Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Melintasi Gemilang Prestasi - Hidup Katolik

Melintasi Gemilang Prestasi

Minggu, 26 Oktober 2008 14:08 WIB
Melintasi Gemilang Prestasi
[NN/Dok.Keluarga]
Memaknai hidup: J. Soedjati Djiwandono bersama sang istri Vonny Phoa, anak-anak, menantu-menantu, dan cucu-cucunya

HIDUPKATOLIK.com - Setelah pengangkatannya sebagai Anggota Dewan Penasihat Sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), J. Soedjati Djiwandono menerima sepucuk surat berisi ucapan selamat dari Uskup Agung Jakarta waktu itu, Mgr Leo Soekoto SJ. ”Saya merasa surprise karena hubungan saya dengan beliau tidak dekat,” ungkapnya.

Surat itu merupakan sebentuk ekspresi kekaguman Mgr Leo terhadap Soedjati. ”Isinya singkat saja. Ditulis dengan tulisan tangan. Bunyinya begini: ‘Terdorong oleh rasa kagum, saya mengucapkan selamat atas terpilihnya Bapak sebagai Anggota Dewan Penasihat Sekjen PBB...’,” sitir Soedjati. Pengalaman itu serta-merta memperoleh tempat istimewa di relung ingatannya.

Saat itu, tahun 1992, berbagai media massa melansir prestasi gemilang Soedjati sebagai orang Asia Tenggara pertama yang menduduki posisi penting tersebut. Nama Soedjati pun kian berkibar. Sebelumnya, ia telah menyandang beragam jabatan bergengsi, di antaranya sebagai Direktur Eksekutif Center for Strategic and International Studies (CSIS) dan Anggota DPR-RI.

Tak hanya di kalangan umum, di Gereja pun Soedjati giat berkarya. Tak terbilang tugas yang pernah ia emban, di antaranya sebagai Anggota Komisi Kateketik dan Komisi Kerawam Konferensi Waligereja Indonesia (KWI). Ia pernah menjadi Ketua Sidang Agung KWI dan selama sepuluh tahun ia menjadi Ketua Penasihat KWI.

Hingga usia senja, minatnya pada kaderisasi kaum muda masih mengemuka. ”Saya pergi ke berbagai daerah guna menyiapkan kaderisasi. Kegiatan ini terhenti karena saya terserang stroke,” tuturnya saat dijumpai di rumahnya di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Selasa, 23/9/2008.

Penuh liku
Rangkaian prestasi Soedjati menjulang lewat perjuangan berliku. Ia berasal dari keluarga tak berpunya. Karena terhimpit persoalan dana, orangtuanya hanya sanggup membiayai studi putra kesembilan dari 14 bersaudara ini hingga tamat SD saja. Lantas, salah seorang kakaknya mendukung dana sampai ia lulus SMP. ”Selanjutnya, saya ingin masuk SMA tetapi tidak ada yang mengongkosi,” kenang pria kelahiran Yogyakarta, 13 Oktober 1933 ini.

Karena keinginan meneruskan studi begitu menggelitik, akhirnya ia masuk Sekolah Guru Atas (SGA) dengan ikatan dinas selama tiga tahun. Kemudian, ia melanjutkan kursus B1. ”Seharusnya B1 berlangsung selama tiga tahun, tapi saya bisa lulus nomor satu dalam waktu setahun,” ujar Soedjati. Berkat prestasinya yang cemerlang, ia mendapat beasiswa untuk mengikuti kursus guru bahasa Inggris di Victoria University, Wellington, Selandia Baru.

Karena kembali lulus di peringkat pertama, ia memperoleh beasiswa untuk meraih gelar Bachelor of Art di Otago University, Dunedin, Selandia Baru. Kesempatan itu sungguh-sungguh ia gunakan. Ia studi di dua bidang sekaligus, yakni bahasa Rusia dan ilmu politik. Karena bakat yang pekat di bidang bahasa, Soedjati berhasil menuntaskan studi dalam waktu setahun. ”Padahal, umumnya empat tahun,” ucapnya.

Tahun 1966, Soedjati kembali ke Tanah Air. Ia bergabung dengan Pastor Joseph Beek SJ yang memimpin Program Khalwat Sebulan (Khasebul) bagi kaum muda. Setelah itu, ia bekerja sebagai Sekretaris dan kemudian sebagai Direktur Eksekutif CSIS. Karena hasrat mendulang ilmu yang menggebu, ia meneruskan studi hubungan internasional di London School of Economics and Political Science (LSE), Inggris. ”Saya mendapat beasiswa dari Ketua Kehormatan CSIS, Jenderal Ali Murtopo,” bebernya.

Memboyong keluarga
Soedjati menikah saat usianya telah menapak 37 tahun. Pernikahannya dengan Vonny Phoa membuahkan sepasang anak: Elsie Indriarti dan Endy Wibowo. Tahun 1977, ketika studi ke London, Soedjati memboyong istri dan anak-anaknya.

Mufakat terjalin bahwa ia hanya fokus pada studi. Sementara Vonny mengurus rumah tangga. ”Dari pagi sampai petang saya berada di kampus. Malam hari saya masih belajar dan mengerjakan tugas. Jadi, saya dibebastugaskan dari urusan rumah tangga,” akunya.

Selama studi ia sama sekali tak dibebani persoalan dana. ”Seberapapun kebutuhan saya dan keluarga di Inggris selalu dipenuhi. Enaknya, studi ini tidak mengikat,” paparnya.

Bila liburan menjelang, Vonny dan kedua anaknya mencecap keelokan alam Eropa, sementara Soedjati berkutat dengan disertasinya. ”Saya menyelesaikan studi Ph.D tepat pada waktunya, selama empat tahun,” kenangnya. Begitu memungkasi studi, Soedjati mengajak keluarganya melancong ke Amerika Serikat.

Sekembalinya ke Jakarta, tahun 1982, Soedjati menyekolahkan kedua anaknya ke Kanisius dan Santa Ursula. ”Baru setelah lulus SMA, saya kirim mereka studi ke Inggris dan Australia,” ujarnya. Sedangkan Vonny menjadi dosen di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unika Atma Jaya Jakarta.

Meski terpisah oleh samudera, relasi Soedjati dengan anak-anaknya erat terkait. Sambungan telepon dan surat elektronik sanggup merajut keakraban di antara mereka kendati tanpa tatap muka. ”Jika ada kesempatan, kami selalu berlibur bersama,” lanjut kakek tiga cucu ini.

Tugas mulia
Selepas studi, Soedjati diminta kembali berkarya di CSIS. Sementara itu, ”semangat Romo Beek” tetap membara di jiwanya. Kendati Program Khasebul telah terhenti, ia masih berkecimpung di bidang kaderisasi. Ia kerap mengadakan diskusi dengan para alumni Khasebul di Yogyakarta, Solo, Bandung, Purwokerto, Malang, Surabaya, Semarang, dan Manado.

”Meski tidak lagi mengajar, saya tetap akrab dengan mereka dan berusaha memelihara momentum,” ungkapnya. Bagi Soedjati, ihwal kaderisasi merupakan tugas mulia. ”Ini pekerjaan idealis, tidak dibayar tetapi memberi kepuasan batin,” tegasnya.

Ia juga sibuk menyiapkan makalah-makalah untuk Sekjen PBB, serta menyumbangkan pemikirannya bagi Gereja. Dalam perputaran waktu, tak terelakkan friksi bersenggolan antara dirinya dengan beberapa pemuka Gereja. ”Saya tidak takut musuh. Kalau yang saya perjuangkan kebenaran, Tuhan pasti berada di pihak saya,” tandasnya lagi.

Tahun 1998, Soedjati beranjak dari CSIS. Namun, beraneka aktivitas tetap mengepungnya. Ia giat memberikan ceramah-ceramah di berbagai tempat. Sementara itu, beragam karya ilmiah terus lahir dari cakram pemikirannya. ”Tulisan-tulisan itu sudah terkumpul empat ordner,” katanya.

Tepat pada hari ulang tahunnya yang ke-73, musibah menimpa. Saat tengah menjadi pembicara di hadapan para pendeta di kawasan Serpong, Tangerang, stroke menebas pertahanan tubuhnya. ”Awalnya, saya merasa aneh karena mendadak saya berbicara dalam bahasa Inggris. Padahal, paper seminar saya bikin dalam bahasa Indonesia,” tuturnya.

Meski relatif ringan, serangan stroke cukup merintangi aktivitas Soedjati karena tangan kanannya melemah. Alhasil, ia kesulitan menulis. Padahal, sebagai intelektual, menulis tak luput dari kesehariannya. Sejak itu, ia rutin memeriksakan kesehatannya dan selalu mengonsumsi obat. ”Saya harus terus minum obat darah tinggi sampai saya mati,” ujarnya.

Stroke
yang dialami Soedjati bermuasal dari hipertensi. ”Sejak muda, saya mengidap darah tinggi,” ulasnya. Tetapi, ia mengimbanginya dengan rajin berolah raga. Hingga saat ini, ia nyaris tak alpa berolah raga. Seiring waktu, kesehatannya pulih kembali. Meski demikian, sekarang ia lebih banyak tinggal di rumah.

Kebiasaan terjaga
Di masa senja, Soedjati kerap sulit tidur. ”Sewaktu muda, saya sering mengonsumsi vitamin-vitamin untuk menghalangi kantuk karena saya bekerja hingga larut malam,” akunya. Ternyata, kebiasaannya terjaga mengimbas hingga puluhan tahun berselang.

Belakangan, ketika aktivitasnya menyusut, sukar terlelap di penghujung malam terasa mengusiknya. Biasanya ia segera bertelut dalam novena agar ia bisa segera tertidur. Doa-doa itu terjawab. ”Meski akhirnya saya bisa tidur, saya tidak pernah berhenti berdoa,” tandasnya.

Untuk bisa tidur nyenyak di malam hari, ia membiasakan diri mengitari jalan-jalan di sekitar rumahnya hingga kelelahan menyergap. ”Sepulang dari berjalan kaki, saya menyantap buah-buahan. Malamnya saya bisa tidur nyenyak,” katanya seraya melepas senyum.

Waktu luang yang kini longgar membuat Soedjati leluasa melahap bermacam-macam bacaan. Sebagian di antaranya adalah buku-buku rohani. Tetapi, kegemaran itu kerap mengundang keraguan di benaknya. ”Orang yang berpikir kan selalu bertanya,” kilahnya. Alhasil, ketika membaca buku God Dellusion karya Richard Dawkins, ia tak kuasa menuntaskannya. ”Saya tidak mau buku itu menggoyahkan keyakinan saya,” sahutnya memberi alasan.

Sesekali Soedjati menjalani masa senja dengan batin mendua. Di satu pihak, ia bisa menerimanya secara rasional. Tetapi, di lain pihak, ada kecemasan merambat di tepian hatinya akan datangnya ajal. ”Syukurlah, hal itu tidak sampai mengganggu saya,” ungkapnya.

Oktober 2008 ini, Soedjati berusia 75 tahun. Ia sungguh mensyukuri hidupnya yang senantiasa dialiri rahmat Tuhan. ”Sekarang, saya masih ingin menulis,” katanya seraya menggerak-gerakkan tangan kanannya. Meski kondisi fisiknya tak lagi prima, ia tetap memaknai hidupnya...

Maria Etty




Kunjungan: 616
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com