Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


RS Yos Sudarso Padang: Tanggung Jawab Moral - Hidup Katolik

RS Yos Sudarso Padang: Tanggung Jawab Moral

Jumat, 19 April 2013 15:45 WIB
RS Yos Sudarso Padang: Tanggung Jawab Moral
[HIDUP/Sutriyono]
Pelayanan langsung: RS Yos Sudarso, Padang, merupakan satu-satunya rumah sakit Katolik di Provinsi Sumatera Barat

HIDUPKATOLIK.com - Mukilah (40) terkejut dan senang karena biaya perawatan ayahnya mendapatkan potongan lebih dari satu juta rupiah dari Rumah Sakit Yos Sudarso Padang. Potongan sebesar itu tidak pernah ia perkirakan.

Ia pantas senang karena sejak akhir tahun lalu, sang ayah Tumin (65) dirawat di Yos Sudarso karena menderita infeksi pada tulang keringnya kaki kirinya.

Pasien asal daerah transmigran Pasaman Barat – sekitar 170 kilometer barat laut Kota Padang ini – didiagnosa menderita sejenis kanker tulang sehingga perlu diamputasi. Namun, hasil laboratorium patologi menunjukkan tidak ditemukan sel-sel tumor pada lukanya.

Akhirnya, dokter mengambil tindakan medis dengan operasi cangkok daging (otot). Luka di tulang kering dikorek dan dibersihkan sampai ke tulangnya. Lubang bekas korekan itu ditambal dengan daging bagian belakang betisnya, dengan cara memutar saja. Bekas luka di betis ditambal dari daging di paha kanannya.

Untuk biaya perawatan dan tindakan medis, keluarga Tumin mesti mengeluarkan biaya lebih dari Rp 10 juta. Meskipun sudah menjual dua ekor sapi, biaya belum cukup. Keluarga Tumin harus mencari pijaman lagi.

Maka, Mukilah yang mengurusi perawatan ayahnya merasa bersyukur karena mendapatkan potongan. “Sekurang-kurangnya bisa membantu biaya transportasi dan makan selama 10 hari lebih menunggu selama perawatan,” katanya.

RS Yos Sudarso, tempat ayah Mukilah dirawat merupakan satu-satunya RS Katolik di Sumatera yang mendapat status akreditasi “Penuh Tingkat Lengkap” pada 2008 ini.

Program bansos
Apa yang diterima Mukilah adalah program bantuan sosial (bansos) dari rumah sakit. Untuk mendapatkan bansos, pasien Katolik membawa surat keterangan dari pastor parokinya. Masyarakat umum membawa surat keterangan dari pemerintah setempat.

Direktur RS Yos Sudarso dr Rinal Fendy MARS mengatakan, sebagai perpanjangan tangan misi Gereja, rumah sakit membina jati diri sebagai rumah sakit Katolik, mengutamakan pelayanan kepada siapa pun termasuk yang kurang mampu atas dasar cinta kasih. Perwujudannya melalui pemberian bantuan sosial. Rumah sakit sudah menyisihkan pos anggaran untuk bantuan sosial.

Perhatian bagi masyarakat kurang mampu juga dalam penyediaan tempat tidur pasien. Sebagai rumah sakit tipe C, dari 146 tempat tidur yang ada sebanyak 78 tempat tidur untuk kelas III.

Untuk biaya perawatan kelas III, rumah sakit memberikan subsidi. Bantuan untuk pasien yang kurang mampu dengan memberikan diskon biaya perawatan, obat-obatan, pemeriksaan dokter, dan laboratorium. Atau, diskon langsung keseluruhan biaya, dari 20-50 %. “Untuk pasien yang benar-benar tidak mampu, kami gratiskan,” katanya.

Selain mengutamakan asuhan keperawatan, ada tim pastoral care untuk pelayanan spiritual dan mental pasien. Tim ini melibatkan tokoh lintas agama untuk memberikan penghiburan rohani sesuai agama pasien.

Untuk pasien Katolik, secara rutin diadakan viatikum (komuni) dan kunjungan. Untuk pasien non Katolik diserahkan kepada petugas khusus dengan koordinasi dari rumah sakit.

Dari poliklinik kecil
Jauh sebelum seperti sekarang, RS Yos Sudarso Padang hanyalah sebuah poliklinik kecil. Letaknya di samping Pastoran Santo Fransiskus Asisi Padangbaru.

Tahun 1972, Uskup Padang Mgr Raimondo Bergamin SX sangat terpukul dengan meninggalnya Pastor Castelli SX secara tragis karena secara tak sengaja meminum racun serangga yang dikiranya air minum biasa. Ketika dibawa ke RSUD, jiwanya tidak tertolong karena tidak ada dokter jaga di UGD. Dari peristiwa inilah Mgr Bergamin berusaha keras untuk membangun rumah sakit.

Poliklinik di samping pastoran yang telah melayani sejak tahun 1963 terus berkembang. Ketika rencana mendirikan rumah sakit terwujud, poliklinik tersebut disatukan menjadi rumah sakit.

Nama Yos Sudarso diusulkan Suster Agnes Syukur SCMM yang merintis berdirinya poliklinik tersebut bersama Suster Christina Carugati ALI. Sengaja tidak dipilih nama orang kudus atau bernuansa kristiani mengingat mayoritas penduduk Sumatera Barat adalah Muslim.

Seluruh ruangan di rumah sakit ini pun menggunakan nama-nama pahlawan nasional. RS Yos Sudarso diresmikan oleh istri Pahlawan Nasional Comodor Yos Sudarso pada 1 April 1976.

RS Yos Sudarso merupakan satu-satunya rumah sakit Katolik di Provinsi Sumatera Barat. Sampai saat ini, rumah sakit tersebut terus berbenah. Bangunan diperluas, peralatan medis terus dimodernisasi sehingga menjadi rumah sakit terkemuka.

Keunggulan RS Yos Sudarso adalah asuhan perawatan dilengkapi dengan peralatan teknologi kesehatan Magnetic Resonance Imaging (MRI), satu-satunya teknologi kesehatan di Sumatera Barat. Tahun 2008, rumah sakit ini akan melengkapi dengan sarana canggih untuk radiologi dan laboratorium senilai Rp 7 miliar.

Menurut Rinal Fendy, dengan sarana dan fasilitas modern dan canggih ini, RS Yos Sudarso meningkat menjadi tipe B sehingga menjadi rujukan rumah sakit swasta di Sumatera Barat dan regional.

Pakai jilbab
Sebagai Rumah Sakit Katolik, RS Yos Sudarso tidak terlepas dari masalah isu kristenisasi. Di kalangan internal karyawan, ada tuntutan dari karyawati Muslim untuk mengenakan jilbab.

Menanggapi hal ini, menurut Rinal yang penting adalah komunikasi dari karyawan kepada rumah sakit. Kalau tuntutannya soal seragam bukan masalah. Seragam mesti disesuaikan dengan profesi, tidak boleh seperti apa yang dikehendaki sepihak oleh karyawan.

“Maka, kalaupun karyawan Muslim memakai penutup kepala (jilbab) masih sebatas pada profesi tidak masalah. Bahkan, karena tuntutan kerja, seperti harus memanjat, jalan atau lari cepat, hampir seluruh perawat memakai celana panjang,” imbuhnya.

RS Yos Sudarso juga menyediakan tempat sholat. Meskipun awalnya ada pertentangan, namun sama-sama disadari adalah wajar untuk menyediakan tempat tersebut. Dalam praktik sehari-hari, yang utama harus diperhatikan karyawan adalah visi dan misi rumah sakit dan tidak mempermasalahkannya. Karyawan boleh saja memakai jilbab tetapi mesti bekerja sesuai dengan visi rumah sakit.

Kado untuk Uskup
Status akreditasi “Penuh Tingkat Lengkap” dengan nomor: YM.01.01/III/369/08 dari tim akreditasi independen, merupakan bukti pengakuan kualitas pelayanan rumah sakit ini kepada masyarakat.

Di wilayah Sumatera, saat ini baru dua rumah sakit yang mendapatkan status akreditasi penuh. Satunya, Rumah Sakit Umum Palembang. Untuk rumah sakit swasta, baru RS Yos Sudarso Padang yang pertama kali mendapatkan akreditasi penuh di Sumatera.

Ada 16 bidang pelayanan yang dinilai meliputi pelayanan administrasi dan manajemen, medis, gawat darurat, keperawatan, rekam medis, farmasi, keselamatan kerja (kebakaran & kewaspadaan bencana), radiologi, laboratorium, kamar operasi, pengendalian infeksi di rumah sakit, perinatal (bayi) resiko tinggi, rehabilitasi medik, gizi, intensif (ICU & ICCU), dan darah.

Salah satu ukuran kualitas pelayanan rumah sakit adalah berdasarkan akreditasi tersebut. Bagi dr Rinal Fendy, akreditasi bukan sekadar tuntutan untuk mendapatkan izin dari pemerintah, tetapi merupakan tanggung jawab moral. “Mengapa perlu melengkapi standar sampai lengkap, karena tanggung jawab moral untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat,” tambahnya.

Kalau status itu diperoleh pada tahun 2008, maka sekaligus bisa menjadi kado bagi Uskup Padang yang banyak mendorong dan memberikan kepercayaan untuk mengelola rumah sakit ini.

Rinal mengemukakan, RS Yos Sudarso telah menunjukkan diri sebagai lembaga Gereja yang berperan di masyarakat, memberikan pelayanan langsung dengan tetap mempertahankan visi dan misinya.

Rinal Fendy menegaskan, rumah sakit yang dipimpinnya pun siap membantu Pemerintah Daerah. Program Primary Health Care (PHC) – yang menjadi keprihatinan utama Uskup Padang karena tidak berjalan, menurut Rinal, lebih disebabkan oleh faktor luar.

Untuk mengembangkan PHC, lingkungan masyarakat belum menerima secara terbuka maksud baik pelayanan itu. “Lingkungan masyarakat belum bisa menerima. Misalnya, kalau rumah sakit membina puskesmas yang didirikan sendiri. Maksud baik dalam pelayanan, selalu dikaitkan dengan isu agama (kristenisasi). Yang bisa kami lakukan, menerobos perlahan-lahan dengan bekerja sama dengan rumah sakit lainnya,” tegas Rinal.

Windy Subanto




Kunjungan: 3737
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com