Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Pengusaha Muda, Penyalur Berkat - Hidup Katolik

Pengusaha Muda, Penyalur Berkat

Minggu, 21 April 2013 15:51 WIB
Pengusaha Muda, Penyalur Berkat
[NN/Dok.Pribadi]
Theresia Alit Widyasari

HIDUPKATOLIK.com - Ia pernah berjualan es mambo, stiker, kaos, jaket, dan martabak. Kegagalan demi kegagalan sering menderanya. Namun, tak membuatnya surut. Ia meraih dua penghargaan sebagai pengusaha muda.

Bagi Theresia Alit Widyasari, dunia bisnis memang bukanlah hal baru. Semenjak kanak-kanak, Widya sudah sering melakukan bisnis kecil-kecilan seperti berjualan es mambo di depan rumahnya. Ia juga pernah berjualan stiker, kaos, serta jaket di sekolah.

Bahkan, selepas dari SMA St Ursula Jakarta, Widya bersama kedua kakaknya menjajaki bisnis martabak. Namun sayang, bisnis ini belum berhasil. Ia ditipu. “Kokinya tiba-tiba kabur dan buka usaha martabak persis di depan rumah kami,” ujar perempuan kelahiran 19 Desember 1982 ini mengenang pengalaman pahit itu.

Meski gagal, Widya tak pantang menyerah. Ia terus mencoba beragam peluang bisnis. Dengan modal terbatas, ia pernah membuka lembaga pendidikan Bahasa Inggris, tambak udang, hingga berjualan daging.

Merintis distro
Sampai pada 2004, Widya melihat secercah harapan. Distribution outlet atau distro sedang marak. Alumnus Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini pun tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia mendirikan distro bernama “Bloop” di kawasan Tebet, Jakarta Selatan. “Bloop” itu suara yang timbul ketika batu dimasukkan ke dalam air. Suara terjadi karena ada udara di dalam air. Itu menandakan ada harapan hidup,” ujar umat Paroki St Leo Agung Jatiwaringin, Bekasi ini memberi alasan.

Bisnis ini pun tak berjalan mulus. Widya mengalami pasang surut dalam berbisnis distro. Meski toko sudah ada, ia tidak memiliki modal untuk membeli
produk terbaru. “Saat itu, saya belum bisa menghasilkan produk sendiri. Alhasil kami minta orang atau toko lain mengisi baju di distro kami,” urai anak bungsu dari tiga bersaudara ini.

Widya memang tak sendiri mengembangkan bisnis ini. Ia dibantu kedua kakaknya, Martinus Sunu Susatyo dan Bartolomeus Saksono Jati. Tiga bersaudara ini bahu-membahu membangun bisnis ini. Widya pun kerap mengambil baju ke Bandung, mengurus bagian kasir dan gudang, promosi dari rumah ke rumah, memilih bahan, hingga melayani pembeli.

Suatu ketika, ada seorang pembeli yang ngotot membeli baju di Bloop, padahal toko belum buka. “Kami persilakan masuk, lalu pembeli ini membeli baju seharga 50 ribu rupiah,” ceritanya. Peristiwa itu menorehkan kegembiraan luar biasa dalam kenangan Widya. Ia percaya, inilah awal keberhasilan bisnisnya.

Bloop
pun mulai dikenal. Hingga saat ini, banyak pelajar, mahasiswa, hingga karyawan menyambangi Bloop. Bahkan salah satu presenter acara Music Television (MTV) hanya mau mengenakan baju dari Bloop. “Waktu itu, saya modal nekat datang langsung menawarkan baju ke MTV. Puji Tuhan, saya disambut baik. Bloop dikenal orang salah satunya melalui MTV,” urai perempuan yang bercita-cita keliling dunia ini.

Melebarkan sayap
Sukses dengan Bloop, Widya mendirikan distro lain bernama Endorse (2005)
dan Urbie (2009). Pada 2005, ia juga melebarkan sayap bisnis di bidang kuliner dengan mendirikan Dejons Burger & Steak. Ide bisnis kuliner datang ketika Widya melihat banyak keluarga yang mengunjungi Bloop. “Anak sibuk berbelanja, sedangkan orangtua duduk diam. Ini peluang usaha lagi,” beber pemenang Ernst & Young Entrepreneurial Winning Women 2010 ini. Bisnis kulinernya tak sampai di situ. Pada 2007, Widya kembali memperluas usaha kuliner dengan mendirikan Nasi Bebek Ginyo. Nama “Ginyo” diambil dari nama neneknya, Genyodihardjo. Kini, Widya selalu disibukkan dengan berbagai aktivitas. Selain menjadi pemilik, ia juga didaulat menjadi marketing director dari beberapa bisnisnya itu. “Tugas ini penting, karena saya harus mempertahankan bisnis ini. Membuat bisnis baru mudah. Asal ada uang semua bisa. Tapi mempertahankannya itu yang sulit!” tegas Widya.

Saluran berkat
Saat ini, melalui beragam usahanya itu, Widya telah memperkerjakan sekitar 120 orang. Bagi Widya, bisnis juga bisa menjadi saluran berkat bagi banyak orang. “Ini suatu anugerah!” ungkapnya.

Widya pun selalu menekankan agar para karyawannya menjadi entrepreneur. “Kami punya koperasi untuk karyawan. Mereka bisa meminjam modal untuk membuka usaha,” ujar alumnus University of Westminster London, Inggris ini.

Kini, Widya hanya bisa bersyukur atas segala keberhasilan dan kegagalan yang pernah ia alami. “Saat bersyukur, kita memiliki energi positif untuk bangkit kembali. Tuhan tidak pernah tidur dan sekuat apapun kita berjuang, Tuhan pasti melihat,” kata putri pasangan Antonius Kardjono dan FR Retno Pratiknyo Siwi ini.

Widya selalu berusaha melakukan segala sesuatu yang terbaik. Menurutnya, ketika melakukan yang terbaik, segala kegagalan yang terjadi akan membentuk pribadi lebih matang dan baik. “Selalu pegang tangan Tuhan. Seberat apapun masalah, selama masih ada harapan, harus bertahanlah. Jika jatuh, percayalah Tuhan sudah menyiapkan yang lebih baik,” tandas finalis British Council, International Young Creative Enterpreuner Award 2008 ini.

Aprianita Ganadi




Kunjungan: 1059
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com