Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Paus dari Amerika Latin - Hidup Katolik

Paus dari Amerika Latin

Minggu, 7 April 2013 13:56 WIB
Paus dari Amerika Latin
[abcnews.go.com]
Paus Fransiskus merayakan Misa Minggu Palma di Lapangan Santo Petrus, Minggu, 24 Maret 2013.

HIDUPKATOLIK.com - Kesederhanaan hidup Kardinal Jorge Mario Bergoglio SJ membuat banyak orang tidak menyangka, ia bakal menggembalakan 1,2 miliar umat Katolik. Setelah dua paus berkebangsaan Polandia (Johanes Paulus II) dan Jerman (Benediktus XVI), muncul harapan baru dari luar Eropa. Tapi, mengapa dari Amerika Latin?

Jose Luis Tejada, menjuluki Amerika Latin sebagai ‘continente en llamas’, sebuah benua yang tengah menyala. Bak perapian, ia tidak hanya menghanguskan tetapi secara kreatif menyiapkan sesuatu untuk disajikan kepada dunia sebagai santapan. Benua itu juga disebut laboratorium tempat ideologi baru dipertaruhkan.

Di benua temuan Kolumbus ini, dua ideologi besar: kapitalisme dan sosialisme, beradu kekuatan. Misalnya, diktator kawakan seperti Pinochet (Cile), Aparicio Méndez (Uruguay), dan Alfredo Strossner (Paraguay), ialah penguasa negara yang sukses direkrut Amerika Serikat untuk melanggengkan dominasi liberalisme.

Di sisi lain, ekspansi ganas kapitalisme telah menumbuhkan kesadaran, yang terbaik adalah membangun di atas kekuatan sendiri. Lahirlah paham sosialisme yang tidak ingkar akan modal, seperti sosialisme marxis. Yang diutamakan, membidani lahirnya pemimpin altruis yang berani mengatakan ‘tidak’ pada neokolonialisasi dan secara konsekuen membangun ekonomi kerakyatan.

Wajah teologi pun menjadi lebih akrab dan humanis. Di benua dengan 40 persen populasi umat Katolik dunia itu, teologi begitu ramah untuk dijadikan pergulatan bagi umat yang diwadahi dalam komunitas basis.

Di kawasan yang berpenduduk Katolik 432 juta jiwa ini, lahirlah tokoh pemberani yang mengidentifikasikan diri dengan kaum miskin dan terpinggirkan. Sebut saja, Leonardo Boff dengan Teologi Pembebasannya. Bahkan ia harus berhadapan dengan Takhta Suci karena dianggap ajarannya terlalu berani. Lalu, muncul Uskup Agung San Salvador, El Salvador, Mgr Oscar Amulfo Romero y Galdamez (1917-1980), yang ditembak saat merayakan Ekaristi. Selain itu, ada juga Uskup Agung Olinda e Recife, Brazil, Mgr Helder Pessoa Câmara (1909-1999), yang memilih hidup dengan orang miskin. Mereka adalah contoh tokoh heroik kemanusiaan yang mempersembahkan hidupnya demi wajah Gereja yang lebih merakyat.

Kenyataan itu membuat Paus Johanes Paulus II, dalam 26 kunjungannya ke Amerika Latin, menyebut benua itu sebagai ‘continente de la esperanza’ alias benua harapan. Inilah tanda bahwa dari sini lahir hal-hal besar; tidak hanya bagi Gereja tetapi juga bagi masyarakat secara umum.

Pertanyaannya, apakah mozaik pembaruan ini juga akan dibawa Bergoglio? Mustahil bertanya demikian. Selama rezim diktator di Argentina (1976-1983), paus kelahiran Buenos Aires, 19 Desember 1936, itu dinilai oleh sebagian orang lebih dekat dengan penguasa. Kesetiaannya pada doktrin membuatnya kurang akrab dengan Teologi Pembebasan. Kesangsian itu bisa saja benar. Namun masa lalu tidak bisa dijadikan ukuran. Sejarah mencatat, Romero yang sangat merakyat, ternyata awalnya sangat pro penguasa. Ia menikmati privilese yang tidak sedikit. Seiring waktu bergulir, ia mengambil jalan lain yang lebih mengumat dan melawan penguasa korup secara terbuka. Harapan yang sama tentu saja digantungkan di pundak Paus Fransiskus.

Perubahan itu sudah tampak dari kesaksian hidupnya yang sangat bersahaja. Dalam homilinya, Bergoglio secara tegas mengkritik pemerintah yang membiarkan struktur ekonomi kapitalis berkuasa hingga ketimpangan sosial makin lebar (El Pais, 1/10/2009). Ia mengecam politisi Argentina dengan istilah ‘crispacion politica’, ekspresi pejabat yang kasak-kusuk mencari kekuasaan dan melupakan komitmen pada rakyat.

Optimisme ini mewarnai terpilihnya Bergoglio sebagai Paus. Dengan kesaksian hidup dan sensibilitas sosialnya, ia diharapkan dapat membawa angin pembaruan institusi Kuria Roma, yang tengah dilanda krisis. Lebih dari itu, diharapkan transformasi birokratis Vatikan yang sangat sentralitis bergeser menjadi desentralisasi dengan memberi kekuasaan untuk tiap keuskupan.

Paus Fransiskus juga diharapkan mampu mengidentifikasikan diri dengan para korban yang menghadapi kesewenangan siapa pun, termasuk negara adikuasa. Sebagai pemimpin umat Katolik dunia, seruan moralnya ditunggu untuk memengaruhi para pemimpin dunia supaya semakin ‘fair’ memainkan politik yang lebih beradab.

Robert Bala
A
lumnus Universidad Pontificia de Salamanca Spanyol,
pernah tinggal di Amerika Latin




Kunjungan: 635
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com