Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Renungan Minggu 21/4/2013: Mgr FX Hadisumarta OCarm - Hidup Katolik

Renungan Minggu 21/4/2013: Mgr FX Hadisumarta OCarm

Sabtu, 20 April 2013 22:22 WIB
Renungan Minggu 21/4/2013: Mgr FX Hadisumarta OCarm
rebelsprite.wordpress.com

HIDUPKATOLIK.com - Pekan Paskah IV; Kis 13:14.43-52; Mzm 100; Why 7:9.14b-17; Yoh 10:27-30

Gembala yang Baik

Dalam Injil Minggu lalu (Yoh 21:15-19), Yesus mengangkat Petrus untuk mengambil alih tugas-Nya sebagai gembala. Tujuannya, Yesus ingin tahu kesungguhan kasih Petrus kepada-Nya. Yesus mau menegaskan bahwa kepemimpinan apapun harus berlandaskan kasih. Gembala yang baik adalah gembala yang mengasihi dombanya, seperti Yesus yang mengasihi domba-domba-Nya. Ia rela mengorbankan hidup-Nya bagi mereka. Injil Minggu ini menunjukkan bagaimana orang harus bersikap dan berbuat sebagai gembala atau pemimpin yang baik.

Dalam Perjanjian Lama, pemimpin Israel seperti Abraham, Ishak,Yakub, juga pemimpin bangsa seperti Musa dan Daud, digambarkan sebagai gembala. Misalnya, “Tuhan adalah gembalaku, aku takkan kekurangan” (Mzm 23:1). Gembala memelihara, menjaga, dan melindungi kawanannya. Dalam Perjanjian Baru, gambaran ideal pemimpin sebagai gembala ini menjadi kenyataan dalam diri Yesus Kristus. Yesus sendiri mewujudkan gambaran gembala dalam diri-Nya (lih. Yoh 10:1-21).

Sebagai gembala yang baik, Yesus mencari domba yang hilang. Ia sangat prihatin melihat kawanan-Nya terlantar tanpa gembala (lih. Mat 9:36). Injil hari ini juga menampilkan dua ciri khusus penggembalaan Yesus.

Pertama
, penggembalaan-Nya merupakan hubungan erat dan saling mengenal antara domba dan gembala. “Domba-Ku mendengar suara-Ku dan mereka mengikuti Aku.” Kawanan domba cukup lama bergaul dengan gembala. Ia “mengenal nama mereka”. Semua dikasihi-Nya!

Kedua, gembala yang baik memiliki sikap rela dan siap siaga mengorbankan diri pada dan untuk kepentingan domba-Nya, hingga tiada seorang pun dapat merampas mereka dari-Nya. Dengan dua ciri khusus penggembalaan itu, tampaklah perbedaan antara gembala sejati, yang sungguh menjaga kawanan domba yang diserahkan kepadanya, dengan gembala palsu atau gembala sewaan yang hanya menunaikan tugas sesuai upahnya. Gembala sejati berani berkorban dan mati, sedangkan gembala palsu atau sewaan melarikan diri bila menghadapi bahaya atau ancaman. Gembala sejati selalu menaruh perhatian, prihatin, dan bertanggung jawab atas nasib kawanan dombanya. Sedangkan gembala palsu seringkali membenci dombanya.

Persyaratan gembala yang rela berkorban dan mati ditegaskan oleh Yesus pada Petrus. Sesudah Petrus tiga kali menjawab positif pertanyaan Yesus kepadanya: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?”, barulah Ia berkata: “Gembalakanlah domba-domba-Ku!” (Yoh 21:17).

Di Roma pada 24 April 2005, Benediktus XVI, dalam Misa Peresmian Jabatan Penggembalaan Gereja Katolik Universal sebagai Wakil Kristus, menerangkan Injil Yohanes yang kita dengarkan hari ini. Ia berkata: “Salah satu ciri dasar seorang gembala ialah mengasihi umat yang dipercayakan kepadanya, sama seperti ia mengasihi Kristus, yang dilayaninya. ‘Gembalakanlah domba-domba-Ku’, kata Kristus kepada Petrus. Dan sekarang ini, Kristus mengatakannya pula kepadaku. Menggembalakan berarti mengasihi, dan mengasihi berarti bersedia menderita. Mengasihi juga berarti memberikan kepada domba apa yang sungguh baik, santapan kebenaran Allah, sabda Allah, santapan kehadiran-Nya, yang diberikan-Nya kepada kita dalam Sakramen Mahakudus.”

Benediktus menjelaskan, perumpamaan tentang gembala itu ialah gambaran tentang Kristus dan Gereja-Nya, serta masyarakat yang harus dilayani. Umat manusia sering tidak tahu arah hidupnya, bagaikan domba hilang di padang gurun. Putera Allah tidak mau melihat dan membiarkannya hilang terlantar. Ia meninggalkan kemuliaan-Nya di surga dan turun ke bumi mencari manusia yang hilang. Ia rela diadili dan mati di salib. Itulah gambaran gembala yang baik.

Penggembalaan seperti itu harus menjadi cita-cita setiap gembala. Imam dalam Gereja disebut pastor. Dalam bahasa Latin, pastor berarti gembala. Model gembala yang digambarkan dalam Kitab Suci bukan hanya berlaku bagi pastor dalam bidang keagamaan, tapi juga berlaku bagi setiap orang yang berperan sebagai pemimpin, pendamping, “leader”, pembesar, kepala rumah tangga, dll. Kebesaran pemimpin ialah kasihnya yang utuh dan bersedia berkorban dalam pelayanannya.

Memasuki penggembalaannya sebagai Wakil Kristus, Benediktus XVI berkata: “Doakan saya, supaya makin mengenal dan mengasihi domba-domba Kristus dengan lebih baik. Doakan saya, supaya tidak melarikan diri karena takut serigala, yang menyerang domba-domba Kristus. Mari kita saling mendoakan.”

Mgr F.X. Hadisumarta OCarm
Uskup Emeritus Manokwari-Sorong




Kunjungan: 2127
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com