Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Melepaskan Uang dari Ekaristi - Hidup Katolik

Melepaskan Uang dari Ekaristi

Minggu, 7 April 2013 16:23 WIB
Melepaskan Uang dari Ekaristi
[HIDUP/Y. Prayogo]
Marini Fransesco SX

HIDUPKATOLIK.com - Marini Fransesco SX mempunyai gagasan agar perayaan Ekaristi dilepaskan dari ikatan dengan uang. Stipendium, uang intensi Misa, dan iura stolae, jangan menjadi ukuran kualitas sakramen.

Ide Pastor Marini ini pernah dilontarkan dalam temu pastoral para imam di Keuskupan Agung Jakarta belum lama ini. Ide segar ini pun kemudian kembali didiskusikan dengan seluruh wartawan Majalah HIDUP di kantor redaksi, Kamis, 21/3.

Berbalut kemeja batik, imam kelahiran Ascoli Piceno, Italia, 19 September 1940 ini kembali mengudar ide-idenya. Meski sudah berusia 73 tahun, Pastor Marini tampak bersemangat meladeni setiap pertanyaan yang diajukan.

Ia memulai pembicaraan dengan evaluasi terhadap arah dasar pastoral Keuskupan Agung Jakarta. Harapan itu pun mewujud dalam gagasan yang menurutnya radikal, yakni melepaskan sama sekali perayaan Ekaristi dari ikatan dengan uang.

Belenggu agama
Menurut Pastor Marini, corak masyarakat di kawasan Asia, terutama di Indonesia adalah masyarakat yang beragama. Namun, beragama masih menjadi ‘baju’, belum menjadi hati dan tindakan. “Orang beragama itu tak cukup rajin ke gereja, berdoa, atau aktif berkegiatan. Itu semua belum cukup!” tegasnya.

Ia coba membandingkan dengan cara beragama orang-orang yang satu zaman dengan Yesus. Yesus, menurut Pastor Marini, amat kritis dengan cara beragama pada zamannya. Dia mengritik orang-orang Farisi. Ia tak bisa menerima cara-cara beragama mereka yang lebih mengutamakan hukum-hukum agama, daripada cara berperilaku. Yesus adalah seorang yang mau membarui cara hidup umat beriman. “Iman itu harus terus-menerus dibarui, dimurnikan, dan dibersihkan. Jangan pernah puas dengan cara beragama kita saat ini,” ucap Pastor Marini dengan nada tinggi.

Jika tak terus-menerus dimurnikan, iman dan agama justru bisa menjadi belenggu bagi manusia. Agama ada untuk membebaskan manusia dari belenggu dosa. Bukan justru sebaliknya, agama membuat manusia terbelenggu.

Pastor Marini mengajak menatap beberapa program kerja di paroki-paroki. “Saya yakin hampir sebagian besar kegiatan ditujukan untuk kalangan umat. Yang penting banyak umat yang ikut dan puas, itu sudah cukup,” kata Superior Jenderal SX periode 1989-2001 ini mengkritisi. Banyak kegiatan yang mengarah ke dalam Gereja, bukan ke luar Gereja. “Ini kan membuktikan bahwa selama ini agama ada untuk agama. Ini salah kaprah. Agama yang berpusat pada diri sendiri, itu sudah salah,” tandasnya. Ketika agama hanya berpusat pada dirinya sendiri, akan membelenggu hidup manusia. Dan inilah yang membuat agama semakin dikritik dan ditolak di Eropa.

Padahal, menurut Pastor Marini, Yesus menghayati relasi dengan Allah, dengan menjalin persaudaraan dengan orang lain. “Mengapa sekarang kita justru melupakankan hal itu? Bukankah agama ada untuk memerdekakan kita?” ucapnya.

Ikatan uang
Pastor Marini juga mensinyalir, jika agama dekat dan terikat dengan uang, akan sangat berbahaya. Makin jauh uang dari agama, itu makin baik. “Apalagi jika uang dijauhkan dari Ekaristi yang merupakan puncak kehidupan dan hal yang paling berharga dalam Gereja Katolik,” tandas pria yang menerima tahbisan imam pada 18 Oktober 1965 di Parma, Italia.

Ekaristi adalah pemberian diri Kristus seutuhnya bagi umat manusia secara cuma-cuma. Maka, sangat tidak cocok unsur uang masuk dalam perayaan Ekaristi. Karena, jika masih melekat dengan unsur uang, Ekaristi bisa kehilangan makna, yang merupakan pemberian gratis dari Tuhan.

Gereja sudah berhasil menjauhkan unsur uang dari Sakramen Tobat dan Minyak Suci. Menurutnya, kini saatnya Gereja menjauhkan unsur uang dari Sakramen Ekaristi, terutama melalui pratik pemberian stipendium dan uang untuk intensi Misa. “Stipendium dan intensi Misa bukanlah satu-satunya sumber penghidupan para pastor. Tanpa dua hal itu, pastor tak akan mati kelaparan. Jadi, jangan takut!” tegas Pastor Marini.

Tentang stipendium atau intensi Misa, serta iura stolae, memang telah diatur dalam Kitab Hukum Kanonik. “Saya kira, Gereja mesti berani mengambil sikap, agar menjauhkan unsur uang dari inti iman kristiani, yakni Ekaristi,” tegas imam yang pernah mengajar di STF Driyarkara Jakarta ini. Jika umat mau memberi sumbangan kepada Gereja atau para imamnya tidak harus dikaitkan dengan perayaan Ekaristi.

Namun, ia tak setuju jika kolekte dihapuskan. Karena menurutnya, kolekte merupakan sumbangan umat bagi Gereja dan bagi orang-orang miskin. “Itu harus tetap dipertahankan. Karena kolekte tidak memiliki unsur yang mengikat,” ucapnya memberi alasan.

Tak mudah
Namun, gagasan Pastor Marini ini tak serta merta disambut antusias. Bendahara Paroki Blok Q, Joseph Kwendarta Layhadi langsung tak setuju dengan gagasan ini. “Stipendium dan intensi Misa tetap diberlakukan. Jika memberinya dengan wajar, tak berlebihan, tentu tak ada unsur yang mengikat,” ucapnya.

Sementara, Kepala Paroki Blok Q, Johanes Sudrijanta SJ, mengatakan, melepaskan unsur ikatan uang dari Ekaristi, secara teologis bisa disepakati. Ia pun setuju jika semua pelayanan Sakramen diberikan secara cuma-cuma. Namun, tentu tak mudah dalam tataran praksis.

Hal senada diungkapkan Pastor Rekan Paroki Blok Q, Antonius Sumarwan SJ. Ia mengatakan, praktik pemberian stipendium dan intensi Misa amat sulit dihindari. Lantaran umat sudah terbiasa dengan ‘tradisi’ ini.

Pendapat yang hampir serupa pun diungkapkan Kepala Paroki Ciledug, Paulus Dalu Lubur CICM. Gagasan melepaskan uang dari pelayanan sakramen, terutama Ekaristi merupakan pemikiran yang terlalu idealistik. Ia memberi contoh: jika ada pastor tamu yang datang dari luar Jakarta, pasti membutuhkan uang transportasi. Dan tentu, umat tak akan sungkan memberikan stipendium kepada pastor tersebut. “Memang uang bukan yang utama. Tetapi, kita juga harus realitis, Gereja membutuhkan uang sebagai sarana dalam pelayanan,” ungkapnya.

Meski terasa jauh panggang dari api, Pastor Marini bergeming. “Saya memang yakin, gagasan saya ini tidak akan terjadi dalam waktu dekat. Jika ini hanya sebuah ide yang sia-sia pun, saya tidak akan menyesal,” tegas imam yang menginjakkan kaki pertama kali di Indonesia pada 1976 ini. Namun, ia menyelipkan pesan, “Orang harus rugi dalam mewartakan Injil. Jika beruntung, perlu dipertanyakan maksud pewartaannya. Segala sesuatu memang sedang diperdagangkan, tapi jangan dengan iman!” tegasnya.

Y. Prayogo




Kunjungan: 1712
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081318544200 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Info iklan | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com