Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Mengapa Tidur Saat Khotbah? - Hidup Katolik

Mengapa Tidur Saat Khotbah?

Minggu, 18 Februari 2007 14:59 WIB
Mengapa Tidur Saat Khotbah?
[abpnews.com ]

HIDUPKATOLIK.com - ”BU, mengapa di Gereja kita tidak dibuat ’pildacil’ sebagaimana dilakukan teman-teman Muslim?” tanya Adrianus kepada ibunya. ”Adri senang, ma, tahu bicara seperti mereka,” sambungnya. Memang, setiap kali melihat anak-anak seumurnya (9 tahun), membawakan renungan, Adri selalu mengangguk-angguk. Ia merasa kagum, mengapa anak-anak seumurnya begitu pandai ”berdai”.

Pertanyaan Adri tidak bisa dijawab ibunya. Untuk dapat menghiburnya, sang ibu mengatakan tahun depan akan dilakukan kontes seperti itu. Sekarang lagi diadakan persiapan. Sebuah jawaban yang membuat anaknya tersenyum gembira. Ia ingin sekali ikut acara seperti itu. Masih kecil sudah dilatih berbicara di depan umum.

Terlupakan
Retorika, seni berbicara di depan umum, merupakan materi tambahan. Nyaris diperhatikan di seminari tinggi. Bahkan di banyak seminari, tidak terdapat pengajar homiletik yang sungguh ahli dalam bidangnya. Ia bisa diajarkan siapa pun. Apalagi ada pemahaman, homili itu mudah. Hal itu berbeda dengan persiapan homiletik pada seminari non Katolik. Di sana diadakan latihan yang cukup. Tak jarang para calon pendeta tidak diluluskan karena gagal dalam retorika dan homiletika.

Konsekuensi seperti ini sangat nyata. Homili menjadi bagian yang tidak diminati. Tidak sedikit umat yang menjadikan kesempatan itu untuk tidur. Anehnya, para pastor, bahkan uskup, masih mempertahankan ”cara khotbahnya”.

Mengapa khotbah di Gereja Katolik seperti itu? Sejarah menunjukkan pemahaman yang rendah tentang retorika berakar pada duel yang sudah lama berlangsung, antara kaum sofis dan filsuf. Bagi para filsuf (seperti Plato), retorika yang terlampau menggunakan kata yang ”berbunga-bunga”, sekadar digunakan ”mempecundangi” pendengar. Para pendengar merasa terhibur, tertawa, tetapi tak jarang tidak disertai isi yang jelas.

Karena itu, dalam kacamata Plato, misalnya, Gorgias, merupakan contoh retorika yang tidak perlu diikuti. Ia hanyalah deretan kata-kata indah, tetapi tidak memiliki dasar yang kuat dan tidak mampu menghantar kepada pencapaian kebenaran. Socrates, bagi Plato, contoh yang benar. Ia menggabungkan retorika dan filsafat. Dengan kata lain, retorika coba ”difilsafati”. Bobot kebenaran, kebaikan, dan keadilan, lebih ditekankan. Dengan demikian, retorika seperti ini dapat menghantar orang kepada pengetahuan yang benar tentang sesuatu hal.

Sayangnya, duel seperti ini bahkan masih diteruskan hingga kini. Filsafat yang sangat menekankan pencarian kebenaran, memberikan penekanan terhadap isi dari pembicaraan masih begitu dominan sehingga mempengaruhi model pendidikan para calon imam. Di sana masih kuat kata-kata: Cogito, ergo sum. Saya berpikir, maka saya ada. Padahal kita hidup di zaman lain. Dunia kini sudah punya prinsip lain: Videor, ergo sum atau Comunico, ergo sum. Saya melihat, apa yang di-tampilkan dalam khotbah, maka saya ada. Saya berkomunikasi dan berkhotbah, maka saya ada. Siapa yang tampil secara baik dan berkhotbah secara menarik di depan umat akan mendapatkan sambutan.

Melatih homili
Kemelut kaum sofis dan filsafat semestinya berhenti pada abad komunikasi seperti sekarang ini. Masa ini, berbicara yang baik dan benar, dengan menggunakan teknik menyampaikan pesan secara baik merupakan sebuah kebutuhan. Apalagi Gereja bukanlah satu-satunya tempat ”memperdalam” pengetahuan teologis maupun pastoral. Karena itu, yang terpenting dalam homili bukan bagaimana ”mendidik umat”, melainkan bagaimana ”menyokong iman” melalui homili yang baik.

Bagaimana mencapainya? Pertama, persiapan. Tidak sedikit homili yang tidak disiapkan. Tidak sedikit pastor yang merasa, bacaan Injil yang sama sudah diulang ratusan kali. Karenanya, bukan rahasia, tidak sedikit imam, bahkan uskup, yang bila ketiadaan waktu, hanya melihat inti perikop. Ia merasa, isinya sudah diketahui. Apalagi tidak sedikit yang sudah menyimpan arsip khotbahnya selama bertahun-tahun. Ketika ”masanya tiba”, tinggal mengambil khotbah lama.

Kedua, membentuk tim persiapan khotbah. Tidak sedikit pastor yang karena menyadari pentingnya khotbah, membentuk tim persiapan. Hal itu terdiri dari umat yang bersama pastornya merefleksikan bersama-sama bacaan. Selain itu, sharing pengalaman tentang ”apa yang disampaikan sabda Tuhan dalam hidup harian”, menjadi sebuah masukan yang sangat berharga, demi menjadikan homili lebih ”mendarat”.

Ketiga, butuh keseimbangan. Pada era komunikasi seperti ini, diperlukan usaha mencari titik temu antara pemikiran, pendapat yang baik, dengan teknik komunikasi. Kita tidak ingin terjebak ke dalam sekadar berbicara bagus tanpa isi. Tetapi kita juga tidak ingin agar isi yang begitu indah dan menarik, akhirnya tidak dipahami. Atau seperti kata seorang pengamat: kita memiliki simbol paling tekenal di dunia (Salib), buku paling populer (Injil), hukum dan nilai termasyur (cinta kasih). Tetapi, kita belum (tidak) mampu menjadikannya begitu diterima dan dipahami.

Robert Bala
Pemerhati homili.




Kunjungan: 474
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com