Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Mengatasi Kesulitan Ekonomi Keluarga - Hidup Katolik

Mengatasi Kesulitan Ekonomi Keluarga

Minggu, 31 Agustus 2008 15:50 WIB
Mengatasi Kesulitan Ekonomi Keluarga
[NN]

HIDUPKATOLIK.com - Yth., Ibu Pengasuh Konsultasi Keluarga. Saya adalah seorang istri dan ibu tiga anak (satu di antaranya masih balita). Umur saya 50 tahun tetapi masih energik karena sebagai tulang punggung keluarga, saya harus berjuang keras.

Saya menikah secara Katolik 18 tahun yang lalu. Suami lulusan SLTA bekerja di swasta. Sejak menikah suami selalu bermasalah dengan pekerjaannya (sering di-PHK tetapi juga cepat mendapatkan pekerjaan lagi). Saya berprofesi sebagai bidan yang bekerja di rumah sakit swasta sambil praktik kecil-kecilan di rumah.

Tahun 2006, saya mengundurkan diri dari tempat kerja saya di RS karena posisi dan penghasilan suami sudah lumayan. Bahkan, ia mendapat persetujuan dari kantor untuk kredit rumah. Tiba-tiba, entah ada masalah apa di kantornya, awal 2007 posisi suami dipindah dan rencana kredit rumah dibatalkan.

Sejak itu, keadaan ekonomi keluarga kacau. Modal usaha hasil pesangon dari RS terpakai untuk bayar kontrak rumah, biaya sekolah, dll. Suami mengetahui keadaan ini tetapi pasif saja, tidak bisa membantu apa-apa. Suatu saat pernah saya diskusikan semua keadaan keuangan keluarga (ada pembukuannya) dengan suami. Hasilnya malah suami sakit (dadanya sesak dan pusing).

Berdasarkan pengalaman itu, bila ada kesulitan saya berusaha menangani sendiri, sampai-sampai saya harus berhutang ke sana-kemari. Beberapa saran pernah saya usulkan kepada suami, karena sebagai aktivis di lingkungan, Gereja, paduan suara dsb, dia punya banyak relasi, barangkali melalui relasinya suami bisa mendapatkan pinjaman untuk modal usaha dsb.

Saran inipun tidak pernah dijalankan, mungkin karena gengsi. Saya sangat sayang pada suami dan anak-anak. Saya selalu berdoa supaya diberi umur panjang agar bisa mendampingi anak-anak sampai mereka dewasa.

Belakangan ini saya sering susah tidur, saya hampir putus asa menghadapi keadaan ini. Bagaimana saya harus bersikap kepada suami? Mohon saran dan petunjuk. Terima kasih.


Ny Fransisca, Jakarta

Ibu Fransisca yang baik!
Saya dapat memahami dan ikut prihatin dengan keadaan Ibu. Dalam kehidupan suami istri, idealnya seorang istri (atau suami) bisa mendapatkan dukungan dari pasangannya bila mempunyai masalah, baik masalah pribadi, masalah pekerjaan maupun masalah rumah tangga. Dengan demikian, beban akan terasa lebih ringan karena orang terkasih berada di pihak kita. Tetapi, hal ini tidak terjadi pada diri Ibu.

Beban masalah rumah tangga, terutama masalah keuangan, yang mestinya ditanggung berdua dengan suami, ternyata justru Ibu panggul sendiri setelah suami di-PHK. Padahal, sekarang ini Ibu sudah telanjur keluar dari rumah sakit tempat ibu bekerja. Tentunya penghasilan hanya diperoleh dari praktik kecil-kecilan di rumah, yang tentu tak seberapa bila dibandingkan dengan kebutuhan keluarga yang semakin meningkat dengan bertambahnya usia anak.

Ibu terpaksa memutar otak bagaimana caranya agar uang yang ada bisa mencukupi kebutuhan, tetapi tentu saja tidak akan bisa karena jumlah pemasukan sangat tidak seimbang dengan pengeluaran. Alhasil, pesangon Ibu dari rumah sakit (yang mestinya diperuntukkan sebagai tambahan modal usaha) terpaksa digunakan. Bahkan, belakangan Ibu juga terpaksa berhutang ke sana kemari. Tentu Ibu menjadi stres.

Apalagi, dalam kondisi yang demikian suami yang mestinya memberikan dukungan dan rasa aman, ternyata justru harus Ibu jaga perasaannya agar tidak sakit. Karena itu, saya dapat memahami bila belakangan ini Ibu sulit tidur, bahkan nyaris putus asa.

Dari penuturan Ibu, tampaknya suami Ibu mengalami perasaan tak berdaya dan takut menghadapi kenyataan bahwa ternyata ia tak mampu melaksanakan dan memenuhi tanggung jawabnya untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Beliau tentu bingung dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Tiap kali mendapatkan pekerjaan, mencapai posisi bagus di kantor, tiap kali pula di-PHK.

Karena itu, ketika Ibu mengajak beliau berdiskusi tentang masalah keuangan keluarga, semakin parahlah tekanan yang dialaminya, sehingga ia ‘sakit’.

Berkaitan dengan ini, tampaknya suami Ibu membutuhkan bantuan. Ibu bisa minta bantuan pastor atau psikolog (bila memungkinkan) untuk berbicara dengan suami dan membantunya mengatasi masalah. Atau, paling tidak bisa mengurangi tekanan yang dirasakannya. Dalam pembicaraan ini, barangkali bisa terungkap pula mengapa suami selalu tertimpa sial dalam bekerja.

Selanjutnya, untuk Ibu sendiri, demi kesehatan serta kesejahteraan, akan baik bila Ibu mempunyai kawan untuk berbagi perasaan (curhat). Beban dan tanggung jawab yang Ibu sangga tentu berat sekali, membuat Ibu stres.

Dalam kondisi demikian, bukan tidak mungkin Ibu menjadi sering marah terhadap suami dan anak-anak, bermuka masam, atau kadang secara tak sadar mengungkapkan sesuatu yang menyakitkan sehingga suasana rumah menjadi tidak menyenangkan.

Untuk itu, alangkah baiknya bila Ibu bisa berbicara (curhat) dengan seseorang yang dipercaya. Berbicara dan mengungkapkan isi hati akan sangat baik untuk mengurangi stres yang Ibu rasakan, sehingga Ibu merasa sedikit ringan dan bisa berpikir lebih jernih.

Berkaitan dengan masalah ekonomi keluarga, saran saya sebagai berikut:
1. Bila selama ini suami Ibu tidak mau menghubungi teman-temannya, tidak ada jalan lain kecuali Ibu yang harus menghubungi mereka untuk mencari kemungkinan mendapatkan pekerjaan atau pinjaman sebagai modal usaha. Sebelumnya, katakan pada suami bahwa Ibu akan menghubungi teman-temannya agar ia tahu apa yang Ibu lakukan, syukur-syukur ia bisa menunjukkan teman mana yang sebaiknya Ibu hubungi. Tetapi, sebelum hal itu dilakukan, sebaiknya Ibu menyadari sifat-sifat dan kelemahan-kelebihan suami untuk menentukan langkah selanjutnya.

Suami Ibu adalah orang yang selalu bermasalah di tempat kerja, sehingga ia sering di-PHK tetapi mudah mendapatkan pekerjaan lagi meski akhirnya di-PHK lagi. Ia juga aktivis di lingkungan dan Gereja. Tampaknya suami Ibu adalah orang yang mudah memulai suatu relasi tetapi kurang pandai mempertahankannya. Dengan menyadari hal itu, ketika kelak ada teman yang mau memberi pekerjaan pada suami atau mau meminjamkan modal, Ibu bisa membantunya agar tidak mengulang kesalahannya.

2. Bila Ibu dan suami berencana membuka usaha baru, harus dipikirkan baik-baik tentang usaha yang akan dijalankan untuk meminimalisasi kegagalan. Sebaiknya usaha itu dikelola berdua sehingga bisa saling tolong dan saling mengingatkan. Lebih dari itu, sebaiknya masalah keuangan Ibu saja yang mengelola, karena tampaknya Ibu tertib dalam pembukuan.

3. Ajak anak-anak ikut terlibat dalam upaya mengatasi kesulitan keuangan keluarga. Anak-anak bisa diajak berpikir bagaimana caranya menekan pengeluaran. Syukur-syukur, mereka malah bisa membantu usaha orangtua. Misalnya, anak-anak bisa melakukan kegiatan produktif (membuat sesuatu yang ada nilai jualnya), membantu usaha orangtua atau sekadar membantu pekerjaan di rumah di luar jam sekolah.

Dra V Sri Sumijati MSi




Kunjungan: 657
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com