Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Potret Kerumitan Masalah di Bumi Papua - Hidup Katolik

Potret Kerumitan Masalah di Bumi Papua

Minggu, 28 April 2013 11:17 WIB
Potret Kerumitan Masalah di Bumi Papua
[Dok.Pribadi RD Michael Wisnu Agung Pribadi]
Upacara Barapen: Pastor Mike dan Pastor Fe (jaket hitam) bersama umat Bomomani berdoa untuk memulai acara adat mereka, membakar daging babi untuk disantap bersama

HIDUPKATOLIK.com - Kompleksnya masalah Papua memicu terjadinya konflik berkepanjangan. Banyak pihak tergugah dan bermimpi mengubah keterpurukan itu, serta menjadikan Papua Tanah Damai dengan dialog.

Rasa cemas menghinggapi Pastor Michael Wisnu Agung Pribadi. Saat itu, imam Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) ini berkarya di Paroki St Andreas Kedoya, Jakarta Barat. Tiba-tiba Uskup KAJ Mgr Ignatius Suharyo mengutusnya ke Papua. “Saya baru tiga bulan ditahbiskan; belum pernah ke sana. Tapi saya taat dan harus berangkat,” papar imam yang akrab disapa Pastor Mike ini. Sebelum berangkat, Pastor Mike belajar bercocok tanam,
menukang, dan beternak hingga ke Jawa Barat.

Ia datang di Paroki St Maria Menerima Kabar Gembira Bomomani, Dogiyai, Papua, pada 2010. Paroki yang mayoritas umatnya Suku Mee ini telah dilayani oleh imam KAJ, Pastor Johan Ferdinand, beberapa tahun sebelum Pastor Mike tiba. Ia diutus untuk menggantikan Pastor Fe, panggilan Pastor Johan Ferdinand, dan melanjutkan karyanya. Misi ini menjadi kerjasama Keuskupan Timika dan KAJ.

Pembodohan terstruktur
Mengawali karyanya di Bomomani, Pastor Mike amat terkejut. Ia bertatap muka dengan cara hidup dan pola pikir umat pedalaman yang sangat sederhana dan miskin.

“Bayangkan: kalau pakai motor lalu mogok, mereka pikir motornya rusak. Jika rusak, mereka pasti akan membuangnya. Padahal ketika saya cek, motor itu habis bensinnya. Mereka tidak tahu itu. Seperti parang tumpul, mereka tidak tahu cara mengasahnya, sehingga langsung dibuang, dan beli baru,” kisah Pastor Mike.

Hal itu terjadi karena pendidikan sangat parah. Miris rasanya, melihat anak-anak tidak lolos ujian masuk SMA. Padahal soal yang diujikan diambil dari kelas IV salah satu SD di Kelapa Gading, Jakarta Utara. “Bagaimana intelektual mereka berkembang, jika tiap hari pelajarannya hanya olah raga, cari kayu, dan hal lain yang sifatnya fisik?”

Masalah kian kompleks ketika penduduk dicekoki budaya konsumtif dengan bantuan pemerintah berupa uang. “Kalau pendatang menyetor uang ke bank, orang Papua selalu ambil uang. Inilah bedanya penduduk asli dengan pendatang,” jelas Pastor yang dijuluki Enanapode (yang sudah ada dijadikan lebih baik) ini.

“Suatu hari, ada mama Papua lewat depan pastoran membawa pisang untuk dijual. Sepulang dari pasar, mama itu saya tanya: uangnya dipakai untuk apa. Saya sangat terpukul mendengar jawabnya: membeli pisang goreng,” kenangnya.

Ia merefleksikan, ada ketidakberesan di Papua. Kekayaan alam berlimpah, tapi penduduk tetap miskin. “Siapa tidak tahu, emas berlimpah di Papua? Ironisnya, mama-mama Papua hanya bisa pakai anting peniti.” Banyak uang dibuang di Papua, mengondisikan supaya orang asli tetap bisa dibodohi dan menjadi malas. Bagi Pastor Mike, orang lokal menjadi korban ketidakadilan struktural.

Selain itu, disinyalir bahwa peluang korupsi dibuka lebar dalam proyek pembangunan Papua. “Saya pernah lewat jembatan kayu yang nyaris tak berfungsi setelah berumur dua tahun. Kata seorang umat, itu proyek seharga 70 juta,” ungkap Pastor Mike. Kisah serupa passim di pedalaman sebagai potret kegagalan pembangunan Bumi Papua.

Jalan kemandirian
Sejak Pastor Fe bermisi di Bomomani, telah dicanangkan visi pastoral ‘mewartakan kabar gembira pada umat yang termarginalkan oleh peradaban’. Karena itu, dicari langkah strategis dan taktis untuk membumikannya.

Paroki misi mulai membuka kios yang menjual kebutuhan harian. Ini dilakukan untuk mengantisipasi penduduk yang biasa berbelanja di kios-kios pendatang yang harganya mahal. “Kami bikin kios, berisi kebutuhan sehari-hari dengan harga lebih murah,” ujar Pastor Mike.

Prinsipnya, orang Papua harus mereguk manisnya keadilan di tanah sendiri. Maka langkah demi langkah ditempuh. Pastor Mike mulai belajar bersama umat beternak babi, kambing, ayam, dan ikan. Lalu, mengajari mereka bercocok tanam dan mengolah hasilnya. “Dengan demikian, orangtua tidak perlu ke hutan mencari sayuran, sehingga keluarga punya waktu lebih banyak untuk berkumpul,” tegas Pastor Mike yang mewajibkan setiap
kampung punya alat masak sendiri.

Koperasi pun dibentuk untuk meningkatkan ekonomi rakyat. Koperasi ini khusus mewadahi pengembangan usaha kopi. Paroki misi menemukan potensi kopi khas Papua. Pastor Mike mendatangkan trainer yang mengajarkan cara
memelihara, memetik, mengupas, hingga memproduksi sendiri. Namun, usaha ini direcoki pemerintah. Rakyat diberi uang segar, yang menjadikan mereka malas. “Ketika umat diberi uang, produksi kopi mereka turun. Mereka bilang: sekarang tak perlu jual kopi lagi, karena sudah dapat uang,” tiru Pastor Mike.

Uang dan beras dari pemerintah, membuat rakyat menjadi malas, pasif dan konsumtif. Namun, paroki misi tetap berjuang memandirikan mereka. Segala upaya dikerahkan karena butuh modal besar. Kerja sama dengan berbagai pihak dan penggalangan dana dari Jakarta dilakukan.

Pendidikan mulai dilirik. Mindset orang Papua harus diubah, pengetahuan makin luas, dan bisa mandiri. Kebutuhan listrik untuk tujuh kampung dipenuhi. Didirikanlah Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) yang membekali mereka cara membaca, menulis, dan berhitung, serta kecakapan hidup.

Kesehatan pun diperhatikan. Kebiasaan penduduk membuat perapian di dalam rumah yang kecil tak berjendela, mengakibatkan sakit paru-paru. Lalu dibuatlah rumah sehat dengan sirkulasi udara.

Bagi Pastor Mike, Gereja harus mewartakan kabar gembira, yakni keadilan, yang ditunjukkan lewat hal-hal kecil. Misi imam KAJ sejak Pastor Fe, Pastor Mike, dan sekarang Pastor Yustinus Kesaryanto, mungkin kecil. Namun, buahnya tampak dalam perubahan sikap hidup umat Bomomani. “Biarpun kecil, ada efeknya. Keadilan tercapai dengan hal-hal yang kecil,” tandas pastor yang sejak Februari 2013 bertugas di Paroki Bunda Teresa Cikarang, Bekasi, Jawa Barat ini.

Akar permasalahan
Lain halnya dengan usaha yang dilakukan Adriana Elisabeth bersama empat tim kajian konflik Papua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Sebagai peneliti, Adriana dan tim menggelar riset selama empat tahun (2004-2008), mengenai persoalan dan penyelesaian konflik di Papua. Tujuannya, memetakan rumitnya permasalahan Papua, menganalisis, dan memberi rekomendasi untuk pertimbangan dalam pengambilan keputusan.

Pengalaman bersentuhan langsung dengan orang Papua cukup dalam membekas di benak Adriana. Datang sebagai ‘orang asing’, kurang diterima, dicurigai, sempat dimarahi, menjadi bunga-bunga selama riset. “Akhirnya masyarakat Papua melihat konsistensi dan keberpihakan kami dalam menyuarakan fakta, mereka mulai mempercayai kami dan mau diajak bicara serta diskusi,” ujar perempuan kelahiran Jakarta, 8 Juni 1963 ini.

Tahap demi tahap riset dilalui: memetakan para aktor yang terlibat, mengkaji potensi damai di tengah konflik, menemukan titik terang dengan dialog dan trust building menuju rekonsiliasi. Adriana dan tim pun belajar banyak metode manajemen konflik dari negara lain. Hasilnya, buku ‘Papua Roadmap’ (2008) diluncurkan sebagai buah kerja keras tim LIPI.

“Dari 1962-an hingga penelitian kami, bahkan sampai sekarang, permasalahan yang terjadi di Papua masih tetap sama. Kami menyimpulkan ada empat permasalahan dasar: marginalisasi dan diskriminasi, kegagalan pembangunan, kekerasan negara dan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM), serta sejarah dan status politis,” ungkap perempuan yang menjadi peneliti LIPI sejak April 1989.

Adriana berpendapat, semua permasalahan Papua saling berkorelasi dan tidak bisa dilepaskan satu dengan yang lain. Diharapkan, penyelesaiannya disesuaikan dengan kondisi masyarakat dan daerah setempat.

Pendekatan dialogis
Berdasarkan hasil kajian Adriana dan tim, dialog bisa menjembatani penyelesaian masalah Papua. Pendekatan dialogis justru tercetus dari masyarakat Papua sendiri. Sebenarnya, potensi itu ada dalam tradisi Papua, seperti: bakar batu sebagai simbol kesepakatan damai, dan diskusi para-para.

“Saya coba masuk ke diskusi itu, meski masyarakat justru menjadikannya ajang mengeluh, cerita masa lalu. Namun, saya sedikit demi sedikit mulai mengubah forum itu menjadi forum damai. Kita mau apa untuk menyelesaikan permasalahan yang ada, bukan sekadar mengeluhkannya,” ujarnya.

Menurut Adriana, pendekatan dialogis menunjukkan pendekatan yang melibatkan masyarakat untuk menjawab permasalahan dan konflik di Papua. Maka pada 2009, LIPI menfasilitasi training dan workshop bagi tokoh masyarakat, tetua adat, pemerintah daerah, dan institusi yang ada di Papua. Tujuannya, sosialisasi dan membangun dialog antar orang Papua.

Hal serupa digelar lagi pada Januari 2010. Selain sosialisasi secara kontinyu, dilakukan konsultasi publik di 26 daerah Papua dan pendekatan pada paguyuban pendatang. “LIPI bekerja sama dengan Jaringan Damai Papua (JDP) yang dimotori Pastor Neles Tebay,” ungkap umat Paroki St Thomas Kelapa Dua, Depok, Keuskupan Bogor ini.

Adriana menegaskan, dialog bukan untuk Papua merdeka atau Papua bagian
NKRI, tapi bagaimana menciptakan Papua tanah damai. Dengan dialog, komunikasi antara pemerintah dan masyarakat Papua dibuka lebar. Namun sebagai masyarakat heterogen, orang Papua harus berkonsolidasi, menyamakan suara: visi-misi politik, ekonomi, sosial budaya, lingkungan, dll.

Pendekatan dialogis secara kontinyu menjadi rekomendasi Adriana dan tim bagi pemerintah. Harapannya, pintu solusi konflik Papua tersibak dan kebijakan yang diambil mengarah pada impian Papua tanah damai.

Sylvia Marsidi/Maria Pertiwi/R.B.E. Agung Nugroho




Kunjungan: 778
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com