Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Warna-warni Saudara Muslim - Hidup Katolik

Warna-warni Saudara Muslim

Minggu, 1 Juni 2008 16:07 WIB
Warna-warni Saudara Muslim
[HIDUP/Y.Prayogo]
Mampu merangkul: Pastor Dr J.B. Heru Prakosa SJ menjadi salah satu pembicara dalam Pernas Komisi HAK-KWI 2008

HIDUPKATOLIK.com - Filsuf Ludwig Wittgenstein (1889-1951) pernah berkata tentang ‘permainan bahasa’ dan ‘kemiripan keluarga’. Sepakbola dan basket, misalnya, sama-sama termasuk dalam ‘keluarga’ olah raga.

Keduanya merupakan permainan yang menggunakan bola. Meski demikian, keduanya memiliki ‘aturan permainan’ berbeda. Dalam sepakbola, pemain bermain dengan kaki. Sementara dalam basket, pemain bermain dengan tangan. Pemain sepakbola tidak boleh ‘menilai’ cara bermain dalam permainan basket dari sudut pandang permainan sepakbola. Begitu juga sebaliknya.

Prinsip ini kiranya dapat diterapkan untuk memahami aspek iman Kristen-Katolik dan Islam. Baik Kristen-Katolik maupun Islam mengenal ‘wahyu’. Bagi penganut iman Kristen-Katolik, wahyu menunjuk pada Kristus sebagai ‘Sabda yang menjadi daging’. Sedangkan bagi penganut Islam, wahyu mewujud dalam Quran. Membandingkan Kristus dengan Nabi Muhammad, atau Injil dengan Quran, tentu tidak sepenuhnya tepat. Bagi penganut iman Kristen-Katolik, Injil ditulis ‘manusia’ dalam terang Roh Kudus, sementara bagi penganut iman Islam, Quran sepenuhnya berasal dari Allah. Ada contoh lain. Baik Kristen-Katolik maupun Islam, mengenal konsep tentang ‘dosa’ dan ‘keselamatan’. Bagi penganut iman Kristen-Katolik, manusia dilahirkan dalam keadaan ‘berdosa’, akibat dosa manusia pertama dan akan terselamatkan dari dosa hanya melalui Yesus, Sang Penebus.

Sementara bagi penganut iman Islam, manusia lahir dalam keadaan bersih. Manusia berdosa karena kekeliruan sendiri, yaitu tak mengikuti perintah Allah dalam Quran dan ajaran Nabi. Manusia menjadi suci lagi, jika kembali pada perintah-Nya dan melalui tindak pembersihan diri. Itulah sebabnya, di akhir Ramadhan, saudara-saudari kita Muslim mengatakan, telah kembali ke fitrah/kesucian.

Teologi Islam
Kelahiran aliran Islam, seperti Sunni, Shiah, dan Khawarij tak lepas dari persoalan tentang pengganti Nabi Muhammad SAW setelah wafat. Bagi Sunni, pengganti Nabi adalah dari ‘lingkaran dalam’ yang layak, seperti Abu Bakr (m. 634), ‘Umar (m. 644), Uthman (m. 656), ‘Ali (m. 661). Bagi Shiah, pengganti Nabi adalah dari keluarga besar Nabi dan mereka hanya menerima ‘Ali. Sementara aliran Khawarij hanya menerima dua pemimpin pertama, yaitu Abu Bakr dan ‘Umar.

Maka, muncullah persoalan politis yang membawa dampak pada perkembangan aliran-aliran teologi dalam Islam. Perdebatan tentang ’dosa’, ’sifat perbuatan manusia’ dan ’Sabda Allah’ sempat melahirkan aliran teologi yang berbeda-beda, seperti Murjiah, Qadariah, Jabariah, Mu’tazilah, Hanbaliah, Asyariah, dan Maturidiah. Bahkan, dalam satu aliran muncul karakter berbeda, seperti dalam aliran Mu’tazilah terdapat aliran Basra dan Baghdad.

Perkembangan Islam
Islam muncul dari kejayaan. Dalam waktu singkat, Islam menguasai Jazirah Arab, Afrika Utara, dan kurang dari 100 tahun, berhasil masuk ke Spanyol Selatan. Perluasan wilayah Islam diikuti kemajuan ilmu, dengan pemicu Bait al-Hikma, sebagai gerakan penerjemahan tulisan-tulisan Yunani ke dalam bahasa Arab.

Islam mulai mengalami pukulan saat Perang Salib, dan terlebih dengan hancurnya\ Dinasti Abasiyah oleh tentara Mongol (1258). Kejayaan kembali diraih dengan jatuhnya Konstantinopel ke tangan Dinasti Ottoman (1453). Tidak lama berselang, Islam kehilangan kekuasaan di Spanyol Selatan dengan hancurnya Granada (1492).

Pukulan yang dihadapi Islam makin berat pada abad berikutnya. ’Apa yang membuat ini terjadi?’ Beberapa pandangan menyatakan, kaum Muslim tidak setia pada Quran dan Hadith. Maka, lahirlah gerakan Wahabisme yang mau kembali murni pada sumber utama Islam, yakni Quran dan Hadith. Bahkan, ada gagasan –disuarakan Sayyid Qutb- semua yang bersifat non-Islam harus ditolak. Pandangan ini menjadi makin mengkristal dengan lahirnya Ikhwan Muslimin, dan gerakan Pan-Islamisme yang melawan kolonialisme dan orientalisme.

Muslim di Indonesia
Ada beberapa pemetaan yang dibuat pengamat tentang gerakan Islam di Indonesia. Ada yang mengelompokkan menjadi kaum ulama, revivalis, akademisi, dan intelektual kemasyarakatan. Tokoh lain mengkategorikan menjadi kaum rasionalis, neo-modernis, dan transformatif. Tokoh lain lagi memetakan menjadi kaum formalis, substantivis, indigenis, revivalis/ fundamentalis. Kategorisasi lain adalah kaum universalis, indigenis, dan reformis; atau juga kaum neo-modernis, universalis, modernis, dan pendukung sosial-demokrasi.

Harus diingat, kelompok Muslim yang ada dan berkembang di Indonesia sangat warnawarni. Barangkali ‘dialog’ yang dibangun tidak akan mampu merangkul semua pihak. Maka, dalam semangat untuk terbuka, ramah, dan dialogis, Gereja Katolik perlu: pertama, tahu batas-batasnya. Kedua, berani membuat pilihan konkret, dan ketiga, sadar penuh akan konsekuensi, terkait pilihan tersebut.

Pastor Dr J.B. Heru Prakosa SJ




Kunjungan: 708
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com