Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Menghadapi Sakit dan Kematian - Hidup Katolik
Home » Tajuk

Menghadapi Sakit dan Kematian

Minggu, 30 November 2008 14:42 WIB
Menghadapi Sakit dan Kematian
[guardian.co.uk]

HIDUPKATOLIK.com - Menjunjung tinggi hidup manusia adalah hak fundamental manusia. Ini kerap kita dengar. Yang jarang kita dengar adalah kewajiban manusia untuk merawat kesehatan dan hidup itu sendiri. Dan lebih jarang lagi, adalah orang yang benar-benar memperhatikan dan menjaga kesehatan tubuhnya. Pada umumnya orang hanya cemas ketika tubuhnya mulai loyo.

Hormat pada kesehatan tubuh jangan diartikan pengagung-agungan pada badan. Seakan-akan kesehatan jiwa dan mempersiapkan hidup abadi kurang penting dibanding hidup fana. Jiwa dan badan secara keseluruhan diciptakan dalam rupa Allah (Kej 1:27). Kerap kali sikap sembrono terhadap tubuh adalah representasi dari sikap masa bodoh terhadap jiwa. Dampaknya tidak jarang beruntun pada keduanya. Karena itu, kalau kita bicara tentang kesehatan, ini selalu diartikan sebagai kesehatan jiwa dan badan sekaligus.

Kedua aspek di atas tidak dapat dipisahkan. Namun, keduanya tetap dapat dibedakan. Untuk kali ini, keprihatinan diarahkan pada diskusi mengenai kesehatan fisik.

Tubuh memiliki dimensi iman. Hidup dan tubuh yang sehat merupakan anugerah dari Allah. Demikian iman yang kita hayati mengatakannya. Cinta pada tubuh ibarat cinta Kristus pada umat-Nya (Ef 5:29).

Adalah kewajiban semua orang – terlebih dokter, perawat, petugas kesehatan – untuk merawat orang-orang yang sakit. Kewajiban itu sedemikian, bahkan bila orang yang merawat mendapatkan bahaya risiko tertular, dia tetap tidak boleh menghindar begitu saja. Dengan demikian, seorang dokter tidak boleh menolak untuk merawat korban AIDS, misalnya, bila ia membutuhkan perawatan gigi. Di lain pihak, kejujuran dari si korban untuk mengatakan sesungguhnya juga dituntut.

Bukan orang lain saja yang dituntut, si korban dan si sakit pun tidak lepas dari beberapa tuntutan. Seseorang yang mengidap penyakit menular wajib mengusahakan langkah-langkah agar infeksi pada orang lain tidak menyebar. Orang yang menderita penyakit AIDS adalah mereka yang harus lebih memperhatikan hal ini. Peristiwa sosial, misalnya perkawinan, seberapapun luhurnya bisa digagalkan bila salah satu mengidap penyakit ini.

Rasa hormat dan cinta pada kesehatan tubuh tidak membuat orang mampu menghindari sakit, penderitaan, dan kematian. Realita ini menyatu dalam hidup manusia. Dan realita ini memiliki makna iman.

Nilai-nilai Kristen mengajarkan pada kita untuk tidak selalu melawan dan menolak segala sesuatu yang terkait dengan penderitaan dan kematian. Seakan realita ini otomatis negatif di dalam dirinya sendiri. Contoh yang paling gamblang tentu saja adalah pengalaman sakit, penderitaan, dan kematian Yesus sendiri. Ada keragu-raguan dan ratapan di sana. Ini sangat manusiawi. Namun, Yesus mengajarkan kepada kita bagaimana Dia melampaui itu semua.

Dalam pencarian yang paling puncak, kita diharapkan tidak lebih mencari ‘sehat daripada sakit, kegembiraan daripada kesedihan’. Ada titik di mana iman Kristen melihat penderitaan sebagai jembatan untuk melucuti diri, dan dengan demikian kita menerima Kristus dan bersatu dengan-Nya. ”Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami” (2 Kor 4:10).

Penderitaan dan sakit senantiasa bersifat ambigu. Di satu pihak, banyak orang mengalami saat-saat itu menjadi periode negatif. Mereka menganggap tidak ada yang perlu disyukuri dari situasi ini. Dalam momen seperti ini, berbicara mengenai Tuhan menjadi percakapan yang dianggap naif.

Di lain pihak, ada orang – ini benar-benar ada, dan banyak pula – yang mengalami penderitaan dan pengalaman menjelang ajal menjadi saat-saat yang penuh rahmat. Dia menerima sakit dengan jiwa yang sangat besar. Dia justru bertumbuh dalam kematangan. Dalam perjalanan waktu yang bergerak cepat maupun merayap lambat, si sakit merasakan bagiamana dia semakin dipersatukan dengan Kristus. Kita boleh mohon rahmat ini. Sekarang atau pun nanti.

Redaksi




Kunjungan: 658
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com