Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Integritas Pemimpin - Hidup Katolik

Integritas Pemimpin

Minggu, 23 Maret 2008 10:59 WIB
Integritas Pemimpin
[overstock.com]

HIDUPKATOLIK.com - Integritas para petinggi di negeri ini sedang berada pada titik paling nadir. Adalah Jaksa Urip sebagai pemimpin yang diharapkan menggulung kasus BLBI justru tergulung sendiri karena ulahnya menerima suap sebesar Rp 6,1 milyar. Urip tidak sendirian. Para petinggi daerah, entah itu bupati, walikota, maupun gubernur banyak keluar masuk gedung kejaksaan. Ditambah lagi yang terhormat para wakil rakyat banyak berurusan dengan palu hakim untuk segera dikirim ke rumah pesakitan. Bahkan pada ranah olah raga, sepakbola negeri ini dikendalikan si pemimpin dari balik terali besi.

Sakitnya negeri ini tak lain karena ulah para pemimpinnya. Sebagai kepala suku sebuah organisasi – apa pun organisasi tersebut – mereka diharapkan menjadi panutan, penunjuk arah, dan pemberi motivasi warga organisasi. Akhirnya tugas mulia tersebut berantakan karena ditelikung oleh ulah para pemimpin dengan menebalkan kantong pribadi, dan berorientasi pada kepentingan kelompok semata.

Integritas sebagai sepenggal nilai yang selalu disuarakan masyarakat mengalami reduksi makna nan luar biasa. Integritas hanya menarik untuk diucapkan dan dikampanyekan, namun tertatih-tatih dalam pelaksanaan.

Integritas sebentuk makna yang berasal dari kata integre yang berarti utuh, bulat, menjadi berkeping-keping di tangan para pemimpin. Tindakan culas, korup, tanpa etika, dan penuh kebohongan ditunjukkan oleh perilaku banyak pemimpin.

Menegakkan integritas bukan suatu kemustahilan. Negeri ini pernah melahirkan tokoh-tokoh luar biasa dengan integritas yang tidak dipertanyakan. Sebagian tokoh ini merupakan kebanggaan Gereja yang namanya tetap semerbak di tengah kebusukan banyak pemimpin. Misalnya Soegijapranata, Mangunwijaya, Kasimo, dan Driyarkara. Mengapa mereka – meminjam kalimat motivator terkenal Scott Peck – melakukan secuil kebaikan di antara kejelekan di jagad kepemimpinan ini? Jawabannya sederhana, karena mereka mempraktikkan integritas total tanpa serpihan-serpihan.

Beberapa hal yang bisa kita pelajari dari tokoh-tokoh ini menyoal integritas adalah, pertama, selalu mengambil tanggung jawab. Sebut saja, Mangunwijaya yang berani mengambil tanggung jawab menyelamatkan korban penggusuran Kedung Ombo walaupun harus berhadapan dengan rezim Orde Baru. Driyarkara mengemban tanggung jawab intelektualnya dengan menyuarakan Pancasila dan pluralisme. Tanggung jawab bagi mereka merupakan totalitas untuk memenuhi panggilannya sebagai pemimpin dengan dimensinya masing-masing.

Kedua, berpikir holistik bertindak transparan. Integritas dalam arti sederhana merupakan kesatuan pikiran, ucapan, dan tindakan. Berpikir holistik merupakan sebentuk kebiasan yang melihat sesuatu dengan berbagai sudut pandang, kemudian memutuskan secara utuh tanpa membingungkan konstituennya. Kalimat terkenal dari Soegijapranata dapat menjelaskan dengan gamblang inti dari berpikir holistik bertindak transparan ini, ”Saya 100 % Katolik, 100 % Indonesia.”

Ketiga, selalu mengedepankan prinsip. Dalam bahasa Stephen Covey disebut pemimpin berprinsip. Menurutnya, syarat menjadi pemimpin berprinsip hanya diperlukan tiga hal pokok: terbuka, konsisten, dan respek terhadap keprihatinan. Terbuka artinya selalu menerima ide-ide baru dan perubahan serta tidak alergi terhadap kritik. Konsisten merupakan perilaku yang selalu memperjuangkan kebaikan dan kebenaran. Sedangkan respek terhadap keprihatinan adalah tanggap dan empati terhadap kesulitan-kesulitan yang dialami konstituennya. Sosok Kasimo dengan kesederhaan dan totalitas untuk membangun negeri ini merupakan contoh paripurna dari pemimpin berprinsip ini.

Keempat, memimpin dengan basis nilai-nilai. Nilai-nilai sangat perlu bagi seorang pemimpin. Apalagi nilai merupakan keyakinan dan cita-cita yang sifatnya internal, subjektif serta didasarkan pada bagaimana sang pemimpin memandang dunia. Nilai-nilai sang pemimpin ini biasanya menjadi aturan baku bagi setiap pengikutnya. Bagi Soekarno muda (baca: Soekarno sebelum Dekrit Presiden 5 Juli 1959), kebangsaan, keindonesiaan, dan nasionalisme merupakan nilai-nilai utama yang menjadi pijakannya dalam memimpin. Karena gelora yang selalu diperjuangkan oleh Soekarno adalah Indonesia yang merdeka, bangsa yang besar, dan nasionalisme bulat dengan melawan imperialisme. Nilai-nilai yang dianut Soekarno ini akhirnya menggerakkan mayoritas warga negara Indonesia untuk bangga terhadap negerinya.

Kelima,
”Suara Rakyat, Suara Tuhan.” Inilah kalimat klasik namun tetap aktual untuk negeri ini. Pemimpin yang berintegritas tinggi selalu menyuarakan dan menerjemahkan keinginan rakyatnya. Rakyat sebagai ’wakil Tuhan’ dimaknai sebagai pemberi amanah yang harus menjadi prioritas tanggung jawabnya. Dalam konteks yang lebih luas, tanpa ada dukungan rakyat berarti tidak layak disebut pemimpin. Rakyat negeri ini yang tersebar dalam berbagai organisasi – sosial, birokrasi, bisnis, hingga negara – tak ayal menunggu pemimpin yang selalu menterjemahkan suaranya.

A.M. Lilik Agung




Kunjungan: 455
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com