Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Persika: Tetap Bergerak Kendati Dana Cekak - Hidup Katolik

Persika: Tetap Bergerak Kendati Dana Cekak

Rabu, 20 Maret 2013 16:08 WIB
Persika: Tetap Bergerak Kendati Dana Cekak
[HIDUP/Veronika Novita L.M.]
Menjadi motor: Pengurus PERSIKA dan Fr Yulius Hariyanto Seran SX (tengah) sedang rapat di Wisma Xaverian.

HIDUPKATOLIK.com - Hujan deras mengguyur kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Minggu, 10/2. Namun, tumpahan air dari langit ini tak meluruhkan semangat beberapa anak muda yang tergabung dalam Persaudaraan Siswa-Siswi Katolik (PERSIKA) Jakarta.

Beberapa di antara mereka adalah Theresia Metha Sepriani (16), Anastasia Meidilina Devianti (16), dan Anastasia Adriana Ignatia (16). Meski harus naik kendaraan umum dan berjalan di bawah guyuran hujan, keceriaan mereka tak sedikit pun luntur. Mereka tetap mengayunkan langkah menuju Wisma Xaverian di Jl Cempaka Putih Raya 42, Jakarta Pusat.

Mereka datang ke wisma untuk mematangkan rencana bakti sosial pada peringatan Hari Kasih Sayang, 19/2. Ditemani oleh Koordinator Pendamping PERSIKA, Frater Yulius Hariyanto Seran SX, siswa-siswi dari berbagai SMA Negeri di Jakarta itu kian bersemangat. Humor-humor segar kerap kali terlontar di tengah perbincangan mereka. ”Mereka memang selalu bersemangat. Meski sering kesulitan dana untuk berkegiatan, atau harus naik truk bak terbuka saat kemping di Puncak. Mereka tak pernah mengeluh. Mereka mau mengerti dan selalu kompak mengusahakan yang terbaik untuk setiap kegiatan yang telah direncanakan,” ungkap Frater Yanto, panggilan akrab Yulius Hariyanto Seran.

Pembinaan iman
Keberadaan PERSIKA bermula sejak tahun 1991. Saat itu, para frater Xaverian mulai mengajar agama di beberapa SMA Negeri di Jakarta Timur dan Jakarta Pusat. Antara lain, SMAN 5, SMAN 21, SMAN 31, SMAN 45, dan SMAN 77.

Para frater mulai berpikir tentang perlunya didirikan sebuah organisasi bagi siswa-siswi Katolik yang bersekolah di SMA Negeri. ”Para frater menyadari, pembinaan rohani para siswa Katolik di sekolah negeri sangat kurang,” terang Frater Yanto.
Akhirnya, tahun 1995, terbentuklah sebuah wadah bernama PERSIKA. ”Dengan wadah itu, para siswa bisa lebih mendapatkan pembinaan rohani.”

Saat ini, ada beberapa SMAN di Jakarta yang turut bergabung dalam PERSIKA selain lima sekolah perintis di atas. Antara lain, SMAN 27, SMAN 36, SMAN 40, SMAN 80, SMAN 107, SMKN 27, perkumpulan anak-anak SMAN di Paroki Slipi, serta perkumpulan anak-anak SMAN di Paroki Kedoya.

Para frater Xaverian memiliki alasan tersendiri mengapa PERSIKA hanya mencakup para siswa di SMA Negeri. Sebab, hal ini dirasa lebih sesuai dengan kharisma mereka, yaitu hadir di tengah orang-orang yang bukan Kristiani. ”Dengan melayani anak-anak di SMA Negeri, kami bisa sering melakukan kontak dengan mereka yang bukan Kristiani,” papar Frater Yanto.

Sementara itu, meski secara otomatis para siswa Katolik di SMA/SMK Negeri yang tergabung dalam PERSIKA menjadi anggota, namun sosialisasi di awal tahun ajaran tetap rutin dilakukan. Kaderisasi kepengurusan, kemping rohani, retret, serta perayaan hari Valentine, Natal, dan Paskah merupakan kegiatan rutin PERSIKA. ”Dalam perayaan Natal bersama Januari lalu, kami berbagi kado dan bermain bola bersama kumpulan anak jalanan di daerah Senen,” ujar Adriana Ignatia bersemangat.

Tetap optimis
Meski jumlah anggota yang terlibat aktif dalam setiap kegiatan PERSIKA dari waktu ke waktu kian menyusut, para pengurus inti tetap optimis menjalankan tugas dan tanggung jawab. Tongkat estafet kepengurusan tetap harus berjalan dengan baik. ”Kalau semua anggota tak berhalangan hadir dalam suatu acara, jumlahnya bisa mencapai 70 orang. Tetapi, terkadang hanya 40-50 orang,” Frater Yanto menjelaskan.

Anggota PERSIKA yang jarang terlibat secara aktif, lanjut Frater Yanto, senantiasa diberitahu dan dirangkul jika ada rencana kegiatan tertentu. Sejauh ini, kendala mereka adalah waktu yang bertabrakan. Terkadang orangtua juga tidak mengizinkan bila lokasi acara berada di luar Jakarta.

Selama hampir dua tahun aktif di PERSIKA, Adriana Ignatia mengaku masih cukup kesulitan merangkul teman-teman yang tidak aktif. ”Mereka terkadang merasa takut duluan dan belum percaya diri bisa berkontribusi bagi PERSIKA,” kata pengurus Seksi Pendanaan periode 2007-2008 ini. Ia mengakui dirinya juga harus banyak belajar, baik dari frater pendamping maupun kakak kelas.

Masalah yang juga sering menghadang langkah PERSIKA adalah dana. Maka, selain mengandalkan uang kas yang minim, para anggota pun bersedia iuran untuk kelancaran kegiatan. Syukurlah, selama ini mereka masih memperoleh bantuan dari Dana Pengembangan Generasi Muda Keuskupan Agung Jakarta (DPGM KAJ).

Mampu tetap eksis dengan berbagai kegiatan, merupakan prestasi tersendiri bagi PERSIKA. Selain itu, PERSIKA juga memperkuat diri dengan membangun jaringan dengan kelompok muda Katolik lainnya. ”Kami mengadakan pertandingan sepak bola persahabatan dengan perkumpulan siswa Katolik lain di Jakarta,” jelas Adriana.

Meski kadang mengalami kesulitan, Adriana mendapat pelajaran berharga. ”Saat kami ngamen cari dana melalui kor di beberapa gereja, ternyata usaha kami tidak sia-sia,” tuturnya.

Frater Yanto selalu merasa ada yang berbeda pada setiap kegiatan PERSIKA. ”Saya salut dengan kekompakan anak-anak yang sebelumnya tidak saling mengenal. Mereka kreatif dan punya banyak ide.”

Frater yang sudah hampir dua tahun menjadi pendamping menjelaskan makna dari unsur-unsur dalam simbol PERSIKA. Simbol bergandengan tangan bermakna keberagaman. Gambar salib yang juga terbentuk dari tangan merupakan simbol Kristianitas. Burung Merpati sebagai lambang Roh Kudus yang selalu menerangi. Dan, cincin bertuliskan PERSIKA sebagai lambang ikatan persaudaraan.

Tentu saja banyak suka dan duka yang dirasakan oleh para pengurus PERSIKA. Meitha mengaku, solidaritas dan persahabatan di PERSIKA sangat mantap, sebab mereka bisa berbagi pengalaman dan menjadi ajang tes kekompakan. ”Meski ada duit atau tidak, saya bela-belain ikut acara PERSIKA.”

Sedangkan Meidi mengaku paling kesal bila ada pengurus yang tidak konsisten dengan kesepakatan yang telah dibuat dalam suatu acara. Adriana sempat sedih saat mengadakan kaderisasi namun peserta yang hadir hanya sedikit. ”Saya jadi enggak semangat karena sudah mempersiapkan segala sesuatunya.”

Segudang manfaat
Dengan bersemangat, Meitha mengakui manfaat yang ia rasakan dari PERSIKA. ”Saya mendapat banyak wawasan tentang agama Katolik, karena sejak kecil saya memang tidak begitu mengerti. Orangtua menyuruh saya mencari sendiri bagaimana cara supaya dekat dengan Tuhan.” Ia juga sering merasa kurang diperhatikan dalam keluarga. Sehingga ia lega bisa datang ke Wisma Xaverian dan bercerita pada frater pendamping.

Meidi pun merasakan manfaat yang tak jauh berbeda. ”Saya merasa lebih percaya diri setelah bergabung dalam PERSIKA.” Sedangkan Adriana lebih merasakan manfaat dalam hal mengorganisir acara.

Bahkan, Donatus Doni Arinova – salah satu alumni PERSIKA – mengaku memetik manfaat dalam berorganisasi, menambah banyak teman, serta memiliki banyak kemudahan dalam menjalin relasi dengan sekolah lain.

Demi perkembangan PERSIKA selanjutnya, Frater Yanto menyarankan agar setiap sekolah yang tergabung memiliki koordinator agar lebih mudah menjalin kontak. Ia menjelaskan, sebelas frater Xaverian yang mendampingi PERSIKA saat ini mulai mengubah model pendampingan. Selain hadir sebagai sahabat dan pendamping, mereka ingin mengarahkan agar anak-anak yang lebih aktif bergerak dan menjadi motor. Nilai persaudaraan dan keberagaman tetap mereka tanamkan.

”Kami tetap akan bersemangat berkegiatan untuk lebih dekat dengan Yesus,” ujar Meidi yang mengaku salut pada semangat para frater. ”Pernah di saat hujan turun sangat deras, para frater tetap datang ke sekolah kami untuk Bina Iman,” tambahnya.

Meidi berharap PERSIKA bisa lebih merangkul semua siswa Katolik di SMA Negeri di Jakarta. Sedangkan Meitha bercita-cita menghidupkan kembali buletin PERSIKA agar orangtua paham betul akan kegiatan yang dilakukan anaknya.

Veronika Novita L.M




Kunjungan: 496
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081318544200 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Info iklan | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com