Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Maria, Perempuan Ekaristi - Hidup Katolik

Maria, Perempuan Ekaristi

Kamis, 23 Mei 2013 14:31 WIB
Maria, Perempuan Ekaristi
[marys-touch.com]

HIDUPKATOLIK.com - Dalam pendalaman iman di lingkungan kami, seorang awam pemandu pendalaman iman mengatakan bahwa Maria adalah perempuan Ekaristi, karena penyerahan Maria (Luk 1:38) bisa disamakan dengan “amin” yang diucapkan pada waktu komuni. Kalau hanya penyerahan Maria itu yang menjadi dasar, apakah boleh dikatakan lebih tepat bahwa Maria adalah teladan sikap dasar rohani, bukan perempuan Ekaristi?

Vincentia Rita Nita, Malang

Pertama, gelar baru Maria sebagai “perempuan Ekaristi” dikatakan Paus Yohanes Paulus II dalam ensiklik Ecclesia de Eucharistia. Karena itu, untuk mengetahui kekayaan dan kedalaman gelar “perempuan Ekaristi” kiranya kita perlu mendalami ensiklik itu. Renungan dalam pendalaman iman di lingkungan, seperti yang Ibu alami, sangat mungkin tidak bermaksud menyampaikan alasan-alasan gelar itu secara tuntas. Maka, sebaiknya kita jangan cepat mengubah ungkapan “perempuan Ekaristi” dengan atribut lain sebelum kita sungguh mendalami maksud asli Paus Yohanes Paulus II (bdk. HIDUP No. 21, 25 Mei 2008).

Kedua,
memang fiat (penyerahan) Maria seringkali digunakan sebagai teladan sikap dasar Kristiani, yaitu sikap tunduk pada kehendak Allah. Tapi, fiat Maria itu memang sungguh sangat tepat disejajarkan dengan jawaban “Amin” pada saat komuni, karena keduanya mempunyai kesamaan, yaitu iman pada penjelmaan. Fiat Maria mengungkapkan iman bahwa Putera Allah menjelma menjadi manusia dalam kenyataan fisik tubuh dan darah Maria, sedangkan “Amin” mengungkapkan iman bahwa Putera Allah yang sama hadir dalam rupa roti dan anggur ketika kita menerima komuni.

Jika Gereja apostolis mengajarkan bahwa Yesus Kristus, yang adalah Putera Allah itu, hadir dalam rupa roti dan anggur, maka Maria adalah pribadi pertama yang paling tahu dan paling mengerti arti ajaran itu karena Maria sudah mengalami bahwa Putera Allah menjelma menjadi manusia dalam rahimnya. Maria “mendahului dalam dirinya, yang terjadi secara sakramental dalam diri setiap umat beriman, yang menyambut tubuh dan darah Tuhan, dalam rupa roti dan anggur.” (EE no. 54)

Ketiga, fiat Maria hanyalah salah satu alasan dari gelar “perempuan Ekaristi”. Yohanes Paulus II mengatakan bahwa “Maria adalah ‘perempuan Ekaristi’ dalam seluruh hidupnya” (EE no 52). Kata-kata ini merujuk pada dimensi kurban dari Ekaristi yang dihayati Maria sudah sejak pewartaan Kabar Gembira, dan berpuncak pada salib di Kalvari. Pengurbanan Maria karena persatuannya dengan Yesus sudah dimulai dalam pewartaan Kabar Gembira ketika Maria harus mengalami “semacam kegelapan iman” dalam meng-amin-i rencana Allah (RMa no 17).

Pengurbanan ini menjadi lebih jelas dalam pertemuannya dengan Simeon yang meramalkan bahwa Anak itu akan menjadi “tanda pertentangan” dan bahwa sebuah pedang akan menusuk jantungnya (bdk. Luk 2:34-35). Inilah nubuat tentang tragedi penyaliban Putera-nya. Saat itu Maria menyatukan diri dengan Putera-nya dalam sengsara. Pengurbanan diri Maria terus berlangsung selama masa pelayanan Yesus di hadapan umum sampai di bawah salib di Kalvari. Inilah sengsara atau kurban Kristus yang dirayakan para Rasul dalam Ekaristi: “Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagimu” (Luk 22:19) (EE no. 55).

Keempat, keunggulan Maria sebagai perempuan Ekaristi juga nampak jelas jika kita memahami dengan baik Magnificat Maria, yang disebut Paus Yohanes Paulus II sebagai “kunci memasuki Ekaristi”. Saat memadahkan Magnificat, Maria sudah mengandung Yesus dalam rahimnya. Maria memuliakan Tuhan “lewat” Yesus, dan ia juga memuji Tuhan “dalam” dan “bersama” Yesus. Magnificat memang pada dasarnya adalah madah pujian dan syukur. Inilah semangat Maria, yang sebenarnya adalah sikap “Ekaristi sejati”. Madah Maria mengingatkan kita akan keajaiban yang dilakukan Allah dalam penjelmaan Putera-Nya dalam diri Maria, dan sekali lagi menghadirkannya dalam Sakramen Mahakudus Ekaristi. Magnificat mengingatkan kita bahwa Putera Allah dihadirkan kembali di tengah kita dalam “kemiskinan” tanda sakramental dari roti dan anggur. Spiritualitas Maria ini membantu kita mengalami misteri Ekaristi (EE no. 57).


Pastor Dr Petrus Maria Handoko CM




Kunjungan: 606
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081318544200 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Info iklan | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com