Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Toleransi Saja Tidak Cukup - Hidup Katolik

Toleransi Saja Tidak Cukup

Minggu, 7 Desember 2008 14:24 WIB
Toleransi Saja Tidak Cukup
[HIDUP/Agus Y. Ranu]
J.B. Hari Kustanto SJ

HIDUPKATOLIK.com - “Toleransi adalah keadaan minimal di mana manusia hidup bersama tanpa pertikaian. Ini tidak cukup. Toleransi perlu dikembangkan menjadi dialog untuk menggalang kebersamaan menghadapi masalah-masalah kemanusiaan.”

J.B. Hari Kustanto SJ menegaskan hal itu, dalam bincang-bincang dengan Benidiktus W. dari HIDUP, tentang tantangan dan peluang globalisasi, Senin, 24/11/2008, di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara Jakarta.

Hari Kustanto adalah dosen di STF Driyarkara. Selain mengajar Sosiologi Agama dan Antropologi Budaya Indonesia untuk Program S-1, ia juga mengajar Antropologi Agama dan Multikulturalisme untuk Program S-2.

Berikut ini petikan bincang-bincang dengan imam yang meraih gelar PhD dari Yale University, Amerika Serikat ini:

Globalisasi merupakan proses sosio kultural di mana jarak tidak lagi menjadi faktor penting. Lantas, bagaimana kita menyikapi hal ini, khususnya dalam hal dialog dan kerja sama dengan umat beragama lain?
Kalau kita berangkat dari ajaran Gereja mengenai dialog antarumat beragama, sebagaimana dituangkan dalam Lumen Gentium, juga Nostra Aetate, yang menarik adalah bahwa manusia yang menjadi fokus. Bukan ajaran.

Dalam Nostra Aetate, khususnya mengenai hubungan dengan agama lain, juga diajarkan bagaimana melihat kesamaan-kesamaan dari berbagai ajaran agama lain. Kita diajarkan menghargai agama lain. Kita juga mengakui kebenaran-kebenaran agama lain.

Itu ajaran. Beda kalau kita bicara pada level praktik. Kalau kita lihat praktik, yang terjadi adalah dialog kehidupan. Dalam keprihatinan kita pada masalah-masalah kemanusiaan, umat dari berbagai agama bisa bertemu dan bekerja sama, baik di desa maupun di perkotaan. Misalnya, ketika terjadi bencana di Aceh. Agama apa pun punya perhatian dan terlibat. Juga ketika gempa menimpa Yogyakarta. Kerja sama itu disatukan oleh masalah-masalah kemanusiaan.

Di era global ini, komunikasi berlangsung cepat dan semakin intens. Maka, kesempatan untuk bertemu dan berinteraksi dengan umat agama lain semakin sering dan mendalam.

Globalisasi juga berdimensi ekonomi, sosial politik, dan budaya. Dalam bidang ekonomi, misalnya, globalisasi justru semakin mengukuhkan dominasi mereka yang menguasai sumber daya ekonomi dan sosial politik. Kegiatan ekonomi juga terkait dengan eksploitasi sumber daya alam, yang justru menimbulkan kerusakan hebat, misalnya di Sidoarjo, Jawa Timur. Bukankah ini juga merupakan persoalan yang harus disikapi?
Ya! Dan, artinya duduk bersama dan berbicara bagaimana bersama-sama menyikapi tantangan globalisasi, yakni masalah keadilan dan kemiskinan. Ini kebutuhan mendesak. Bagaimana bekerjasama dan berorientasi ke masa depan.

Gereja Katolik lebih berperan menggalang fungsi kritik dalam menyikapi ketidakadilan. Di era global, Gereja semakin tertantang untuk terlibat bersama masyarakat yang terpinggirkan, ketika arus globalisasi membawa ketidakadilan dan kerusakan lingkungan. Umat beragama, sebagai warga negara, bersama-sama bisa menjadi pressure group.

Kalau ada pandangan bahwa Gereja bisa bergerak sendiri, itu tidak berlaku. Kerja sama dengan yang lain, justru itu yang menguatkan. Kita harus semakin menyadari realitas kita yang plural. Bukan hanya karena minoritas. Maka, dalam era global ini, pengakuan akan pluralitas dan kebudayaan termasuk agama harus dibangun dan ditanamkan. Dulu orang masih bisa berkelompok menurut agama. Sekarang makin sulit. Misalnya saja STF Driyarkara, sebagai institusi publik, tidak bisa membatasi karyawannya hanya yang Katolik. Kemendesakannya semakin terasa saat ini. Kita dituntun untuk juga mampu berdialog dengan agama lain.

Sebenarnya praktik itu sudah berjalan di level akar rumput. Memang dalam rangka politisasi, ada kesan terpecah-pecah. Tetapi, dalam praktik sehari-hari, agama itu bukan persoalan. Itu sudah di bawah sadar. Lalu, bagaimana konsientisasi (penyadaran) itu mengarah pada persoalan bersama yang kita hadapi. Ini bisa dilakukan dengan program-program kegiatan yang melibatkan umat beragama lain. Kalau saya lihat, yang kebingungan itu justru kelas menengah.

Memang gerakan itu sudah banyak muncul ,tetapi di banyak tempat juga masih mengalami banyak kendala. Kalau kita bertanya “apakah dialog antaragama berjalan baik?”, jawabannya: “O, ya kami bekerjasama dalam berbagai kegiatan kemanusiaan.” Kalau kita bertanya “Siapa saja temanmu yang lain agama?”, mungkin kita akan sulit menyebutkan.

Tentang dialog dengan umat Islam, karena memang mayoritas di Indonesia, bukankah juga banyak hambatan? Misalnya saja, sebagaimana ditampilkan media, banyak juga kekerasan dengan mengusung agama. Bukankah itu juga membuat kita menjadi takut dan ragu?
Realitasnya masyarakat itu plural. Kalau melihat Islam pun, sebenarnya juga plural. Kalau melihat dialog, khususnya dengan Islam, kadang kita melihat Islam itu sebagai ancaman. Padahal, tidak semua orang Islam di Indonesia itu menakutkan. Tantangannya, bagaimana kita menghadirkan wajah-wajah Islam yang bersahabat, yang sebenarnya tidak sedikit.

Seringkali, kita terlalu cepat menghubungkan kekerasan dengan agama. Itupun hanya terorisme dan perang suci. Padahal, kekerasan itu ada dalam hidup manusia, dalam kehidupan sosial politik. Akhir-akhir ini, saya melihat, buku-buku tentang kekerasan agama cepat sekali terbit. Lalu, kadang terlalu dihubungkan dengan agama. Padahal, yang terjadi adalah perebutan sumber daya ekonomi dan sosial politik.

Dari pengalaman saya tinggal di Amerika, sangat terasa bahwa Islam dianggap sebagai sesuatu yang salah. Yang mereka tahu, Islam itu menakutkan. Saya mencoba menjelaskan bahwa Islam di Indonesia tidak begitu. Tetapi, itu tidak mudah, karena pemahaman yang keliru tentang Islam itu tertanam sejak kecil.

Pada dasarnya, dari sudut sosiologis-antropologis, konflik antarumat beragama itu bukan karena perbedaan ajaran. Pada hakikatnya kebudayaan itu sendiri berfungsi untuk mengorganisasi perbedaan. Jadi, konflik muncul karena ada perebutan sumber daya: sumber daya ekonomi, sosial politik, di mana agama dimanipulasi untuk menggerakkan. Dalam hal ini agama sangat mudah digerakkan untuk penggalangan solidaritas, karena di sana ada ajaran yang otoritatif, dan orang seringkali menerima tafsir begitu saja. Agama juga menyangkut emosi, dan identitas.

Ada enam faktor yang memudahkan orang untuk memobilisasi orang baik untuk berbuat jahat. Pertama, indoktrinasi, yakni sistem pemikiran yagn dapat melegitimasikan kekerasan. Kedua, ketaatan pada otoritas. Ketiga, anonimitas. Keempat, difusi tanggung jawab, orang yang melakukan merasakan ini bukan tanggung jawabnya: “Saya melakukan karena diperintah.” Kelima, kekerasan bertambah secara bertahap (gradual escalation of violence). Keenam, dehumanisasi musuh atau korban.

Dalam antropologi, kekerasan itu bukan penyimpangan, tetapi ada dalam masyarakat. Dalam masyarakat tradisional, di kampung, kalau berzinah lalu diarak dipukuli. Ini kekerasan yang dilegitimasikan. Orang tidak menganggap salah. Tetapi, pada akhirnya, semakin lama kesadaran moral dan tanggung jawab moral semakin tinggi.

Kalau yang terjadi di sini dianggap konflik agama, sebetulnya kita harus berhati-hati. Itu barangkali juga pencitraan media juga. Konflik itu bukan per se perbedaan agama.

Memang kita sulit menghindari kenyataan bahwa agama dipakai sebagai alat mobilisasi, misalnya menjelang pemilu sekarang. Kadang-kadang persoalannya terlalu di-blow-up. Dalam praktik sehari-hari itu bukan yang dominan. Kalau kita amati, proses itu cepat sekali berganti. Dan itu mungkin berguna secara politis, berguna untuk mengalihkan perhatian dari soal kemiskinan, keadilan.

Bagaimanapun, kita masih bisa melihat orang di Indonesia yang wawasannya cukup luas, bisa diajak kerja sama, terbuka untuk kerja sama, mengakui perbedaan, bisa membangun hidup bersama untuk masa mendatang. Kita mestinya harus semakin intensif dalam perjumpaan dengan agama lain. Kalau pembicaraan ini terfokus dengan Islam, karena di negara kita memang mayoritas beragama Islam.

Tetapi, bukankah radikalisme dan fundamentalisme dalam agama itu juga ada?
Di Gereja Katolik, juga ada kelompok fundamentalis. Beragama Katolik bukan jaminan bahwa benar-benar baik. Apalagi, kalau dilihat dari luar, Gereja Katolik tidak singular.

Radikalisme sebenarnya dalam rangka pencarian identitas. Radikalisme tidak hanya menyangkut agama tetapi juga ideologi. Dalam globalisasi, orang justru membutuhkan identitas. Yang paling mudah ya agama. Globalisasi bukan modernisasi yang menyeragamkan segala sesuatu. Justru orang menemukan kebutuhan untuk semakin mencari kekhususan, yaitu identitasnya. Karena arus penyeragaman, reaksi lokal justru memperkuat identitasnya.

Jika yang lokal memperkuat identitas, juga karena perbedaan tafsir ajaran, bukannya ini juga potensi konflik, karena benturan nilai?
Memang ajarannya sama, tetapi tafsirnya bisa berbeda. Sekarang mungkin masih ada tafsir yang berbeda dengan ilmu pengetahuan. Benturan nilai selalu ada. Dan itu bukan sesuatu yang luar biasa. Hanya frekuensi dan intensitas lebih tinggi. Justru dalam benturan semacam ini dialog semakin diperlukan. Misalnya, bagaimana membangun etika hidup bersama. Dan itu memerlukan dialog.

Misalnya, dalam bisnis. Kita lihat pasar bebas “gagal”. Dalam sistem pasar bebas, kenyataannya negara tetap campur tangan. Kalau negara campur tangan dengan sembunyi-sembunyi dan tidak bisa diawasi, maka etika juga sulit ditegakkan. Pasar bagaimanapun perlu diawasi oleh institusi yang independen.

Kalau ada a priori, barangkali karena perjumpaan masih terbatas. Mungkin, ya hanya di kantor. Tidak banyak yang mempunyai sahabat dengan orang yang beda agama. Yang Katolik pun cenderung mencari teman yang Katolik. Ya, karena lebih bebas omong.

Kalau yang muncul hanya konflik-konflik, itu belum mencerminkan realitasnya. Banyak kerja sama itu berlangsung baik. Dialog itu sudah ada, tetapi perlu dikembangkan. Kita juga belajar menerima perbedaan, dan mengakui kebenaran yang ada dalam agama lain. Toleransi saja tidak cukup. Toleransi bermakna menanggung beban. Toleransi adalah keadaan minimal di mana manusia hidup bersama tanpa pertikaian. Ini tidak cukup. Toleransi perlu dikembangkan menjadi dialog untuk menggalang kebersamaan menghadapi masalah-masalah kemanusiaan. Maka, untuk memahami Islam kita harus belajar bersama orang Islam.

Dengan demikian, kita tidak hanya menghormati, tetapi juga mengenal dan mengakui kebenaran dalam agama Islam. Mengakui dan menghargai bukan berarti harus mengikuti. Perbedaan itu harus diakui sebagai perbedaan. Kita menghindari keseragaman, kita diperkaya. Mengapa ada fundamentalis? Bisa jadi itu merupakan reaksi politik. Banyak buku mengupas bahwa awalnya Orde Baru memang memojokkan Islam. Barangkali juga karena sikap kita.

Benidiktus W.




Kunjungan: 623
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com