Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Sepuluh Perintah Berbeda - Hidup Katolik

Sepuluh Perintah Berbeda

Rabu, 22 Mei 2013 10:24 WIB
Sepuluh Perintah Berbeda
[davemosher.com]

HIDUPKATOLIK.com - Mengapa Sepuluh Perintah Allah di Puji Syukur No 6 tidak sama dengan yang ditulis di Kel 20:1-7, khususnya pada perintah ayat 4 tentang patung? Demikian pula penomoran juga berbeda. Apa dasar perubahan tersebut? Mohon penjelasan.

Paulus Hadi Sigit, Malang

Pertama, Kitab Keluaran mengisahkan Musa mendaki Gunung Sinai dan menerima kesepuluh Firman dari Allah (Kel 20:1-17). Kitab Suci jelas-jelas mengajarkan bahwa ada 10 Firman Allah (Ul 4:13; 10:4). Tetapi, masalahnya ialah jumlah perintah yang diberikan, bukannya sepuluh tetapi duabelas, yaitu (1) jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku (ay 3); (2) jangan membuat bagimu patung (ay 4); (3) jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya (ay 5); (4) jangan menyebut nama TUHAN Allahmu dengan sembarangan (ay 7); (5) ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat (ay 8); (6) hormatilah ayahmu dan ibumu (ay 12); (7) jangan membunuh (ay 13); (8) jangan berzinah (ay 14); (9) jangan mencuri (ay 15); (10) jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu (ay 16); (11) jangan mengingini rumah sesamamu (ay 17 a); (12) jangan mengingini istrinya (ay 17 b).

Kedua, karena jumlah perintah itu tidak sesuai dengan namanya ”Sepuluh Perintah” maka sejak dahulu sudah ada perdebatan tentang bagaimana menghitung perintah-perintah itu sehingga menjadi sepuluh. Philo dari Alexandria dan ahli sejarah Josephus Flavius adalah orang-orang pertama yang mengusulkan penomoran 10 Perintah tersebut. Untuk menjadikan sepuluh, mereka menggabungkan ay 4 dan 5 serta ay 17a dan 17b masing-masing menjadi satu perintah.

Dengan demikian, ada empat perintah berkaitan dengan Allah, dan enam perintah berkaitan dengan sesama manusia. Penomoran yang demikian diterima oleh para penulis awali, misalnya Origenes, Tertullianus, Gregorius Nazianze. Juga aliran Lutheran, Kalvinist, dan Anglikan mengakui penomoran seperti itu.

Ketiga, penomoran demikian tidak diterima oleh pejabat Yudaisme. Para Rabbi mengusulkan penomoran yang berbeda dalam Kitab Talmud. Sebagai perintah pertama adalah ”Akulah Tuhan Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan.” (ay 2). Perintah kedua ialah gabungan antara ayat 3 sampai 5. Sedangkan perintah ketiga sampai kesembilan adalah mengikuti penomoran di atas. Perintah kesepuluh adalah gabungan dari ay 17a dan 17b.

Dengan demikian, tetap ada empat perintah berkaitan dengan Allah dan enam perintah berkaitan dengan sesama manusia. Orang-orang Yahudi mengikuti penomoran ini.

Keempat, pada abad kelima, Santo Agustinus mengusulkan penomoran yang berbeda. Agustinus sependapat dengan para Rabbi bahwa perintah-perintah berkaitan dengan memiliki allah lain, membuat gambarnya atau menyembahnya, sebenarnya memang hanyalah satu perintah saja yang diungkapkan secara berbeda. Maka ay 2-6 haruslah dipandang sebagai satu perintah saja. Namun, berbeda dengan para Rabbi, Agustinus berpendapat bahwa ketiga perintah itu bukanlah perintah kedua, melainkan haruslah disatukan dengan perintah pertama.

Perintah kedua dan selanjutnya mengikuti penomoran Kitab Talmud, kecuali perintah terakhir. Agustinus memisahkan ay 17 menjadi dua. Perintah kesembilan melarang mengingini akan istri dan sesama, sedangkan perintah kesepuluh melarang mengingini harta milik sesama. Agustinus adalah orang pertama yang mengusulkan pembedaan dua perintah dari ay 17.

Penomoran Agustinus ini menetapkan tiga perintah berkaitan dengan Allah dan tujuh perintah berkaitan dengan sesama. Agustinus mengaitkan ketiga perintah itu dengan Allah Tritunggal Mahakudus. Penomoran Agustinus ini diterima oleh sebagian besar teolog Kristiani dan para ahli Abad Pertengahan. Gereja Katolik menggunakan penomoran ini sebagai versi resmi dari Sepuluh Perintah Allah oleh Gereja Katolik.

Kelima, pada pertengahan abad ke-XVI, ketika Gereja mulai mengajarkan katekismus dan umat diminta untuk menghafalkan perintah-perintah itu, dirasa perlu menyesuaikan rumusan perintah-perintah itu dalam terang wahyu hidup dan ajaran Yesus Kristus. Untuk menekankan monoteisme, kata dan uraian tentang ”allah lain” dihilangkan dan ditekankan inti larangannya, yaitu ”jangan menyembah berhala”. Demikian pula Yesus Kristus adalah gambar Allah, maka murid-murid Yesus membenarkan pengungkapan iman melalui gambaran. Maka, ungkapan tentang ”patung” dihilangkan (bdk HIDUP No 09, 4 Maret 2007). Selanjutnya, karena orang-orang Kristiani merayakan ibadatnya pada hari Minggu, yaitu hari kebangkitan Kristus dari antara orang mati, maka kata ”Sabat” juga dihilangkan.

Pastor Dr Petrus Maria Handoko CM




Kunjungan: 955
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com