Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Kolese Le Cocq d'Armandville: Melanjutkan Karya Misi Sang Pionir - Hidup Katolik

Kolese Le Cocq d'Armandville: Melanjutkan Karya Misi Sang Pionir

Selasa, 19 Maret 2013 11:26 WIB
Kolese Le Cocq d'Armandville: Melanjutkan Karya Misi Sang Pionir
[NN/Dok. Kolese Le Cocq]
Mandiri: Anak-anak Asrama Putra Taruna Karsa sedang berternak sapi.

HIDUPKATOLIK.com - Nama misionaris pionir Serikat Yesus (SJ) di Papua, Le Cocq d’Armandville (1846-1896) dipilih sebagai nama kolese yang dikelola SJ di Nabire, Papua. Kolese ini menjadi salah satu tanda kelanjutan karya misi sang pionir.

Tahun 1896, C.F.C. Le Cocq d’Armandville SJ mulai menaburkan Injil di Papua. Sebelumnya, misionaris Yesuit Belanda ini berkarya di Semarang, Jawa Tengah (1879-1881). Ia juga pernah berkarya sebagai pastor paroki di Maumere, Flores, NTT (1882-1884) dan Sikka, Flores (1884-1891), tempat ia diserang dan mendapat luka berat karena terkena peluru.

Setelah meninggalkan Flores, ia merintis misi di Pulau Seram (1888) dan Watubela (1893/95), Maluku. Meski usahanya tersebut kurang berhasil, Pater Le Cocq melanjutkan misinya. Ia merintis misi di Papua. Ia berhasil mengumpulkan sejumlah kecil umat Katolik di Kapaur, Teluk Berau, Papua.

Saat itu, kondisi fisiknya semakin lemah, tapi ia tetap berencana menanamkan Injil di Kipya, Pantai Mimika, Papua Selatan. Kemudian, ia menyewa kapal AlBahanasa, milik seorang pedagang dari Banda.

Menurut cerita sang kapten, Pater Le Cocq tewas ditelan ombak Pantai Mimika dan jasadnya tidak ditemukan. Tetapi, seorang perempuan Papua saat sudah sedikit mengerti bahasa Kei, dengan gerak-geriknya menyatakan bagaimana Pater Le Cocq diserang dari belakang dengan parang, lalu dibunuh. Kematian tragis dan kurang jelas ini merupakan akhir karya misinya di Papua.

Melanjutkan karya
Kematian sang pionir bukan akhir dari karya misi SJ di tanah Papua. Para imam SJ melanjutkan karya misi yang sudah disemai Pater Le Cocq. SJ menginginkan untuk membuat sekolah sendiri di Papua. Namun, setelah berdiskusi dengan tokoh masyarakat setempat dan pihak Keuskupan Jayapura, SJ memutuskan untuk mengelola lembaga pendidikan yang sudah berjalan di keuskupan setempat dengan ciri khas Yesuit.

Seiring waktu, tugas pelayanan itu dirasa membutuhkan tenaga yang tidak sedikit. Akhirnya, SJ memutuskan hanya mengelola SMA Adhi Luhur Nabire, Papua. SMA tersebut berada di bawah kolese yang diberi nama Le Cocq d’Armandville. Kolese ini dipimpin oleh seorang rektor yang sekaligus adalah Superior SJ di Papua, Robertus Sugijanta Sarto Pandoyo SJ.

Awalnya, SMA Adhi Luhur Nabire dikelola pihak Keuskupan Jayapura, di bawah naungan Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik Tilemans (YPPK). Waktu itu, Nabire masih termasuk wilayah Keuskupan Jayapura. Sejak 19 Desember 2003, Nabire masuk dalam wilayah Keuskupan Timika, yang merupakan pemekaran dari Keuskupan Jayapura.

Selain membawahi SMA Adhi Luhur Nabire, kolese ini juga membawahi Asrama Putra Taruna Karsa dan Asrama Putri Santa Theresia, peternakan dan bengkel St Alphonsus Rodriguez, serta Wisma SJ yang menjadi tempat tinggal para Yesuit yang mengelola pendidikan ini.

Menurut Kepala SMA Adhi Luhur, Vincentius Seno Hari Prakoso SJ, dengan
mengelola SMA menjadi lebih mudah untuk mendeteksi siswa yang mempunyai kemampuan cukup untuk disekolahkan ke tingkat lebih lanjut. “Kami bekerjasama dengan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Jika ada siswa berprestasi, kami akan memberikan beasiswa studi lanjut ke Sanata Dharma,” ujar imam kelahiran 5 April 1970 ini.

Tahun 2012, dua orang mendapat beasiswa untuk studi fisika dan matematika
di Universitas Sanata Dharma. Setelah lulus, mereka akan menjadi guru di SMA Adhi Luhur.

Saat ini, siswa SMA Adhi Luhur berjumlah 289 orang: 65 persen asli Papua dan 35 persen pendatang. Mereka mendapatkan pelajaran sesuai dengan kurikulum, ditambah pengembangan kesenian dan keterampilan ala Papua.

Asrama putra
Untuk membantu dan menunjang pendidikan anak-anak di Papua, SJ mendirikan Asrama Putra Taruna Karsa pada 1989. Ide pembangunan asrama lahir dari sekelompok awam yang merupakan pengurus Dewan Paroki Kristus Sahabat Kita Nabire.

Asrama ini dikhususkan bagi anak-anak dari Bomomani, Waghete, Moanamani, dan Paniai yang letaknya sangat jauh dari Nabire. Dari Bomomani, tempat yang paling dekat dengan Nabire, berjarak sekitar 180 km. Jarak ini hanya bisa ditempuh dengan pesawat terbang dan berjalan kaki.

Direktur Asrama Taruna Karsa, Br Norbertus Mujiyana SJ, mengungkapkan
bahwa sekarang mereka yang diterima di asrama adalah anak yang berasal dari pedalaman Papua dan diterima menjadi murid SMA Adhi Luhur.

Proses pembinaan anak-anak di asrama disesuaikan dengan latar belakang anak-anak. Secara umum, ada dua aspek yang dikembangkan. Pertama, aspek kognitif yang meliputi kegiatan-kegiatan akademis. Selain pelajaran formal di sekolah, diadakan juga seminar intern. Artinya, anak-anak asrama sendiri yang menjadi narasumber, moderator, dan peserta. Kegiatan ini dilakukan setiap Minggu.

Kedua, aspek psikomotorik yang meliputi kegiatan-kegiatan keterampilan. Karena anak-anak ini sudah terbiasa berkebun dan berternak, di asrama pun
disediakan lahan untuk itu. Wisma SJ yang menempati lahan seluas 3,5 hektar
cukup menyediakan tempat untuk praktik berkebun dan berternak.

Di bagian belakang wisma, ada beberapa hewan ternak dan lahan seluas setengah hektar yang ditanami rumput gajah. Anak-anak asrama bertugas memelihara hewan ternak dan merawat tanaman ini. “Ini sangat berguna agar anak-anak tidak tercabut dari akarnya. Meski di kota, mereka dapat merasakan bahwa di sini juga rumahnya,” ujar guru bimbingan konseling SMA Adhi Luhur ini.

Asrama putri
Tahun 1993, SJ juga mendirikan Asrama Putri St Theresia. Saat ini, asrama putri dihuni 34 orang. Mereka diajarkan keterampilan memasak, menjahit, menyulam, menganyam noken (tas dari serat kulit kayu yang biasa dipakai dengan menggantungkannya di kepala), dan membuat hosti. Sehari-hari para suster Abdi Kristus membantu di asrama ini.

Sejak masuk asrama, anak-anak diajarkan etiket paling dasar, seperti makan di meja makan, mandi, dan sikat gigi. “Anak-anak pedalaman tidak terbiasa makan di meja makan dan mandi,” ujar Br Norbertus, yang bertugas di Nabire sejak 2010.

Studi terbimbing diberikan kepada murid semester I. Tujuannya agar mereka dapat mengejar pelajaran yang tertinggal. Biasanya mereka diajarkan pelajaran matematika, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan membaca Kitab Suci.

Secara struktural organisasi, SMA Adhi Luhur dan asrama tidak saling berhubungan. Tetapi, kehadiran asrama sangat membantu dan menunjang pendidikan murid-murid SMA Adhi Luhur.

Salah seorang penghuni asrama putra, Sebedeus Mote (16), menuturkan sudah lima bulan ia tinggal di asrama. “Di sini banyak pengetahuan yang saya dapatkan. Sebelumnya, di SMP saya sulit berkomunikasi dengan orang, tetapi sekarang sudah jauh lebih lancar,” ungkap alumnus SMP YPPK St Fransiskus Moanemani ini.

Aprianita Ganadi




Kunjungan: 828
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081318544200 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Info iklan | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com