Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Nobertus 'Nano' Riantiarno: Mengritik Lewat Pertunjukan - Hidup Katolik

Nobertus 'Nano' Riantiarno: Mengritik Lewat Pertunjukan

Senin, 15 April 2013 10:23 WIB
Nobertus 'Nano' Riantiarno: Mengritik Lewat Pertunjukan
[HIDUP/A. Sudarmanto]
Nobertus ‘Nano’ Riantiarno

HIDUPKATOLIK.com - Lewat teater, Nobertus Riantiarno atau yang kerap disapa Nano Riantiarno melakukan kritik sosial. Tak heran, jika ia sering diperlakukan tidak enak oleh pemerintah Orde Baru.

Seperti saat ia akan mementaskan teater berjudul Suksesi tahun 1990. Suksesi, bercerita tentang pergantian pemimpin di negara yang menganut asas demokrasi. Padahal, saat itu Presiden Soeharto masih bercokol sebagai orang nomor satu di Indonesia. Tak ayal, pendiri sekaligus sutradara Teater Koma ini harus berurusan dengan pihak berwajib, meski sudah dikemas ala kesenian Jawa, ketoprak.

Nano pun sempat diinterogasi aparat selama tujuh jam karena dianggap tokoh-tokoh yang ada dalam pementasan mewakili anakanak Soeharto. Nano mengelak dengan mengatakan naskah yang ia pentaskan adalah tentang pergantian pemimpin dalam cerita ketoprak. Sampai hari kesepuluh pertunjukan terselamatkan. Namun, pada hari kesebelas, seorang aparat datang dengan membawa surat pembatalan pentas. Padahal, penonton sudah memadati Balai Budaya Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat. “Ya terpaksa surat pembatalan itu saya fotokopi dan saya tempel di kaca-kaca dan pintu-pintu masuk gedung pertunjukan,” ceritanya.

Demikian pula dengan pementasan Opera Kecoa tahun 1982. Naskah tersebut menggambarkan rakyat yang seperti kecoa, berada di antara kepentingan-kepentingan politik. Rakyat selalu diberi janji-janji kosong saat Pemilu tiba. “Kalau mobil negara mogok, rakyat yang disuruh mendorong, namun kalau mobil sudah jalan, rakyat ditinggalkan,” ujarnya. Dalam pementasan tersebut, Nano juga menampilkan para waria sebagai simbol sikap mendua. “Sikap politisi saat itu ya seperti itu. Sebenarnya mereka punya sikap politik sendiri, tapi tidak berani dengan Pak Harto,” tambah Nano.

Memang, naskah-naskah hasil karya Nano, sebagian besar bertema kritik sosial dan kehidupan. Tapi, lewat teater pula, Nano hendak mengungkapkan rasa terima kasihnya. “Bagi saya, teater itu adalah ungkapan rasa terima kasih manusia kepada alam dan kehidupan,” tegasnya saat ditemui di rumahnya di bilangan Bintaro, Tengerang, Banten beberapa waktu lalu.

Teater Koma
Nano mengenal teater sejak berusia 16 tahun. Bersama seorang sahabatnya, pria kelahiran Cirebon, 6 Juni 1949 ini, bergabung dengan Komunitas Sastra dan Teater Tunas Tanah Air di Cirebon, Jawa Barat. Tahun 1966, komunitas ini hendak mementaskan Caligula. Namun, dua minggu sebelum pementasan, seorang pemeran utama sakit. Maka, Nano didaulat menggantikannya. Selama dua minggu, ia digembleng untuk menjadi pemeran utama. Ia tidak hanya hafal pada dialog yang diperankan, tapi juga seluruh dialog dalam naskah. Nano tampil sangat memukau dan pementasan pun terselamatkan. “Sejak itu, saya merasakan, teater adalah dunia saya,” ceritanya.

Selepas SMA, ia berangkat ke Jakarta untuk melanjutkan kuliah di Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI) — sekarang Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Nano mengaku, di tempat inilah ia banyak belajar dari para maestro teater, film, dan sastra seperti Usman Ismail, Jaya Kusuma, Teguh Karya, Asrul Sani dan Wahyu Sihombing.

Melihat bakat Nano, Teguh Karya pun mengajaknya bergabung dengan Teater Populer. Bersama teman seangkatannya, seperti Slamet Raharjo dan Franky Roring Pande, Nano mulai berlatih di Teater Populer. Teater Populer sering disebut Teater Populer Hotel Indonesia, karena selalu berkegiatan di Ball Room Hotel Indonesia Jakarta. “Sering juga disebut Teater Borjuis, karena setiap latihan selalu mendapat makan siang,” katanya sembari tersenyum.

Hampir setiap bulan, Teater Populer menggelar pementasan. Namun, setelah tiga tahun berselang, pementasan berkurang, karena Teguh Karya mulai merambah dunia film. Mau tidak mau, Nano harus turut berperan dalam film-film besutan Teguh Karya. “Sampai kehidupan teater mulai terlupakan,” ceritanya. Hingga suatu saat, Nano tersadar, bahwa tujuannya datang ke Jakarta, bukan menjadi orang film, tetapi hidup dalam dunia teater. Maka, Nano pun memutuskan untuk keluar dari Teater Popu-ler. Ia minta maaf sekaligus mohon pamit kepada Teguh Karya untuk berkeliling Indonesia.

Kurang lebih selama enam bulan, Nano berkeliling Indonesia. Tujuannya satu, yakni mempelajari teater rakyat dan tradisi Nusantara. Usai menjelajahi Indonesia, Nano tak bergabung dengan Teater Populer. Ia justru minta izin pada Teguh Karya untuk mendirikan kelompok teater sendiri. 1 Maret 1977 lahirlah teater bentukan Nano yang diberi nama Teater Koma. Teater garapannya ini merupakan gabungan dari ilmu dari bangku kuliah dengan akar tradisi lokal Indonesia.

Buku babon
Kematangan berkarya dan popularitasnya sebagai pemain dan sutradara teater, tidaklah mudah diraih. Saat pertama kali hijrah ke Jakarta tahun 1967, Nano harus mengontrak rumah di daerah Dukuh Atas, Jakarta Pusat. Di rumah itu hanya ada tiga ruangan, ruang tamu, satu kamar tidur, dan dapur yang sekaligus kamar mandi berdinding kayu, berlantai tanah. “Itu masa-masa bahagia, karena kadang saya harus tidak makan dua hari. Tidak punya uang!” ceritanya disertai tawa.

Namun, dari ruang-ruang itulah daya kreatif Nano terlahir. Dengan ditemani lampu minyak, Nano menggoreskan keprihatinannya. “Dalam kondisi seperti itu, saya justru dapat menghasilkan dua buku tebal. Itu buku biang yang merupakan babon atau induk dari karyakarya saya hingga saat ini,” ujarnya. Dari buku babon itu, lahir naskah per-tama berjudul Matahari Sore Bersinar Lem-bayung yang ditulis Nano tahun 1967. Naskah itu pun pernah beberapa kali dimainkan dalam festival teater remaja. Hingga kini, sudah seratus lebih naskah yang ia pentaskan bersama Teater Koma, seperti Rumah Kertas, Rumah Sakit Jiwa (RSJ), Sampek Engtay, Suksesi, Primadona, Sang Kala, Opera Kecoa, Opera Sabun, Republik Bagong, dan Kenapa Leonardo? yang beberapa waktu lalu dipentaskan.

Mengagumi Paus
Sebagai seorang yang dibaptis dalam Gereja Katolik, Nano sangat mengagumi sosok mendiang Paus Yohanes Paulus II. Suatu kali, bersama sang istri, Nano berziarah ke Vatikan. “Saya hanya ingin melihat Paus Yohanes Paulus II secara langsung,” ceritanya. Saat itu adalah jadwal Paus untuk memimpin Perayaan Ekaristi di Basilika Santo Petrus. Tapi sayang, Nano datang terlambat. Ia pun tak memperoleh kesempatan melihat Paus secara langsung.

Namun, keberuntungan masih berpihak pada Nano. Ketika ia berjalan-jalan di jajaran pertokoan di Kota Roma, Nano melihat Paus sedang keluar dari salah satu gedung. Ia bergegas membeli kamera di sebuah toko agar dapat mengabadikan peristiwa tersebut. Tapi entah apa yang terlintas dalam dirinya saat berdekatan dengan Paus. Ia hanya diam mematung melihat sosok Paus yang ada didekatnya. “Sampai-sampai saya tidak sempat memotret. Paus itu orang yang sungguh luar biasa. Saya sangat kagum pada sosoknya,” pungkasnya.

Biodata
Nama : Nobertus Riantiarno
Tempat/Tgl Lahir: Cirebon, 6 Juni 1949
Istri : Ratna Madjid Riantiarno
Anak : Satria Rangga Buana, Rasapta Candrika dan Gagah Tridarma Prastya.

Pendidikan :
*Akademi Teater Nasional Indonesia Jakarta (1968)
*Pernah kuliah di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta (1971)
*International Writing Program, University of Iowa, Amerika Serikat (1978)

Penghargaan:
*Piala Vidya untuk sinetron Karina pada Festival Sinetron Indonesia tahun 1987
*Penulis Skenario Terpuji dari Forum Film Bandung atas skenario sinetron Kupu-Kupu Ungu.
*Hadiah sayembara penulisan Naskah Sandiwara Dewan Kesenian Jakarta.
*Piagam Penghargaan dari Departemen Pariwisata dan Seni Indonesia tahun 1999
*Penghargaan Sastra Indonesia 1998 dari Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa
*SEA Write Award dari Raja Thailand untuk karya Semar Gugat.

A. Sudarmanto




Kunjungan: 779
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com