Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


60 Tahun Kongregasi MASF: Didirikan karena Terdesak - Hidup Katolik

60 Tahun Kongregasi MASF: Didirikan karena Terdesak

Jumat, 26 April 2013 17:13 WIB
60 Tahun Kongregasi MASF: Didirikan karena Terdesak
[NN/Dok.MASF]
Generasi berkualitas: Suster-suster MASF bersendagurau dengan para calon pribumi

HIDUPKATOLIK.com - Kongregasi Suster-suster Misi dan Adorasi dari Santa Familia (MASF) didirikan Pater Antonius Maria Trampe MSF, setelah mengunjungi Kalimantan Timur, 1935.

Sebagai Pemimpin Umum Misionaris Keluarga Kudus (MSF) di Roma, Pater Trampe punya kewajiban mengunjungi daerah-daerah misi MSF di seluruh dunia, tidak terkecuali di Indonesia.

Tahun 1935, ia mengunjungi para misionaris MSF di Jawa dan Kalimantan Timur. Ketika mengunjungi Kalimantan Timur, Trampe mendapat desakan dari para misionarisnya. “Kami sangat memerlukan tenaga suster saat ini. Bila tidak diberi, lebih baik kami berhenti saja menjadi misionaris di sini. Misi di Kalimantan ditutup saja,” demikian ancaman para misionaris.

Trampe bisa memahami desakan tersebut. Karena ketika ia mengunjungi bumi Borneo bagian Timur itu, Pater Trampe menyaksikan kenyataan yang menggetarkan dan menggugahnya. Saat sampai di Tering yang waktu itu menjadi pusat misi di Kalimantan Timur, ia melihat perkembangan Gereja Katolik sangat lambat.

Hal itu disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain daerah misi yang amat luas, transportasi sulit, kemiskinan, pendidikan yang rendah bagi anak-anak dan kaum muda, dan pengetahuan kesehatan kurang sehingga banyak perempuan melahirkan meninggal dunia.

Usai mengunjungi Kalimantan, Trampe kembali ke Roma. Desakan para misionaris terus mengiang dan menggugahnya. “Bagaimana bisa menemukan tenaga suster secepatnya?” tanyanya dalam hati.

Saat di Eropa, Trampe menghubungi beberapa kongregasi suster. Namun tidak ada satu kongregasi pun yang dapat memberikan tenaga suster karena sudah banyak menangani daerah misinya sendiri. Selain itu ada alasan lain bahwa dalam negeri sendiri masih banyak karya yang harus ditangani, sehingga tidak mungkin bisa mengirim tenaga ke luar negeri.

MASF Lahir
Dalam situasi seperti itu, Trampe memutuskan mendirikan kongregasi suster. Ia pun mengakui daerah misi tanpa suster bagaikan keluarga tanpa ibu.
Terdorong oleh semangat berbelarasa dan keprihatinan terhadap sesamanya, terutama di tanah Borneo, Trampe berusaha mewujudkan harapan para misionaris MSF akan kehadiran para suster di daerah misi.

Dengan susah payah Trampe mendapatkan izin dari Roma. Berbagai syarat harus dipenuhi. Ia menyusun konstitusi sebagai panduan tarekat. Ia mencari suster-suster pendamping bagi calon baru. Usahanya berhasil. Dua suster SND dari Tegelan bersedia membantunya. Mereka adalah Suster Benedicta SND dan Suster Waltera SND.

Setelah semua persiapan dilakukan, 26 Juni 1937 di Baarlo, Belanda, MASF resmi berdiri. Hal itu ditandai dengan pemberkatan rumah biara dan Misa untuk pertama kali di kapel biara bekas kastil. Kastil tersebut merupakan rumah bangsawan De Raay.

Dipilih nama MASF dengan maksud agar para suster dalam karya kerasulan dijiwai oleh semangat Keluarga Kudus, penghormatan terhadap Keluarga Kudus dan Adorasi, yakni Penyembahan kepada Sakramen Mahakudus. Semua itu sebagai ungkapan iman, kesatuan, dan menimba kekuatan hidup dari Kristus yang hadir dalam Sakramen Mahakudus.

Sejak itu para calon anggota MASF berdatangan dan bergabung dalam kongregasi tersebut. Mereka didampingi dan dididik dalam mengemban tugas perutusan ke tanah misi. Kelak mereka bertugas menghadirkan Kristus dalam pelayanan bagi sesama yang miskin dan lemah terutama perempuan dan anak-anak.

Setelah melalui proses pendidikan yang cukup, 7 Februari 1948, dua suster MASF pertama dikirim ke Indonesia dengan naik kapal laut. Beberapa saat kemudian menyusul tujuh suster lain. Dari semua itu, tiga suster ditugaskan di Tering.

Para suster pionir itu mengemban tugas perutusan di Kalimantan yang penuh tantangan. Iman yang teguh dan mental hidup yang kuat, membuat mereka sanggup menyesuaikan diri dan melaksanakan tugas perutusan. Kesaksian hidup dalam pemberian diri secara total menjadi teladan bagi orang setempat, terutama generasi muda.

Impian untuk mendidik benih baru dari bumi Borneo mulai dirintis. Tahun 1952, dua orang gadis suku Dayak Bahau menjalani masa postulat. Kelak, keduanya mengikrarkan kaul pertama pada 19 Maret 1954. Mereka adalah Suster Benedicta Deraup MASF dan Suster Baptista Ding MASF.

Seiring perkembangan waktu, saat ini jumlah suster MASF 59 orang. Mereka berkarya di Keuskupan Agung Samarinda, Keuskupan Agung Semarang, Keuskupan Surabaya, dan Keuskupan Atambua.

Dari ruang makan
Karya kerasulan pertama yang ditangani di Kalimantan adalah pendidikan. Karya itu dimulai dengan mengelola Taman Kanak-kanak Santa Miriam. Saat memulai karya tersebut, MASF menumpang di Pastoran Santa Theresia Balikpapan. Ruang makan para pastor disulap menjadi ruang kelas. Pada pagi hari digunakan untuk belajar, siang hari digunakan sebagai ruang makan.

Selain karya pendidikan, MASF juga ber-karya untuk pendampingan asrama, yakni Asrama Putri Nasaret di Tering, Asrama Kartini di Samarinda, dan Asrama Putri di Kaputu (Timor).

Karya kesehatan sudah dirintis tahun 1949 di Tering. Tahun 1962 di Samarinda dengan Poliklinik Keluarga Suci. Selanjutnya poliklinik itu berkembang menjadi RS Dirgahayu. Tahun 2004 diresmikan Poliklinik Santa Familia di Barong Tongkok Kutai Barat.

Dalam pembinaan hidup rohani umat, para suster MASF membangun Rumah Retret Bukit Rahmat di Putak, Loa Duri Kabupaten Kutai Kertanegara. Pembangunan rumah retret ini dirasa penting karena para suster melihat kualitas kehidupan rohani masyarakat cukup rendah. Rumah pembinaan spiritual itu masuk dalam wilayah Keuskupan Agung Samarinda.

Tahun ini suster-suster MASF merayakan usia kongregasi yang ke-60. Dari Samarinda sebagai pusat Kongregasi MASF di Indonesia, para suster terus menghidupi Tubuh-ku, darah-ku, hati-ku untuk-MU. Dengan semangat itu pula para suster terus menggelindingkan roda-roda karya kerasulan. Dalam karya itu, mereka terus menemukan Tuhan dan merasakan cinta-Nya.

Sebagai ucapan syukur atas usia yang ke-60, para suster menggelar berbagai kegiatan. Antara lain, kerja bakti bersama umat, pengobatan gratis, bazar, seminar dan kegiatan untuk kaum muda di rumah retret Bukit Rahmat Putak tanggal 15-17 Juni.

Perayaan Syukur Agung akan dilaksanakan bersamaan dengan Hari Ulang Tahun ke-50 SMP Mikael, Minggu 27 Juli 2008 di Balikpapan. Upacara puncak akan dipimpin Uskup Agung Samarinda Mgr Florentinus Sului MSF.

Sr. Jeannette Alies L MASF




Kunjungan: 930
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com