Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Maria Rida Ita Hasugian: Merekam Kehancuran Kemanusiaan - Hidup Katolik

Maria Rida Ita Hasugian: Merekam Kehancuran Kemanusiaan

Senin, 22 April 2013 11:43 WIB
Maria Rida Ita Hasugian: Merekam Kehancuran Kemanusiaan
[HIDUP/Y. Prayogo]
Maria Rida Ita Hasugian

HIDUPKATOLIK.com - Penampilannya sederhana. Tutur wicaranya pun lugas. Namun, di balik kesederhanan dan kelugasan itu tersimpan keprihatinan mendalam.

Tiga tahun setelah menjadi wartawan, Tragedi Kemanusiaan Mei 1998 (TKM ‘98) meledak. Sebuah peristiwa kelam bagi negeri ini yang membuat Maria Rita Ida Hasugian, wartawan Koran Tempo, tersentak. Ia seperti memiliki ikatan sejarah dan batin pada peristiwa itu. “Saya tidak akan berhenti bersuara untuk mengingatkan dan menuntut tanggung jawab atas peristiwa tersebut. Sebab, saya juga korban,” terang perempuan yang biasa disapa Maria, ketika ditemui di kantornya di bilangan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Sabtu, 24/5.

Ia telah menjadi korban kesulitan ekonomi, ketidakadilan negara, dan ketiadaan perlindungan. “Saya sering diancam tidak boleh meliput dengan bebas,” ceritanya. Ia pun prihatin dengan opini masyarakat yang menilai bahwa korban adalah yang berdarah, diperkosa, dan dijarah. “Solidaritas kita lemah. Padahal, kita semua adalah korban dari peristiwa itu,” imbuhnya.

Empati perempuan kelahiran Medan, Sumatera Utara, 9 Mei 1970 ini, kemudian berubah menjadi sebuah komitmen. Ia mengaku, masih merasa terganggu dan selalu dihinggapi rasa bersalah, jika menyaksikan korban yang kini masih hidup dalam kepedihan. Maka, sebagai jurnalis, ia pun menulis. Ia menulis keprihatinan terhadap setiap kasus pelanggaran hak asasi manusia.

Menjadi corong
Meski keluarga sempat tak mendukung, Maria tak surut. Dukungan justru datang dari pamannya. Sejak SMA, sang paman selalu mendorongnya menjadi wartawan. “Kami suka nonton berita di televisi. Paman sering memberi saya tumpukan majalah dan kliping koran,” ceritanya. Maria jatuh hati pada profesi wartawan. Ia pun memutuskan masuk dalam dunia ini.

Pilihan Maria bukan tanpa alasan. Di balik profesinya itu, ia mempunyai impian. Ia ingin menjadi corong bagi mereka yang tidak memiliki kekuasaan, tidak mampu bersuara, miskin, dan yang termarjinalkan dalam deru dinamika negeri ini. “Saya tidak punya apa-apa membantu mereka, kecuali lewat tulisan di media,” tutur peraih penghargaan kategori nasional Apresiasi Jurnalis Jakarta 2003 dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Bagi Maria, menjadi wartawan adalah panggilan nurani.

Sejak menjadi wartawan Suara Pembaruan 1996-2001, warga Paroki St Bernadette, Ciledug, Tangerang ini sering diberi kesempatan merekam peristiwa konflik sosial. Ia selalu berusaha menempatkan diri sebagai wartawan yang independen. Nilai kemanusiaan adalah hal penting dalam setiap pemberitaannya. “Saya melihat sendiri kehancuran nilai-nilai kemanusiaan dalam konflik-konflik itu,” ujarnya.

Tak jarang, Maria harus meyakinkan atasannya bahwa hasil liputannya layak ditulis dan diketahui masyarakat. Namun, dalam hatinya selalu terbersit satu rasa khawatir, tulisannya akan berdampak pada korban. Hal ini membuatnya harus mengasah pikiran dan hatinya. Ia tidak semata-mata ingin menghasilkan tulisan hebat. Ia tidak ingin tulisannya justru menambah penderitaan bagi sang korban.

Sisi kemanusiaan yang makin terasah, menjadikan Maria tak lagi memiliki rasa takut. Ia kerap dipandang aneh. “Mereka bilang nyawa cuma satu dan jangan mau ambil risiko,” ceritanya menirukan ucapan teman-temannya. Namun, bagi putri pasangan David Hasugian dan Jean Hilderia Manik ini, hal itu justru menjadi tantangan. “Kerja wartawan ya seperti ini. Saya tidak mau menjadi wartawan yang biasa-biasa saja,” tandasnya.

Menjual nyawa
Pengalaman meliput di daerah konflik berulangkali, bukanlah tanpa kendala. Risiko ditolak narasumber kerap dialaminya. Bahkan, saat ia melakukan peliputan pasca pembunuhan Tengku Bantaqiah di Nangroe Aceh Darusalam, ia siap ‘menjual nyawa’. Ia berada dalam ancaman akan disergap dan ditembak oknum aparat negara. “Itu bukan pertama kali saya ke Aceh. Maka, saya siap terbunuh asal mayat saya bisa ditemukan. Yang saya pikirkan adalah para penduduk yang menjadi korban,” tegasnya dengan logat khas Sumatera Utara.

Liputan lain yang paling dikenang anggota Lembaga Kajian Demokrasi dan Hak Asasi (DEMOS) ini, adalah saat meliput kasus Khmer Merah di Kamboja. “Ini liputan pertama saya di luar negeri. Saya ke sana tanpa kenalan dan buta bahasa Khmer. Tapi, Tuhan membimbing saya selama satu bulan di sana,” terangnya. Seorang pastor asal Indonesia dan rekan wartawan di Kamboja banyak membantunya membuka jaringan dan berkomunikasi selama proses liputan berlangsung. Alhasil, ia bisa menginjak rumah salah satu arsitek kejahatan Khmer Merah dan berjalan ke desa-desa yang sangat miskin tanpa kendala berarti.

Hasil liputannya pun berbuah. Selain membuka wawasan masyarakat, Maria pun mendapat sejumlah penghargaan atas kerja kerasnya. Ia mendapat penghargaan dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) atas hasil liputannya menguak kasus penggelapan aset milik Departemen Sosial selepas masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid. Berkat tulisan ini pula, ia turut diundang dalam sidang HAM di Geneva, Swiss, 2005. Tak hanya itu, 2007, ia memenangkan Fellowship Southeast Asia Press Alliance (SEAPA) yang berkedudukan di Bangkok, Thailand, untuk hasil liputan kasus kekejaman Khmer Merah di Kamboja.

Meruntuhkan sekat
Meski penyelesaian kasus-kasus pelanggaran HAM dan konflik sosial di Indonesia tak kunjung tuntas, tak membuat Maria lelah dan menyerah dalam menuliskannya. “Saya masih mempunyai harapan. Walaupun solidaritas makin mengendur, kita harus mengakhiri impunitas, kejahatan tanpa hukuman. Bahkan, kita seringkali mendukung tanpa sadar, para pelaku kejahatan itu,” tegasnya.

Padahal, menurutnya, jika negara gagal dalam menyelesaikan kasus-kasus tersebut, masyarakat, akademisi, dan pemuka agama dapat mencari jalan penyelesaian terhadap kasus-kasus tersebut. “Tapi, mengapa ini tidak dilakukan? Bagi saya, ini kepedihan mendalam. Bahkan, Gereja Katolik juga seolah-olah tutup buku terhadap kejahatan seperti itu,” imbuhnya. Hal ini, menurut Maria, yang membuat para penguasa dan pelaku pelanggaran HAM dapat hidup tenang di Indonesia. Pemerintah tidak pernah mencari akar permasalahan agar peristiwa serupa tak terulang, namun justru selalu mencari korban yang akan dijadikan tumbal. Sementara masyarakat telah lelah mengikuti rangkaian panjang persoalan sosial di tengah pengaruh nilai-nilai hedonisme dan kapitalisme yang luar biasa.

Dalam menghadapi realitas ini, Maria selalu berpegang pada ajaran kasih dan semangat kesetaraan yang bersumber dari ajaran Yesus. Ajaran yang melintasi semua kepentingan, agama, ras, pendidikan, dan sebagainya. Maria berharap, “Semoga Gereja Katolik bersama masyarakat dapat memperjuangkan penyelesaian kasus-kasus pelanggaran HAM secara tuntas dengan meruntuhkan sekat-sekat duniawi.”

Veronika Novita L.M.




Kunjungan: 699
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com