Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Derita Buruh dan Kritik Paus - Hidup Katolik

Derita Buruh dan Kritik Paus

Rabu, 3 Juli 2013 15:06 WIB
Derita Buruh dan Kritik Paus
[transtutors.com]

HIDUPKATOLIK.com - Hanya selang tiga hari sesudah gegap gempita May Day atau Hari Buruh Sedunia 1 Mei, polisi berhasil membebaskan 35 orang buruh pabrik wajan di Tangerang, yang dipaksa bekerja dengan upah rendah dan diperlakukan tidak manusiawi (Kompas.com, 4/5).

Para buruh dipekerjakan melebihi batas, bisa 10 jam atau 12 jam kerja sehari, dengan upah Rp 500.000 atau Rp 600.000 per bulan. Ada yang tak digaji, malah disiksa. Jelas kasus ini menambah keruh dunia perburuhan kita.

Jika memikirkan dunia buruh di negeri ini, jujur harus diakui, kebanyakan buruh masih menderita. Toh, buruh tetap memilih harus bekerja daripada menganggur. Maklum, di sini terjadi surplus tenaga kerja, karena lapangan kerja terbatas. Tak heran, sebagian memilih jadi buruh migran (6 juta orang). Posisi tawar buruhpun rendah.

Kahlil Gibran, Pujangga Kristen asal Libanon pernah bertutur, kerja itu memartabatkan karena menjadi aktualisasi diri. Tapi dalam realitasnya, yang terjadi justru alienasi diri seperti ungkapan Karl Marx.

Boleh jadi, ada yang berpendapat: bukankah ketentuan UMK baru yang berlaku awal 2013, upah buruh naik 30 persen lebih? Sebagai gambaran, tahun 2011, UMK Surabaya sebesar Rp 1.257.000; dan pada 2013, menjadi Rp 1.740.000. Sedangkan UMK Jakarta tahun 2012 sebesar Rp 1.529.150; dan menjadi Rp 2.200.000 pada 2013.

Namun, inflasi tinggi dan keputusan pemerintah SBY menaikkan BBM, membuat kenaikan upah itu tak berarti. Harga semua kebutuhan pokok sudah naik. Penderitaan bagi buruh yang tak diupah sesuai standar UMK makin berat, mengingat perusahaannya minta penangguhan atau pemiliknya nakal. Artinya, perusahaan tak mau memberi upah sesuai ketentuan UMK. Para pengusaha nakal harus segera bertobat. Seorang pengusaha Surabaya yang melanggar ketentuan UMK, baru saja diganjar vonis satu tahun penjara oleh Mahkamah Agung.

Penderitaan pun terjadi di sektor informal, seperti resto kaki lima dan tempat hiburan malam. Banyak buruh digaji sangat murah, di bawah UMK. Mereka juga (bisa) bekerja lebih dari 10 jam sehari. Tak ada libur setiap minggu; tak ada THR; pun asuransi kesehatan. Misalnya, di kawasan G-Walk Citraland, dekat Gereja St Yakobus Surabaya, banyak buruh menangis. Para tamu yang mereka layani bisa makan sepuasnya di resto dan depot kaki lima yang jumlahnya ratusan di kawasan elit itu.

Penderitaan buruh di G-Walk hanya dirasakan dalam diam. Maklum, mereka tak bisa berdemo seperti buruh yang tergabung dalam Serikat Buruh. Penderitaan seperti itu sebenarnya tak hanya berlangsung di G-Walk, tapi juga dialami para buruh harian, kuli bangunan, bahkan jurnalis radio dan televisi pun diupah dengan tidak pantas.

Lagi-lagi, dalam institusi Katolik, seperti sekolah, panti-panti sosial, bahkan kantor keuskupan, banyak buruh diupah rendah. Gereja yang dalam ajaran berpihak pada kaum lemah, buruh misalnya, dalam realitasnya masih amat jauh. Keberpihakan Gereja, khususnya para pastor di kota, nihil.

Dalam buku ”El Jesuita”, Paus Fransiskus mengecam, banyak gembala lebih suka berkutat di paroki atau keuskupannya sebagai seorang administratur. Paus mengingatkan, jangan sampai kaum lemah yang tidak direspon Gereja, akhirnya punya slogan ”Saya percaya pada Tuhan, tapi tidak percaya pada para imam.”

Dalam pidato May Day-nya, Paus mengutuk kondisi buruh di Bangladesh yang diupah sangat rendah, yakni US $38 atau sekitar Rp 362.000 per bulan, untuk 10 jam kerja sehari. Upah itu hanya layak untuk orang mati, sindir Paus dalam pidatonya.

Akhirnya, semoga para pengusaha Katolik di Indonesia, bisa merespon kritik Paus dengan mengupayakan upah yang adil. Harapannya, para aktivis buruh Katolik dan pengusaha Katolik bersama pejabat Gereja, dapat mencari solusi yang bermartabat, khususnya terkait pengupahan. Jangan sampai terjadi “zero sum game” yang berakibat perusahaan dan buruh sama-sama terkapar, tapi butuh “win win solution”.

Endang Suarini




Kunjungan: 741
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com