa yang dialami Yesus dalam sengsara-Nya sampai Dia wafat dan dimakamkan. Yesus mengajak murid-murid-Nya, untuk ”memanggul salibnya” dan mengikuti Dia (Mat 16:24). Kristus telah menderita untuk kita dan telah meninggalkan teladan bagi kita, supaya kita mengikuti jejak-Nya memanggul salib (1 Ptr 2:21). Inilah syarat yang diminta Yesus agar kita pantas disebut murid-murid-Nya (Mrk 8:34).

Melalui renungan akan Jalan Salib Tuhan, kita diundang menyadari betapa berharganya penderitaan dan sengsara yang dilakukan Tuhan Yesus untuk menebus dosa-dosa kita. Bilur-bilur yang ditanggung-Nya dan tetesan darah yang dikucurkan-Nya memberi kita hidup kekal. Kurban Kristus mendamaikan kita dengan Allah. Ia ingin mengikutsertakan kita dalam kurban ini, karena kita adalah ahli waris-Nya (Mrk 10:39). Diharapkan lahirlah sikap syukur dan terimakasih atas pengorbanan dan kasih Yesus yang begitu besar.

Ketiga, selain mengajak kita menyesali dosa-dosa kita yang ditanggung bebannya oleh Yesus, ibadat Jalan Salib juga mengajak kita menjadi peka dan solider dengan sesama, khususnya yang menderita. Simon dari Kirene dan Veronika menunjukkan keberanian yang luar biasa untuk membantu Tuhan yang sedang menderita. Keberanian itu seringkali menuntut pengorbanan, bukan hanya susah payah fisik, tetapi juga harga diri, tenaga, uang, bahkan kemapanan dan masa depan, dll. (bdk Luk 10:25-37). Teladan Yesus sendiri tak kalah mengagumkan. Meskipun tengah menderita begitu hebat, Yesus masih sempat menghibur perempuan-perempuan yang menangisiNya (bdk. Luk 23:28). Lebih dari itu, di puncak salib, setelah disiksa begitu keji, Yesus masih sempat mengingat kesejahteraan para penyiksanya, yaitu dengan memohonkan ampun untuk mereka (Luk 23:34). Kepekaan kepada sesama, khususnya yang menderita mengingatkan kita pada ajaran Yesus bahwa segala sesuatu yang kita lakukan untuk salah seorang saudara yang paling hina, kita lakukan untuk Dia (Mat 25:45).


Pastor Dr Petrus Maria Handoko CM




Kunjungan: 1271
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com