Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Kekhasan Iman Katolik - Hidup Katolik

Kekhasan Iman Katolik

Jumat, 5 April 2013 15:35 WIB
Kekhasan Iman Katolik
[internationalchristianherald.com]

HIDUPKATOLIK.com - Dalam Pekan Suci yang lalu, kakak kandung saya yang tidak Katolik, ikut bersama saya pada upacara Trihari Suci. Dia sangat terkesan pada ajaran bahwa Yesus itu menderita untuk semua orang, mati dan bangkit juga untuk semua orang. Ajaran bahwa Pemimpin mewakili menanggung dosa dan berjuang untuk keselamatan para pengikutnya, tidak dia kenal dalam agamanya. Apakah ini memang khas Katolik?

Vinsensius Misdi Cahyono, Surabaya

Pertama, memang benar bahwa ajaran-ajaran berikut ini tidak ditemukan dalam kepercayaan lain, yaitu tentang pengantara antara Allah dan manusia, tentang pengantara yang mewakili manusia untuk penghapusan dosa, tentang pengantara yang mendamaikan Allah dengan manusia.

Iman Kristiani secara jelas dan tegas mengajarkan bahwa karena kesatuan-Nya dengan manusia dan kemurnian hidup-Nya, Yesus Kristus mampu menjadi wakil setiap dan semua manusia (pars pro toto) (2 Kor 5:19). Yesus Kristus menderita karena menanggung dosa-dosa umat manusia dan menjadi penebus umat manusia (2 Kor 5:14-15). Dalam kematian-Nya Yesus merangkum seluruh umat manusia. Dengan demikian dalam kebangkitan-Nya, Kristus akan membangkitkan orang-orang yang percaya kepada-Nya. Yesus Kristus adalah buah sulung kebangkitan (1 Kor 15:20-28) (lihat, HIDUP, No. 13, 30 Maret 2008).

Kedua, ajaran tentang pengantara yang mewakili para pengikut memang tidak ditemukan dalam ajaran iman yang lain. Menurut agama Islam, seseorang akan selamat kalau dia berani mengorbankan diri untuk Allah dan ajaran-Nya dan taat pada ajaran-ajaran Allah. Pengampunan ilahi bisa diperoleh jika kita langsung datang kepada Allah untuk mohon pengampunan dan meninggalkan cara hidup yang jahat. Dalam pengertian ini, seorang Islam harus berjuang sendirian. Apa yang dilakukan oleh nabi mereka, Nabi Muhammad SAW, tidak diperhitungkan untuk para pengikutnya.

Menurut pengikut Buddha, seseorang akan selamat kalau dia mendapatkan pencerahan sehingga “kebodohan”-nya dihapuskan. Percumalah jika seseorang dibersihkan dari noda dosa tetapi tidak mendapatkan pencerahan penuh. Karma akan tetap berjalan dan akibat-akibatnya tidak bisa dihentikan. Pencerahan itulah yang penting, karena melepaskan orang itu dari lingkaran Samsara. Pencerahan itu dicapai melalui merenungkan dan mempraktikkan ajaran-ajaran Buddha. Dalam hal memberi ajaran inilah Buddha diyakini sebagai pengantara keselamatan. Ajaran tentang pengantara yang mewakili dan menanggung dosa orang lain itu sama sekali asing. Seorang Buddhist harus berjuang sendirian. Kata-kata dan perbuatan pribadi Buddha bisa memberi teladan, tapi tidak diperhitungkan untuk para pengikutnya.

Ketiga, dengan kebangkitan-Nya, Kristus mengalahkan kekuasaan dosa dan kematian. Kristus menjadi Penebus umat manusia, karena dengan kebangkitan-Nya Kristus memulihkan kembali relasi manusia dengan Allah dan relasi antarmanusia. Dia juga melepaskan manusia dari cengkeraman dosa dan kematian serta semua perwujudannya. Dengan kebangkitan Kristus juga menghapuskan “selubung-selubung” yang menghalangi manusia melihat kesejatian hidup ini. Anugerah Kristus ini perlu diamini dan diimani oleh manusia agar dapat efektif dalam diri kita.

Mengapa kita merayakan hari Tuhan pada hari Minggu, bukan pada hari Sabtu, yaitu seperti hari Sabbat dalam Perjanjian Lama?Apakah ada kaitannya dengan kebangkitan Yesus?

Eutikhus Monatolas, Padang

Memang bagi kita umat Katolik, hari Minggu menggantikan hari Sabat umat Yahudi sebagai hari istirahat. Hari Minggu adalah hari Tuhan, artinya hari Tuhan Yesus bangkit dari antara orang mati. (Mat 28:1; Mrk 16:1; Luk 24:1; Yoh 20:1). Pada kenyataannya, kata “Minggu” berasal dari bahasa Portugis “Domingo” yang diturunkan dari bahasa Latin “Dominus,” artinya Tuhan. Inilah hari ketika Yesus Kristus yang bangkit dinyatakan sebagai Tuhan! Inilah hari penebusan kita!

Pemindahan hari istirahat dari Sabat ke hari Minggu ini mengikuti praksis yang sudah dilakukan sejak jaman para Rasul. Artinya, hari pertama dalam pekan itu (hari Minggu) dirayakan sebagai kesempatan berkumpul untuk memecah-mecahkan roti dan mengenangkan kebangkitan Tuhan. (Kis 20:7; bdk. 1 Kor 16:2) Bahkan Why 1:10 sendiri sudah menyebut hari itu sebagai “Hari Tuhan.” Pada hari ini umat Katolik wajib ikut merayakan Ekaristi bersama untuk bersyukur kepada Tuhan dengan perantaraan Yesus Kristus atas penebusan kita.

Pastor Dr Petrus Maria Handoko CM




Kunjungan: 1783
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com