Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Dari Palasari Menuju Toraja - Hidup Katolik

Dari Palasari Menuju Toraja

Minggu, 31 Agustus 2008 15:09 WIB
Dari Palasari Menuju Toraja
[Rm. Fabi Pr]
Strategi jitu: Di tengah-tengah konteks multi kultural, imam Projo membutuhkan kemampuan untuk melahirkan strategi pastoral yang jitu

HIDUPKATOLIK.com - Berikut adalah tulisan Romo Yosef Dedy Pradipto Pr dalam bentuk tanya jawab. Beliau adalah salah seorang anggota Panitia Pengarah Musyawarah Nasional IX UNIO di Makassar dan Tana Toraja, 4 – 10/8/2008.

Apa perbedaan Munas kali ini dengan tiga tahun lalu? Munas VIII Unio Indonesia tahun 2005 berlangsung di Keuskupan Denpasar, tepatnya di Paroki Palasari pada 27-30/6. Tema yang diambil waktu itu adalah “Imam Diosesan dalam Suka dan Duka di Tengah Umat”.

Belajar dari Palasari tiga tahun lalu?
Lewat proses tersebut, para peserta Munas semakin menyadari perlunya berpastoral berdasarkan data (pastoral services by data) dan bukan berdasar perkiraan, perasaan, dan asumsi (pastoral services by feeling and assumption). Karena itu, salah satu rekomendasi yang mengemuka dan menjadi ketetapan Munas adalah perlunya pengayaan dan pemberdayaan (enrichment and empowering) para imam Projo dalam berbagai keterampilan – lewat ongoing formation – terlebih keterampilan dalam mencari dan mengolah data untuk memetakan konteks sebagai dasar berpastoral.

Yang baru dari Munas kali ini?
Munas-munas sebelumnya biasa berlangsung di rumah retret atau tempat-tempat yang bisa menampung untuk penginapan dan memiliki ruang pertemuan formal yang cukup besar, dengan lebih banyak perbincangan formal, dan bentuknya bernuansa rapat. Setidaknya, ada dua hal baru yang terjadi di Munas VIII Unio Indonesia 2005. Pertama, tempat berlangsungnya Munas tidak lagi di rumah retret melainkan mengambil tempat di salah satu paroki di Keuskupan Denpasar sebagai tuan rumah. Paroki yang dipilih adalah Palasari yang memiliki kekhasan tidak hanya pada soal arsitektur bangunan gereja yang bernuansa Hindu Bali, melainkan karena Paroki Palasari juga memiliki sejarah yang khas pula. Lalu, peserta Munas tidak tinggal dalam satu tempat melainkan ‘disebar’ untuk live-in di rumah-rumah umat; sementara tempat pertemuan pleno dilakukan di ‘Balai Banjar’ setempat. Dengan demikian, tema “Imam Diosesan dalam Suka dan Duka di Tengah Umat” tercicipi, paling tidak memberikan insight tertentu. Hal ini menjadi pengalaman yang sangat menarik. Kedua, Munas tidak lagi hanya berisi rapat dan perbincangan formal melainkan ada satu proses pembelajaran bersama yang dilakukan.

Yang khas dari MUNAS kali ini?
Pertama, Munas Unio Indonesia IX berlangsung di dua tempat, di Kota Makassar dan di Kevikepan Tana Toraja yang berjarak delapan jam perjalanan dari Makassar. Di Toraja, para peserta tetap live-in di rumah-rumah umat dengan suasana sosio-kultural, alam, dan lingkungan yang sangat berbeda dari Kota Makassar. Di Makassar, tepatnya di Aula Keuskupan Agung Makassar, berlangsung pembicaraan formal tapi dalam suasana hangat persaudaraan khas Unio yang memang mengedepankan persaudaraan bukan perserikatan. Rapat-rapat, LPJ pengurus, masukan dan usul-usul, pemilihan pengurus baru, serta beberapa rekomendasi diputuskan bersama di Makassar.

Kedua,
tema yang diusung pada Munas IX ini adalah: Imam Projo di Tengah Konteks Multikultural – “Menemukan Benih Sabda di Tana Toraja” , maka panitia juga menyiapkan acara yang dinamakan Tur Budaya ke beberapa tempat wisata budaya, seperti Ke’te’ Kesu’, Kambira, Tangdan, Balik-Bokko-Bebo’, Lemo, Londa, Suaya, Marante, Penanian, dan beberapa tempat wisata budaya lainnya. Di Toraja juga diadakan Seminar Budaya Toraja: “Menemukan Benih-benih Sabda di Toraja” dengan pembicara Mgr Dr John Liku-Ada’ Pr (Uskup Agung Keuskupan Agung Makassar) – Doktor Spiritualitas lulusan Pontificia Universitas Gregoriana, Roma dengan disertasinya yang mengupas tentang Budaya Toraja dan Stanislaus Sandarupa PhD, seorang antropolog linguistik lulusan University of Chicago, yang menulis disertasi tentang puisi dan politik dalam ritual kematian di Toraja. Moderator seminar ini adalah Mgr Dr P. Piet Timang Pr (Uskup terpilih Keuskupan Banjarmasin).

Ketiga, para peserta Munas kali ini sungguh beruntung karena sempat menyaksikan dan ikut serta – menikmati, upacara pemakaman secara adat yang disebut dengan Rambu Solo. Bahkan, pada kesempatan itu banyak peserta Munas yang dengan antusias ikut larut dalam tarian Ma’Badong. Selain itu, dalam rangka Misa Syukur Munas IX Unio Indonesia yang telah mencapai seperempat abad dan 70 tahun Gereja Katolik di Toraja, diadakan Pesta Syukur Panen se-Kevikepan Toraja. Dengan demikian, para peserta Munas kembali mendapatkan kesempatan untuk menyaksikan, mengalami, dan menikmati upacara adat Rambu Tuka’. Rambu Tuka’ adalah acara adat yang berhubungan dengan acara syukuran.

Yang menarik dari Tur Budaya ke berbagai tempat budaya di Tana Toraja?
Dengan berbagai ‘bekal’ informasi dan wacana yang disiapkan oleh panitia, para peserta Munas dihantar untuk sedikit demi sedikit masuk dan mengenal kultur Toraja. Salah satu tur budaya yang menarik adalah melihat pasar hewan di Rantepao. Di pasar hewan ini, para peserta Munas tidak hanya diajak mengenali babi dan kerbau yang mahal untuk persembahan atau kuat sebagai aduan, melainkan juga dihantar untuk sampai pada insight sosio-ekono-kutural karena, ternyata menurut salah satu umat yang memang mengenal dan dikenal di pasar hewan tersebut, perputaran uang di pasar hewan tersebut bisa mencapai miliaran rupiah.

Apa pengalaman konkret yang signifikan?
Salah satu pengalaman yang tak terlupakan bagi para peserta Munas adalah keikut-sertaan dalam acara adat Rambu Solo nenek Romo Aidan Pr. Kalau dikaitkan dengan tulisan Stanislaus Sandarupa di Harian Kompas, Jumat, 14 Maret 2008 yang memberikan alasan mengapa Toraja menjadi sebuah budaya yang unik di dunia, ya karena “Toraja as the town of the living dead persons” (Toraja, “Kota” Orang Mati yang Hidup). Salah seorang peserta Munas dalam seminar budaya mengungkapkan keheranannya karena ritus kematian yang oleh orang di luar Toraja dianggap menakutkan dan menimbulkan rasa ngeri, di Toraja justru dirayakan secara besar-besaran, dan orang yang sudah meninggal bisa beberapa lama ‘disimpan’ di rumah karena dianggap sebagai orang sakit.

Lainnya?
Rambu Tuka’. Ultah ke-25 Unio Indonesia serta 70 tahun Gereja Katolik di Toraja tentu bukan peristiwa yang sederhana, maka kalau kemudian disyukuri secara besar-besaran melibatkan 11 paroki se-Kevikepan Toraja tentu menjadi maklum. Ungkapan syukur ini dirayakan dengan Pesta Syukur Panen.

Pelajaran dari proses inkulturasi Gereja Katolik Toraja?
Satu hal yang bisa dipetik sebagai pembelajaran dari Toraja adalah dengan melihat berbagai tempat wisata budaya di Toraja, kemudian terlibat mengikuti upacara adat Rambu Solo dan Rambu Tuka’, Gereja Katolik Toraja ditantang untuk menemukan strategi pastoral berdasarkan pemetaan konteks berbasiskan data. Tidak hanya persoalan acara adat, warisan tradisi dari agama Alukta yang hendak dihantar mengalami proses inkulturasi, melainkan juga berbagai macam persoalan sosio-ekono-kultural yang melingkupinya mesti dicermati secara seksama. Pergeseran nilai dan tata sosial serta pandangan dari sudut ekonomi untuk meneropong biaya yang cukup besar untuk acara-acara adat tersebut, ketika tidak ditanggapi dengan arif akan jatuh pada arogansi Gereja Katolik yang hendak memurnikan proses kultural yang berlangsung, seperti diungkapkan salah seorang imam Projo Keuskupan Agung Makassar yang menjadi local genius karena kompetensinya di bidang upacara adat. Ia mengatakan bahwa Gereja terlalu sombong ketika berhadapan dengan budaya setempat. Juga salah satu narasumber sempat mengungkapkan, kalau Gereja tidak paham akan kultur yang memberi nuansa tafsir atas tata acara adat, maka Gereja hanya akan dianggap ‘lari’ dari proses inkulturasi yang sesungguhnya. Dalam hal ini, dibutuhkan kompetensi dan kapasitas di tataran wacana dan keterampilan di aras praksis, agar dengan demikian strategi pastoral sungguh menjawab tantangan konteks sosio-kultural yang dipotret berbasiskan data penelitian. Saat ini, konteks multikultural yang dihadapi oleh masing-masing keuskupan dan mesti ditanggapi oleh setiap imam Projo, membutuhkan kemampuan untuk melahirkan strategi pastoral yang jitu.

Pastor Yosef Dedy Pradipto Pr




Kunjungan: 526
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com