Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Menyaksikan Jenazah Padre Pio - Hidup Katolik

Menyaksikan Jenazah Padre Pio

Rabu, 25 Mei 2005 14:35 WIB
Menyaksikan Jenazah Padre Pio
[HIDUP/Heri Kartono OSC]
Jenazah Padre Pio: Disimpan dalam peti kaca tembus pandang. Peziarah dapat melihat dan berdoa sebentar. Ada beberapa penjaga yang selalu mengingatkan agar peziarah terus bergerak karena antrean panjang. Kesempatan memotret dengan tenang agak sulit

HIDUPKATOLIK.com - Jenazah Padre Pio digali kembali setelah 40 tahun dimakamkan. Ratusan ribu orang datang untuk berziarah dan melihat jenazahnya yang dibaringkan dalam peti kaca. HIDUP melaporkan langsung dari Kota San Giovanni Rotondo, Italia.

Ternyata, orang Italia lebih banyak berdoa kepada Padre Pio daripada kepada orang suci manapun, termasuk Yesus dan Bunda Maria. Kenyataan ini terungkap dalam jajak pendapat yang diadakan Famiglia Cristiana, majalah Katolik terbesar di Italia.

Bagi orang yang tinggal di Italia, hal ini tidak terlalu mengherankan. Hampir di setiap penjuru kota, kita dapat menemukan gambar Padre Pio dengan mudah. Banyak sopir taksi yang menempelkan gambar Padre Pio di dashboard mobil mereka. Setiap tahun, makam Padre Pio dikunjungi tak kurang dari tujuh juta peziarah.

Popularitas Padre Pio tidak hanya di Italia tetapi juga ke mancanegara. Sekarang ini terdapat 3.000 kelompok Doa Padre Pio dengan anggota sekitar tiga juta orang, tersebar di seluruh dunia, khususnya Australia dan Irlandia.

Pengangkatan jenazah
Atas persetujuan Vatikan, jenazah Padre Pio dikeluarkan dari makam sesudah 40 tahun meninggal dunia. Upacara pengangkatan serta pembukaan peti jenazah dilakukan Minggu malam 2/3 dipimpin oleh Mgr Domenico Umberto D’Ambrosio serta sejumlah umat. Rangkaian acara berlangsung selama tiga jam.

Saat peti jenazah diangkat, secara spontan umat bertepuk tangan meriah, suatu tanda penghormatan khas Italia. Lewat tayangan video, kita dapat melihat peti jenazah telah lapuk dan salib telah berkarat. Dua lapis penutup peti dibuka namun kaca yang merupakan bagian akhir dari penutup peti tidak dibuka. Kaca terlihat agak buram dan jenazah hanya terlihat samar-samar.

Kepada Radio Vatikan, Mgr Domenico menjelaskan bahwa secara umum kondisi jenazah dalam keadaan baik: janggut, kuku, lutut, dan tangan masih terlihat jelas. Meski demikian, jenazah tidak sepenuhnya utuh seperti sediakala.

Lebih lanjut Mgr Domenico menuturkan, penggalian jenazah orang suci merupakan salah satu tradisi lama dalam Gereja Katolik. “Tujuannya untuk menjamin pemeliharaan jenazah orang kudus dengan menggunakan cara-cara yang wajar. Dengan demikian, generasi mendatang juga mendapat kesempatan menghormati serta merawat relikwinya,” papar Mgr Domenico, Uskup Agung Manfredonia yang membawahi wilayah tempat Padre Pio disemayamkan.

Pengangkatan jenazah Padre Pio dari makam disambut hangat banyak orang kendati tidak semua pihak setuju. Dikabarkan, sebagian pengikut Padre Pio bahkan sejumlah kerabat dekat Padre Pio sempat menyatakan keberatan mereka atas pengangkatan jenazah tersebut. Meskipun demikian, pengangkatan jenazah tetap dilaksanakan. Mengingat jenazah tidak sepenuhnya utuh lagi, sebuah tim yang terdiri dari ahli medis serta ahli biokimia diminta membantu mengawetkan serta memperbaiki jenazah Padre Pio.

Menurut Kantor Berita Italia, Ansa (23/4), wajah Padre Pio dipoles serta diperbaiki menjadi utuh kembali. Sebuah tim dari Museum Madame Tussauds, London yang tersohor sebagai ahli membuat patung lilin, mengerjakan tugas tersebut. “Dia tampak seperti sedang tidur. Memang lebih baik wajahnya dipoles seperti itu daripada tampil seperti batu marmer yang dingin,” ujar Domenico Masone, Camat Pietralcina, tempat lahir Padre Pio.

Untuk umum
Jenazah Padre Pio untuk pertama kalinya diperlihatkan untuk umum, Kamis, 24/4 lalu. Waktu itu, sekitar 15.000 orang datang menyaksikannya. Jenazah yang dibaringkan dalam peti kaca tembus pandang disemayamkan di Gereja Santa Maria delle Grazie di Kota San Giovanni Rotondo. Kardinal Jose Saraiva Martins dari Vatikan memimpin Misa pembukaan acara tersebut.

Dalam khotbahnya, Kardinal Saraiva mengatakan, “Apa yang kita lihat adalah raga yang sudah mati, tak bernapas lagi. Namun, Padre Pio bukan sekadar jenazah, dia hidup dalam persatuan dengan Yesus yang bangkit,” ujar Kardinal. “Marilah kita kenang segala kebaikan yang telah dilakukannya di tengah-tengah kita,” ujarnya.

Di antara yang hadir, ada Consilia De Martino, seorang wanita, 45 tahun, yang disembuhkan dari penyakit berat berkat perantaraan Padre Pio. Kasusnya diangkat menjadi salah satu bukti mukjizat Padre Pio pada saat proses kanonisasi.

Dalam kesempatan terpisah, Provinsial Kapusin Pastor Aldo Broccato OFMCap mengajak umat untuk tidak hanya terpaku pada sosok Padre Pio. “Saudara-saudaraku, kendati kita amat mengasihinya, namun lewat sosok itu kita harus mengarahkan mata kita ke surga, menatap sinar kehidupan dari Allah, di mana Kristus menunjukkan baik kematian maupun kebangkitan-Nya,” ujarnya.

Rencana semula, jenazah akan dipamerkan untuk beberapa bulan. Namun, mengingat begitu banyaknya peminat yang mendaftar untuk datang dan melihat (tanggal 25/4 saja sudah 800 ribu orang mendaftarkan diri untuk datang), jenazah akan di-pamerkan lebih lama, sampai September 2009.

HIDUP datang menyaksikan jenazah Padre Pio Kamis, 8/5 bersama dr Irene Inawati Suryahudaya, spesialis kulit dan dr Budi Kartono, spesialis bedah saraf. Di samping dua dokter dari Bandung ini, turut juga Pastor Sylvester Pajak SVD.

Irene mengenal Padre Pio sejak kecil. “Mama mengajarkan pada kami, anak-anak-nya, untuk sering berdoa kepada Padre Pio. Mama kerap meletakkan gambar Padre Pio pada bantal, bila saya sakit!” kenang Irene yang selalu membawa relikwi Padre Pio dalam dompetnya.

Sesudah meninggal
Semasa hidupnya, Padre Pio melakukan banyak hal yang menakjubkan. Tak terhitung jumlah orang yang merasa disembuhkan atau tertolong berkat Padre Pio. Salah satu karya nyata Padre Pio adalah pendirian Rumah Sakit Casa Sollievo della Sofferenza (Rumah untuk Meringankan Penderitaan), tak jauh dari tempat tinggalnya. Rumah Sakit terbesar di Italia Selatan ini terwujud antara lain berkat jasa Barbara Ward, seorang wartawan Inggris.

Barbara berhasil menggalang banyak dana, termasuk dana sebesar 325.000 US $ dari UNRRA, sebuah lembaga di Amerika Serikat untuk membangun proyek tersebut. Rumah Sakit yang amat memperhatikan orang-orang miskin dan menderita ini tetap berjalan baik hingga kini.

Padre Pio meninggal dunia pada 23 September 1968 dalam usia 81 tahun. Upacara pemakamannya (26/9/1968) dihadiri tak kurang dari 100 ribu umat. Sebelum meninggal, Padre Pio beberapa kali berkata, “Sesudah kematianku, aku akan berbuat lebih banyak lagi!”

Kini, 40 tahun sesudah kematiannya, orang mulai teringat akan kata-katanya itu. Jumlah peziarah yang datang ke tempat Pa-dre Pio terus bertambah dari tahun ke tahun. Demikian juga jumlah orang yang mengaku disembuhkan atau tertolong berkat Padre Pio.

“Padre Pio banyak berjasa dalam perjalanan hidup saya,” ujar dr Irene Suryahudaya seusai menyaksikan jenazah Padre Pio. Kata-kata Irene ini mewakili ratusan ribu orang yang datang ke tempat Padre Pio, orang suci yang mereka hormati.

Heri Kartono OSC




Kunjungan: 4302
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com