Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Norbertus Nuranto: Membangun “Rumah” bagi Seniman Nusantara - Hidup Katolik

Norbertus Nuranto: Membangun “Rumah” bagi Seniman Nusantara

Jumat, 5 Juli 2013 16:50 WIB
Norbertus Nuranto: Membangun “Rumah” bagi Seniman Nusantara
[HIDUP/Aprianita Ganadi]
Norbertus Nuranto

HIDUPKATOLIK.com - Norbertus Nuranto mendirikan Tembi Rumah Budaya untuk menampung karya seniman-seniman muda dari seluruh Nusantara. Rumah budaya ini pun mendapat penghargaan dari pemerintah.

Bangunan yang terletak di tepi Jalan Parangtritis, Dusun Tem­­bi, Timbulharjo, Sewon, Bantul, DI Yogyakarta ini, semula bernama Lembaga Studi Jawa. Lem­­baga ini didirikan pada medio 1995 oleh P. Swantoro, sejarawan dan mantan wartawan Harian Kompas, ayah dari Nuranto. Lembaga ini menaruh perhatian pada dokumentasi dan pengkajian budaya Jawa. Tapi seiring waktu, lembaga mulai berantakan, tak terurus. Maka, Nuranto, putra sulung Swantoro, mengambil alih pengelolaan lembaga ini pada 1999.

Nuranto memulai berkarya dengan berkeliling dan bertanya kepada penduduk di Dusun Tembi. “Apakah budaya Jawa masih ada?” tanyanya dalam hati saat itu. Saat berkeliling dusun, pria berkacamata ini justru heran melihat orang-orang dengan bangga menyebut dirinya Jawa, Batak, Dayak, dan suku lainnya. “Kita ini orang Indonesia! Tidak perlu mengkotak-kotakan diri dengan menyebut suku tertentu,” protes Nuranto kala itu.

Rumah budaya
Pria kelahiran Yogyakarta, 2 Oktober 1963 ini, pun mulai membuat “gebrakan”. Ia meluaskan pusat perhatian lembaga ini, yang tak hanya berfokus pada budaya Jawa. Nama lembaga pun diganti menjadi “rumah”. “Semua orang bisa datang ke rumah ini serta mengekspresikan diri,” urainya. Tembi R­umah Budaya didirikan Nuranto pada 20 Mei 2000. Nama “Tembi” diambil dari nama dusun di tempat rumah budaya berada. Nuranto pun menjadi direktur di tempat ini. “Peralihan nama ini juga menjadi tonggak kesadaran akan pluralitas budaya, baik di Indonesia maupun dunia,” papar suami dari Sarah Maxim ini.

Di lahan seluas sekitar 6000 meter persegi ini, Nuranto tak hanya mengembangkan rumah budaya. Ia pun membuat penginapan untuk menarik wisatawan mancanegara. Di tempat ini, secara rutin diadakan pameran seni rupa, pertunjukkan seni tari dan musik, pemutaran film, serta penerbitan buku.

Hampir setiap hari, rumah budaya ini penuh dengan pagelaran seni dan pameran. Setiap bulan rumah budaya ini dikunjungi sekitar 3000 orang. Atas kerja keras Nuranto, Tembi Rumah Budaya pernah meraih beberapa penghargaan, seperti Penghargaan Sapta Pesona 2010 serta Penghargaan Cipta Award 2011 dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI.

Untuk mengelola rumah budaya ini, Nuranto membangun kantor manajemen Tembi Rumah Budaya di Jakarta Selatan. “Urusan manajemen dikerjakan di Jakarta, sementara operasionalnya di Yogyakarta. Tiap dua minggu saya harus bolak balik,” tutur pria yang mengikuti Misa pagi di Gereja St Yohanes Penginjil Blok B, Jakarta Selatan ini.

Seniman muda
Perhatian Nuranto pada bidang seni seperti tak pernah habis. Saat ini, ia memberi kesempatan bagi seniman muda untuk terlibat dalam setiap pameran dan pagelaran seni. “Agar seniman muda memiliki tempat. Rumah budaya ini, saya persembahkan bagi mereka,” tandasnya. Selain itu, ia juga memberi peluang kepada seniman muda berusia di bawah 25 tahun untuk mengikuti program residensi, yaitu menjaring seniman muda berbakat.

Orang muda yang hendak mengikuti program ini wajib mengajukan proposal mengenai karyanya. “Karya itu harus gue banget dan jangan memikirkan keuntungan dari karya itu. Seniman zaman dulu membuat karya untuk dipersem­­bahkan kepada pem­­ilik kehidup an atau Tuhan. Tapi saat ini, banyak senim­­an m­­uda m­­em­­buat karya untuk keuntungan sem­­ata. Berkesenian itu panggilan, jika diekspos dan terkenal itu bonus,” papar Nuranto. Selain program­­ residensi, ia juga m­­em­­beri beasiswa kepada senim­­an m­­uda berbakat untuk m­­elanjutkan studi.

No name
Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Ungkapan ini sepertinya cocok menggambarkan ketertarikan Nuranto pada dunia seni. Ayahnya seorang sejarawan dan wartawan yang m­­em­­iliki perhatian lebih pada dunia seni. Sementara, eyang nya seorang koreografer.

“Tapi saya tidak m­­au dipanggil senim­­an atau budayawan. Cukup panggil saya NN (no name),” ujar Nuranto disertai derai tawa.

Aprianita Ganadi




Kunjungan: 643
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081318544200 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Info iklan | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com