Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Lawrence Tjandra, Menjadi Sebutir Garam yang Mengasinkan - Hidup Katolik

Lawrence Tjandra, Menjadi Sebutir Garam yang Mengasinkan

Jumat, 14 Juni 2013 14:24 WIB
Lawrence Tjandra, Menjadi Sebutir Garam yang Mengasinkan
[HIDUP/Maria Pertiwi]
Lawrence Tjandra

HIDUPKATOLIK.com - Pengalaman melatih kotbah para romo dan sekali berkotbah di gereja, menguatkan Lawrence Tjandra. Sebagai umat, ia berharap bisa menjadi sebutir garam yang mengasinkan di mana pun ia berada.

Tahun 2010, Lawrence mengumpulkan keberanian untuk menghadap Pastor Paroki St Helena Curug, Karawaci-Tangerang, Heribertus Kartono OSC. Lawrence mengajukan usul pelatihan kotbah bagi para imam kepada Romo Heri.

Usul itu berangkat dari keprihatinan kotbah romo begitu panjang, lama, dan kurang mengena di hati umat. Sementara umat tidak mendengarkan, asyik bermain blackberry dan handphone, atau ngobrol dengan temannya. Setidaknya, pengalaman seperti itu pernah dirasakan Lawrence sebagai umat. Romo Heri, yang dikenal sebagai sosok imam yang dekat dengan umatnya, menyetujui ide tersebut.

Selain sebagai bentuk keprihatinannya, pelatihan kotbah para romo juga menjadi sarana pelayanan bagi bungsu dari lima bersaudara ini. Ia ingin membagikan talenta yang Tuhan berikan kepada semakin banyak orang. “Semoga para romo bisa menyampaikan pesan dalam gaya dan ulasan yang singkat, padat, jelas. Dan, dikemas dengan bahasa dan konteks yang dimengerti umat,” ungkap pria yang bekerja sebagai konsultan Strategic Communications ini.

Memberi sekaligus menerima

Awalnya, Lawrence memberikan pelatihan kotbah bagi sembilan romo pada 2010. Kemudian Romo Heri memintanya untuk melatih para romo di Dekanat Tangerang (2011). Kebetulan saat itu Vikaris Jenderal (Vikjen) Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) Pastor Yohanes Subagyo hadir dalam pertemuan itu. Lawrence diminta Romo Vikjen mengisi salah satu pertemuan para romo KAJ. Dengan ringan hati, ia menerima tawaran itu. Ia ingin melayani sesuai talenta yang ia miliki.

Menurut Lawrence, pertemuan itu dihadiri terlalu banyak orang sehingga kurang efektif untuk pelatihan public speaking. “Namun, paling tidak, pertemuan itu diharapkan dapat memberikan inspirasi pada para romo untuk mempertimbangkan faktor umat yang heterogen sebagai pendengar. Romo juga mempertimbangkan relevansi kotbah dengan berbagai isu dan perubahan gaya hidup terkini yang berkembang di masyarakat,” papar pria yang membentuk persekutuan doa ekumene sejak 2004 bersama temantemannya.

Ia berharap, yang dilakukannya bisa membantu para romo berkomunikasi dengan baik lewat kotbah, dan pesan yang mereka sampaikan bisa ditangkap umat. Ia pun berharap, agar pelatihan serupa dapat ditindaklanjuti untuk membantu mengasah kemampuan komunikasi para romo dengan lebih efektif.

Dalam pelatihan kotbah, pria kelahiran Jakarta, 16 Oktober 1964, ini mengaku tak hanya berbagi apa yang ia miliki, tapi ia pun menerima sesuatu. Saat mempersiapkan materi pelatihan, ia mengaku belajar lebih dalam mengenai teknik dan strategi komunikasi yang diterapkan Yesus kepada para murid dan umat-Nya masa itu. Juga pesan-pesan kunci yang ingin disampaikan-Nya kepada umat.

Lulusan Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Kristen Satya Wacana (1987) ini, mendapati Yesus tak pernah menggunakan pendekatan akademis yang rumit dan teoritis, dalam menyampaikan pesan dan pelajaran teologi yang tersulit sekalipun. Bahkan saat berbicara dengan ahli Taurat, Yesus menyampaikannya melalui tindakan praktis dan perumpamaan. Pasalnya, hal itu mudah dicerna siapa pun yang mendengarkan.

Setelah memberikan pelatihan kotbah, Lawrence merasa bahwa para romo yang mengikuti pelatihan berupaya untuk lebih komunikatif dengan umat. Kotbah tidak terlalu lama, namun pesannya mengena di hati umat.

Beberapa romo masih menghubunginya, usai pelatihan kotbah yang ia diberikan. Ada rasa senang yang menggema di hati Lawrence. Para romo itu mengirimkan voice note agar ia mendengarkan dan memberi masukan atas kotbah yang disampaikan.

Tak sia-sia
Menjelang perayaan 17 Agustus 2010 di Paroki St Helena, Romo Heri meminta Lawrence berkotbah saat Misa. “Dulu saya yang memberi pelatihan, ini malahan saya yang diminta kotbah,” ujarnya sambil mengurai tawa. Lawrence diminta untuk menyampaikan kotbah mengenai kemerdekaan yang bertanggung jawab.

Tawaran Romo Heri sempat ditolak Lawrence. Ia mengungkapkan pada Romo Heri bahwa yang berkotbah mestinya romo, bukan umat. Namun, Romo Heri ingin Lawrence berkotbah pada Misa Hari Kemerdekaan RI.

Di rumah, Lawrence bergumul merenungkan permintaan itu. Menjelang hari-H, sang kakak menghubunginya dan mengingatkan bahwa apa yang dilakukan Lawrence seperti menggarami lautan. “Kakak saya marah-marah, buat apa saya melakukan itu. Saya hanya merespon, kalau tidak ada satu butir garam, laut tidak akan asin,” tandasnya penuh keyakinan. “Pasti Tuhan punya maksud, mengapa saya yang diminta untuk ini. Mungkin Tuhan bermaksud bahwa ada pesan yang mesti disampaikan melalui saya,” imbuhnya ketika merefleksikan pengalaman dikuatkan melalui kotbahnya saat itu.

Meski Lawrence pernah memberikan pelatihan kotbah, tapi ketakutan dan kekhawatiran hilir-mudik melintas di kalbunya. “Rasanya seram, seperti mau mati,” katanya seraya tersenyum. Ia pun merangkai kata dalam doa. “Tuhan, ini gara-gara Engkau. Berikan bantuan padaku dengan menurunkan Roh Kudus-Mu,” ungkapnya pasrah di tengah kegelisahan yang mendekapnya.

Saat tiba perayaan 17 Agustus, kegelisahan Lawrence tak jua memudar. Ketika bacaan pertama dibacakan, ia merasakan sakit perut. Ia pun menuju toilet. Di sana, ia hanya diam, merenung, dan tak henti mendaraskan doa.

Tak lama berselang, ia kembali memasuki gedung gereja. Sampai detik sebelum maju ke mimbar, ia selipkan doa singkat dalam hatinya: “Tuhan, bantu aku. Bicaralah dalam aku.” Seolah ada kekuatan yang mengalir dalam dirinya. Ia pun menuntaskan tugasnya dengan baik. Ada kelegaan tersendiri yang ia rasakan.

Lawrence pun senang, bisa mempersembahkan apa yang dianugerahkan Tuhan dan membagikannya untuk orang lain. “Saya ini umat biasa, tapi saya ingin melayani sesuai apa yang saya miliki. Dan untuk Gereja, saya luangkan waktu. Saya percaya Tuhan mengarahkan semua yang saya lakukan,” tutur pria yang mengawali karirnya sebagai Management Trainee di perusahaan advertising, awal 1988 ini.

“Saya ingin berbagi, tapi saya tidak tahu harus bagaimana. Ternyata Tuhan mengarahkan saya ke sini. Untuk menjadi trainer pelatihan kotbah, salah satunya. Saya percaya, jika saya pasrahkan semua pada Tuhan, Dia akan membukakan jalan,” ujarnya.

Pengalaman bimbingan Tuhan dalam melayani pelatihan kotbah, berkotbah di gereja, dan pengalaman lain dalam hidupnya, menyadarkan Lawrence akan kebesaran Tuhan. Ia mensyukuri segala yang terjadi dalam peziarahan hidupnya, termasuk saat ia meneguk kegetiran hidup. Ia memegang keyakinan bahwa semua mesti diserahkan pada kuasa Tuhan. “Tapi bukan berarti tidak melakukan apa pun. Saya tetap berusaha keras dan tak melupakan doa sebelum mengerjakan sesuatu,” ungkap pria yang tiap pagi menyediakan waktu untuk bertelut dalam doa, dan menyerahkan aktivitasnya hari itu. Dan malam, menjelang tidur, tak lupa ia panjatkan syukur atas anugerah yang diterimanya.

Maria Pertiwi




Kunjungan: 1193
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com