Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Selingkuh dengan Pembantu - Hidup Katolik

Selingkuh dengan Pembantu

Senin, 22 April 2013 10:59 WIB
Selingkuh dengan Pembantu
[glossyarcade.com]

HIDUPKATOLIK.com - Pengasuh yang budiman! Saya memiliki masalah mohon kesediaannya memberikan jalan keluar. Sudah hampir enam tahun saya hidup berkeluarga dan telah dikaruniai dua anak. Namun, selama perkawinan, saya belum pernah merasakan apa yang dinamakan kebahagiaan. Saya dan suami penganut agama Katolik, namun latar belakang suami sebelumnya adalah Muslim. Perkawinan kami pada dasarnya tidak direstui oleh orangtua saya, karena perbedaan agama. Karena saling mencintai maka kami melakukan perbuatan yang sebenarnya tidak diperbolehkan, yang akhirnya saya hamil. Singkat cerita, akhirnya kami menikah, suami bersedia masuk agama Katolik.

Selama hamil tua dan melahirkan, saya mendengar bahwa suami saya ada main dengan pembantu mertua saya. Namun, saya tidak begitu saja percaya. Saya percaya apa yang dikatakan suami pada waktu saya tanyakan tentang kebenaran isu tersebut. Saya baru percaya setelah melihat sendiri.

Ketika itu, tidak sengaja di sela-sela bekerja saya tiba-tiba ingin pulang. Akhirnya, saya mengetahui suami sedang bercengkerama dengan pembantu di kamar. Hati ini rasanya sakit sekali, antara marah, jijik, dan benci. Namun, dengan kelembutannya, suami mampu meluluhkan hati saya untuk memaafkan perbuatannya yang khilaf. Setelah anak berusia kurang lebih empat tahun, kami punya rumah sendiri walaupun masih mencicil. Karena kami berdua bekerja, kami memutuskan untuk mencari pembantu yang bisa menjaga rumah sekaligus momong anak. Celakanya, kejadian yang menimpa kami terulang lagi. Suami berselingkuh lagi dengan pembantu kami pada saat saya mengandung anak kedua.

Sejak perselingkuhan kedua inilah hidup saya tidak bisa tenang lagi. Perasaan-perasaan benci, marah, jijik, dan curiga selalu ada dalam benak saya. Suami sudah berkali-kali minta maaf dan berjanji tidak akan mengulang lagi, namun sampai saat ini (anak kedua hampir usia satu tahun) saya belum bisa memaafkannya. Akibatnya, suasana rumah menjadi tidak nyaman. Hampir setiap hari muncul percekcokan, tidak saling tegur sapa. Kebutuhan-kebutuhan biologis sebagai suami-istri sudah tidak pernah kami lakukan.

Apa yang saya lakukan menghadapi persoalan keluarga kami. Rasanya saya ingin minta cerai. Namun, di sisi lain saya malu dengan keluarga dan dalam agama Katolik perceraian tidak diperkenankan. Sedangkan kalau saya diminta hidup bersama lagi dengan suami, rasanya sudah tidak sanggup lagi. Hati saya sakit rasanya dan hidup saya tidak tenang, selalu curiga, jijik, dan benci. Tampaknya sudah tidak ada lagi cinta pada diri saya. Mohon bantuannya.


Ny M di Kota S

Ny M di Kota S! Kami bisa merasakan bagaimana perasaan Ibu yang menyatakan bahwa selama ini belum pernah merasakan kebahagiaan bersama suami. Meskipun bila direnungkan, tentunya ada saat-saat bahagia dengan suami, yaitu sebelum terjadi peristiwa, maupun saat di antara peristiwa pertama dan kedua. Namun, tampaknya dengan terjadinya peristiwa yang kedua, Ibu merasa dikhianati, tidak dihargai, dan tentunya tidak dicintai oleh suami. Sehingga dengan peristiwa tersebut seakan-akan Ibu mendapat tamparan yang sangat menyakitkan dan menutupi semua kebahagiaan yang pernah Ibu rasakan dengan suami.

Tampaknya Ibu tidak sendirian dalam merasakan ketidakbahagiaan berumahtangga, banyak kasus yang kami tangani mirip dengan kasus yang Ibu hadapi. Namun, tempat dan situasi yang berbeda, antara lain ada suami yang berselingkuh dengan teman sekantor, teman lama, maupun dengan tetangga sebelah rumah. Sebaliknya, juga ada lho istri yang berselingkuh baik dengan suami orang lain maupun dengan pemuda-pemuda yang masih lajang. Dari beberapa kasus tersebut, memang ada yang bisa kembali membina hubungan keluarga dengan baik, tetapi juga ada yang berakhir dengan perceraian.

Membaca kisah kasus yang Ibu utarakan, tampaknya Ibu merupakan tipe orang yang tegar, penyabar, dan pemaaf. Hal ini terkesan dari pertama kali Ibu mengalami musibah dan membangun kembali bahtera rumah tangga. Tetapi, munculnya masalah yang kedua, tampaknya sangat mengguncangkan jiwa Ibu. Sampai-sampai hubungan layaknya suami-istri, kehidupan berkeluarga, bahkan kehidupan rohani Ibu terganggu, sehingga suasana rumah bukan lagi menjadi surga tetapi neraka.

Mengapa bisa terjadi seperti itu? Kita menyadari, manusia di dunia tidak ada yang sempurna. Terkadang pada saat tertentu kita kuat dan tegar. Namun, di lain waktu, kita lemah, mudah terpengaruh suasana emosi, dan merasa tak berdaya. Ini dapat menjadikan gambaran kondisi Ibu saat ini. Ibu baru mengalami kondisi yang lemah dan merasa tidak berdaya, di samping itu, dengan peristiwa yang tak terduga di mana suami yang selama ini dipercaya, ternyata sudah tidak dapat dipercaya lagi. Apalagi, peristiwa masa lalu muncul tergambar lagi di benak Ibu. Sehingga ibu kehilangan pegangan hidup dan merasa dikhianati.

Ibu mengalami konflik antara ingin berpisah dan rasa malu dengan keluarga maupun agama yang tidak memperbolehkan bercerai. Adanya konflik ini menjadikan Ibu ingin mencari dukungan baik dari segi manusia atau agamawi untuk menyetujui keinginan Ibu berpisah dengan suami.

Untuk menyelesaikan permasalahan ini, Ibu harus mampu berpikir rasional dan jangan terlalu terpengaruh oleh emosi yang saat ini masih mendominasi diri Ibu. Ibu harus ekstra hati-hati dalam mengambil keputusan karena ini menyangkut masa depan Ibu dan anak-anak. Kalau terlalu tergesa-gesa, ada kemungkinan justru kehidupan Ibu malah dapat menjadi tidak lebih baik, dan masa depan anak-anak bisa menjadi tidak jelas.

Ada tiga hal yang perlu direnungkan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan, agar tidak kecewa di kemudian hari:

Pertama,
cobalah bertanya pada diri sendiri, apakah di dalam lubuk hati yang terdalam masih ada rasa cinta dan kasih. Kalau masih ada rasa cinta, tentunya masih ada pintu maaf bagi suami, apalagi kalau mengingat anak-anak sebagai buah hati, masih membutuhkan adanya ayah di samping mereka.

Kedua,
mungkinkan untuk sementara waktu berpisah, dalam arti tidak bercerai. Untuk menjajaki apakah masing-masing masih mempunyai benih-benih cinta dan kerinduan untuk saling bertemu. Bila masih ada, kemungkinan bahtera rumah tangga masih dapat diselamatkan. Namun, sebaliknya, bila ternyata sudah tidak ada kerinduan dan benih-benih cinta sudah tidak ada lagi, perceraian tidak bisa dihindari.

Ketiga, pertimbangkan dampak positif dan negatif dari perceraian, atau keuntungan dan kerugiannya bagi anak-anak, Ibu sendiri, keluarga pihak Ibu dan suami, lingkungan masyarakat, maupun kehidupan menggereja. Kalau dampak negatif yang dominan atau kerugiannya lebih besar daripada keuntungan bila terjadi perceraian, maka bahtera keluarga perlu diselamatkan.

Bila Ibu sudah merenungkan ketiga hal di atas, Ibu perlu mencari pihak ketiga, dalam hal ini psikolog atau romo gereja terdekat untuk diajak berdiskusi, agar apa yang menjadi keputusan Ibu memperoleh dukungan.

Berkaitan dengan pandangan perceraian dari sisi agama Katolik, tampaknya pihak romo yang lebih tahu. Tentunya pandangan tersebut bisa menjadikan bahan renungan bagi Ibu dalam mengambil keputusan apakah tetap hidup bersama suami atau berpisah.

Kiranya cukup sekian apa yang bisa kami sarankan, seandainya Ibu masih belum jelas, bisa kembali menghubungi kami. Tuhan memberkati.

Haryo Goeritno




Kunjungan: 9498
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com