Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Selingkuh Batin - Hidup Katolik

Selingkuh Batin

Kamis, 14 Agustus 2008 16:25 WIB
Selingkuh Batin
[intellectualsunited.wordpress.com]

HIDUPKATOLIK.com - Pengasuh yth! Saya adalah ibu dari 2 orang anak (berusia 5 tahun dan 3 tahun).Usia saya 33 tahun, suami 39 tahun. Saya bekerja sebagai guru SMP, suami bekerja di sebuah perusahaan swasta nasional dengan posisi cukup baik. Bulan Agustus 2008 ini, perkawinan kami genap sewindu. Banyak tetangga dan rekan kerja sering berkomentar kami adalah pasangan serasi. Namun sejujurnya,itu tidak benar.

Sampai tahun ke-6 perkawinan kami, mungkin hal itu benar. Tetapi untuk dua tahun terakhir ini, sesungguhnya bahtera perkawinan kami terasa gamang seperti kapal tongkang yang terombang-ambing ombak. Semua itu mulai terjadi setelah suami banyak bertugas di luar kota. Dalam sebulan rata-rata suami efektif di rumah 5–7 hari. Selebihnya bertugas di luar kota. Saat di rumah pun, dia lebih sibuk dengan “istri pertama”-nya, yakni laptop.

Suasana kemesraan yang mewarnai tahun-tahun awal kehidupan perkawinan kami, rasanya sudah muskil terjadi. Komunikasi antara kami sebatas hal-hal teknis, tidak pernah terjalin lagi dialog sambung-rasa.

Sejauh yang bisa saya rasakan sebagai istri, dia tampaknya tidak memiliki wanita idaman lain (WIL). Semoga perkiraan saya benar. Sejak muda dia adalah tipe pria kaku (zakelijk) dan sulit akrab dengan orang lain. Yang saya tahu, dia adalah orang yang “gila kerja” (workaholic).

Tidak ada yang lebih berarti dari pekerjaannya. Sebagai istri, rasanya saya ini tak lebih dari pengasuh anak saja. Saya tidak pernah curhat ke siapapun tentang kondisi kehidupan perkawinan kami ini, dan berupaya untuk bisa menyikapinya dengan hati tabah.

Hanya saja entah bagaimana, secara diam-diam sudah sekitar tujuh bulan ini saya menjalin relasi khusus dengan seorang pria. Dia adalah rekan kerja saya sekantor. Dia sudah menikah namun belum dikaruniai anak. Orangnya teduh, ramah, dan matang dalam menyikapi hidup. Dia sendiri, agaknya cukup tahu dan bisa merasakan ”perasaan spesial” saya terhadapnya. Tetapi bagaimana sebenarnya dia menyikapi perasaan saya, saya tidak tahu.

Sejauh ini media komunikasi dengannya hanya melalui pesan singkat handphone. Itu saya lakukan dengan ekstra hati-hati. Di saat saya sangat merindukannya, saya menulis pesan via sms. Setiap kata saya timbang sedemikian rupa agar tidak ”terbaca” sebagai ungkapan perasaan yang suntuk dengan kerinduan hati untuk bertemu. Biasanya dia juga langsung menjawab sms saya, namun dengan kata-kata yang agaknya juga diupayakan agar terbaca ”netral” dan tidak mengarah ke ungkapan perasaan khusus.

Nampaknya kami sudah sama-sama tahu “misteri” dari setiap kata yang tertulis di sms itu. Setiap mendengar ”beep” balasan sms, hati saya berbunga-bunga. Namun juga ada semacam deraan rasa nelangsa jangan-jangan balasan sms-nya sungguh hanya “netral”. Kadang ketika saya tiba-tiba rindu berat lalu mengirim sms kepadanya, dan dia tidak segera membalas...Duh, tersiksanya hati ini. Kadang terlintas harapan menggebu diajak dia untuk pergi keluar, berduaan saja. Tetapi itu hanya sebatas dorongan di hati.

Hingga detik ini saya belum pernah sekalipun melakukan pertemuan secara khusus empat mata dengannya. Saat dorongan itu memuncak, saya sering uring-uringan, sulit sekali tidur dan jadi mudah marah pada anak-anak.

Selain itu, saat merasakan situasi seperti itu, hati nurani saya juga menggugat, menyalahkan apa yang saya rasakan itu. Apa yang sesungguhnya terjadi dan saya lakukan ini? Secara lahiriah saya tidak/belum melakukan hal-hal yang nista. Tetap sejujurnya: dalam batin terdalam saya, rasanya pria itu sudah begitu ”merasuki” hidup saya. Benarkah saya tengah melakukan ”selingkuh batin”? Mohon kiranya pengasuh berkenan memberikan tanggapan atau advis. Terima kasih.


Ibu ASW – Salatiga

Ibu ASW yang budiman!

Perasaan manusia memang rumit. Apalagi jika itu menyangkut perasaan asmara. Asmara ’terlarang’ lagi. Pertanyaan Ibu, ”Apa yang sesungguhnya terjadi...?” Ibu sedang mencari suatu saluran lain untuk membuka sumpalan kekosongan yang tengah terjadi dalam kehidupan perkawinan ibu. Dari surat pendek yang ibu kirim, sebenarnya saya seperti dipepat oleh keterbatasan informasi. Tetapi, dengan keterbatasan itu sekaligus bisa terasa dahsyatnya ”pergulatan” ibu menghadapi realitas kehidupan berkeluarga.

Dengan berani ibu menyebut istilah ”selingkuh batin”. Agaknya memang itu yang tengah Ibu alami. Dalam banyak kisah dan kasus, perselingkuhan riil yang melibatkan aktivitas dan manuver fisik bermula dari ide, pikiran, dan gelora batiniah. Bila dilacak ke akarnya, semula adalah kondisi kehidupan perkawinan yang terasa mulai hambar. Mulai hambar karena mampetnya komunikasi dan rasa kejenuhan, yang bermula dan kian menggejala akibat berbagai perasaan, seperti penyesalan atas keputusan menikah, ketidakbermaknaan, dikhianati pasangan, tidak dipedulikan, tidak dipercaya, tidak adanya respek antara suami-istri.

Komunikasi dalam kehidupan perkawinan adalah hal sehari-hari, namun sangat vital bagi prospek keberlanjutan hidup perkawinan itu sendiri. Komunikasi adalah password sekaligus saluran (outlet) penampang yang penting untuk menjaga terpeliharanya perasaan didukung, dipercaya, dihargai, diperhatikan, bermakna dan dihormati sebagai partner dalam mengarungi suka-duka kehidupan.

Bila terjadi kemacetan, apalagi ”korsleting” dalam komunikasi dengan pasangan, maka kebutuhan komunikasi akan dialihkan ke pihak lain yang dirasa mau, bersedia, dan bahkan bersikap responsif menanggapinya. Dari sinilah bermula terjadinya curhat, dari hal sehari-hari yang sifatnya sederhana hingga yang sifatnya sangat pelik dan pribadi. Dari curhat yang semakin intens inilah lalu bisa terjadi relasi intersubjektif yang kian “tanpa batas”antara dua orang yang terlibat.

Bila dua orang ini adalah wanita dan pria yang menemukan kecocokan, maka batas untuk menerobos di wilayah afeksi (perasaan) menjadi semakin terbuka lebar. Di batas inilah barangkali apa yang disebut “perselingkuhan batin” dengan mudah dilansir.

Dalam bukunya Not Just Friends psikolog Shirley Glass, mencatat kesimpulan risetnya 85% perselingkuhan selalu bermula dari curhat. Dengan kemajuan teknologi informasi, media curhat semakin banyak alternatifnya (bisa lewat sms, chatting, e-mail, dsb).

Boleh jadi beban tugas dan ritme workaholik sang suami merupakan salah satu penyebab terjadinya kemacetan komunikasi. Namun, memang demikian kah yang terjadi? Bagaimana dengan hal-hal yang disebutkan di atas? Ibu sendirilah yang kiranya lebih mungkin mengidentifikasinya dengan lebih akurat.

Sebagai catatan akhir, keharmonisan dan surga perkawinan tentunya merupakan dambaan kebanyakan pasutri. Tetapi itu semua sesungguhnya bukan selalu berupa kondisi dan suasana yang definitif-selesai. Untuk mencapainya perlu pengupayaan berkelanjutan. Dalam pengupayaan itu kadang terjadi pengalaman jatuh dan bangun di luar harapan dan perkiraan.

Mungkin Ibu saat ini tengah merasa jatuh. Ibu perlu menyadari, pembelajaran kehidupan kadang terasa tak tertanggungkan. Tetapi dengan kemauan yang kuat, Ibu berhak untuk bangun, agar kehidupan bisa dilanjutkan.

H.M.E. Widiyatmadi MPsi




Kunjungan: 781
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com