Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Sikap Tubuh Saat Berdoa - Hidup Katolik

Sikap Tubuh Saat Berdoa

Minggu, 22 Juni 2008 10:55 WIB
Sikap Tubuh Saat Berdoa
[articles.timesofindia.indiatimes.com]

HIDUPKATOLIK.com - Bagaimanakah sikap yang tepat ketika kita mendoakan “Bapa Kami,” apakah dengan kedua telapak tangan disatukan ataukah direntangkan terbuka ke atas?

E. Christiani, Bandung

Dalam Pedoman Umum Misale Romawi (Baru), No 51, Ende: Nusa Indah, 2002, No 42-44, ditetapkan bahwa sikap badan yang sama menunjukkan kesatuan seluruh umat yang hadir, sebab dalam sikap badan yang sama dicerminkan sikap batin yang sama pula. Dalam konteks ini, yang dimaksud “sikap badan” adalah sikap berdiri. Tetapi, aturan liturgi Gereja tidak menetapkan tentang posisi tangan. Maka, ada kebebasan bagi umat untuk berdoa dengan telapak tangan disatukan atau direntangkan terbuka ke atas.

Doa Bapa Kami adalah doa anak (-anak) kepada bapanya. Isinya adalah pujian, pengakuan akan kemuliaan, dan permohonan. Baik sikap tangan disatukan maupun direntangkan ke atas, keduanya bisa mencerminkan sikap memuji, mengakui, dan memohon. Maka, tergantung pada umat untuk memilih sikap mana yang dirasakan lebih sesuai untuk mengungkapkan isi hatinya. Sebaiknya umat tidak menyamai sikap imam yang merentangkan tangan cukup tinggi. Jika dikehendaki untuk merentangkan tangan, cukuplah setinggi dada.

Di paroki kami, ada ketidakseragaman dalam mendoakan “Doa Damai” sesudah Bapa Kami. Ada imam yang mengajak umat mendoakan bersama, ada imam yang meminta agar umat tidak ikut mendoakan. Manakah yang benar?

Elisabeth Endang Murniati, Pangkal Pinang

Yang benar ialah umat tidak ikut mendoakan. Seharusnya, umat hanya menjawab pada akhir doa dengan “amin”. Namun, bentuk doa yang disediakan memang mengandung ajakan untuk umat, yaitu “maka marilah kita mohon damai kepada-Nya.” Akibatnya, ada imam (dan umat) yang masih melihat bentuk “Doa Damai” ini seperti dalam TPE lama, yaitu umat ikut aktif mendoakan. Keikutsertaan umat ini sedikit mengobati “ke-tidak-ikutsertaan” secara aktif dalam Doa Syukur Agung.

Seorang teman, yang aktivis Gereja Protestan, meyakini adanya reinkarnasi. Dasarnya ialah Mat 18:28-31; Mat 17:10-13; Yoh 3:3; Yoh 8:56-58 dan Ibr &:1-3. Apakah boleh kami menyimpulkan bahwa masih banyak hal kebesaran Tuhan yang tidak dibuka pada manusia. Dalam banyak hal, pandangan Gereja Katolik juga bisa berubah dan ini membuat saya bangga menjadi seorang Katolik.

Y. Haryanto, Bogor

Pertama, uraian lebih lengkap tentang reinkarnasi bisa dibaca pada HIDUP, No 32, 12 Agustus 2007. Jelas bahwa Gereja Katolik menolak ajaran tentang reinkarnasi. Menimbang substansi ajarannya, kiranya tidak akan ada perubahan tentang ajaran Gereja tentang reinkarnasi. Memang banyak terjadi perubahan dalam Gereja Katolik. Tetapi, perubahan-perubahan itu tidak menyangkut inti ajaran pokok ajaran iman. Sungguh baik, kita bangga menjadi Katolik. Tetapi, tetap perlu mengetahui kepastian ajaran iman kita sendiri sehingga tidak mudah diombang-ambingkan.

Ada rujukan biblis yang, menurut saya, tidak terkait dengan reinkarnasi. Atau, mungkin salah tulis? Misalnya, Mat 18:28-31 dan Ibr 7:1-3.

Kedua, identitas Yohanes Pembaptis (Mat 17:10-13; bdk juga 11:13-14) bisa dimengerti dengan lebih baik kalau kita menyimak Luk 1:17: dan ia akan berjalan mendahului Tuhan dalam roh dan kuasa Elia untuk membuat hati…” Roh dan kuasa merujuk pada semangat atau roh Yohanes Pembaptis yang sama dengan semangat Elia. Ungkapan ini tidak bisa diartikan sebagai reinkarnasi Elia dalam diri Yohanes Pembaptis. Hal ini tampak jelas ketika Yohanes ditanya secara eksplisit, apakah dia adalah Elia. Jawaban Yohanes sangat terang dan tegas: “Bukan” (Yoh 1:21). Ketika menampakkan diri di Gunung Tabor, para murid mengenali Elia, bukan Yohanes Pembaptis (Mat 17:1-8).

Ketiga, rujukan Yoh 3:3 dijelaskan oleh Yesus sendiri, bukan dalam arti biologis tetapi dalam arti rohani, yaitu “dilahirkan dari air dan Roh” (ay 5). Pembaptisan juga disebut sebagai sakramen kelahiran kembali. Sedangkan Yoh 8:56-58 tidak bisa dijadikan dasar untuk reinkarnasi, karena di sini Yesus secara implisit menunjukkan keilahian-Nya. Sebagai Allah, Yesus “telah ada” bahkan “sebelum Abraham jadi”.

Keempat, ajaran yang paling eksplisit menolak reinkarnasi ialah Ibr 7:27: “Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi…” Demikian pula kepada penyamun di salib, Yesus tidak merujuk ke reinkarnasi sebagai sarana pemurnian, tetapi menegaskan “hari ini” penyamun itu akan menikmati kebahagiaan surgawi (Luk 23:43). Yesus menunjukkan sikap tegas bahwa tidak ada reinkarnasi.

Pastor Dr Petrus Maria Handoko CM




Kunjungan: 1537
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com