Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Dr Lie A Dharmawan: Dokter Murah Hati - Hidup Katolik

Dr Lie A Dharmawan: Dokter Murah Hati

Senin, 14 Oktober 2013 16:12 WIB
Dr Lie A Dharmawan: Dokter Murah Hati
[NN/Dok.doctor SHARE]
Saluran Berkat: Dokter Lie saat melakukan operasi di Rumah Sakit Apung (RSA)

HIDUPKATOLIK.com - Profesinya menjadi sarana pelayanan dan berbagi kasih pada sesama yang tak mampu. Bermodal keyakinan imannya, ia mendirikan Rumah Sakit Apung (RSA), berlayar ke daerah terpencil untuk pelayanan kesehatan.

Empat tahun lalu, akhir Maret 2009, Dokter Lie A. Dharmawan tengah melakukan operasi di RSUD Karel Satsuitubun, Pulau Kei Kecil, Maluku Tenggara. Di luar jadwal, datang seorang ibu bersama anak gadisnya yang berusia sembilan tahun. Kedatangan tamu tak diundang itu diiringi erangan kesakitan yang terus mengalun dari mulut sang anak.

Untuk sampai ke tempat itu, mereka harus menempuh perjalanan tiga hari dua
malam dari Saumlaki dengan kapal. Usai diperiksa, ternyata usus sang anak
terjepit. Mestinya, gadis itu dioperasi 6-8 jam sejak ususnya terjepit. Jika tidak, ususnya bisa pecah dan berakibat fatal.

Alih-alih menutup praktik pengobatan yang waktunya sudah habis, Dokter Lie
langsung mengoperasi gadis malang itu.

Pengalaman itu dikisahkan kembali oleh Dokter Lie pada HIDUP saat ditemui di sela-sela kesibukannya di RS Husada, penghujung Agustus lalu. Itulah secuil kenangan bersama Yayasan Dokter Peduli atau doctorSHARE yang berkerja sama dengan Pastor John Lefteuw MSC kala mengadakan pelayanan kesehatan gratis di Pulai Kei. Yayasan yang sudah ada sejak 2008 dan diresmikan pada 19 November 2009 ini diperuntukkan bagi masyarakat untuk pelayanan kesehatan, penyuluhan, panti rawat gizi, pengobatan gratis, dll.

Deklarasi Kesetiaan
Dokter Lie berkeyakinan, masyarakat – terutama yang tak mampu dan tinggal
di tempat yang “tak terjangkau” – butuh uluran kasih pelayanan medis. Dokter ahli bedah jantung ini memelihara keyakinannya dalam bingkai doa tiap malam kala kembali ke peraduan.

“Kalau mau tidur, biasanya saya ngelapor ke Bos. Ya berlutut, hening… itu menjadi saat teduh saya. Dalam saat teduh itu, bayangan anak perempuan usia sembilan tahun di Pulau Kei kembali berkelebat. Betapa sakit yang dirasakan anak itu,” ungkap umat Paroki St Andreas Kedoya, Jakarta Barat ini.

Seolah ia ngobrol dengan Tuhan dalam saat teduhnya. “Maukah engkau melayani-Ku?” Spontan Dokter Lie menjawab, “Tuhan, jangan aku. Aku sudah terlalu capek.” Meski jawabnya bertendensi mengelak, dorongan untuk melayani sesama yang tak mampu dan sulit terjangkau secara geografis, terus bergema di relung hatinya. Ia pun “menyerah”; ia tak dapat lari dari kehendak-Nya.

Akhirnya, Dokter Lie menjawab panggilan Tuhan melalui profesinya. “Ya Tuhan, aku mau. Aku mau melayani-Mu,” ungkapnya sambil berkaca-kaca. “Saya mendeklarasikan kesetiaan untuk melayani Tuhan,” imbuhnya seraya menyeka air mata yang berguguran di pelupuk matanya.

Lantas ia berinisiatif mendirikan Rumah Sakit Apung (RSA) bersama Yayasan Dokter Peduli yang ia prakarsai. Dokter Lie Lie A. Dharmawan ingin melayani dengan “menjemput bola” keliling ke daerah-daerah dengan kapal yang dilengkapi peralatan operasi.

“Tiap manusia, dari kecil lalu tumbuh dan berkembang menjadi “hebat”, “kuat”,
ada orang yang care dengan kita. Proses ini karena kasih. Kita seringkali minta
berkat pada Tuhan untuk hidup kita, keluarga kita. Berkat itu lalu diapakan? Ya mesti kita bagikan. Kita sudah diberi gratis kok,” jelasnya saat ditanya mengapa ia mau melayani masyarakat tak mampu dan membuat RSA.

Sarana Pelayanan
Awalnya, Kepala Bagian Bedah RS Husada Jakarta ini dianggap “gila” tatkala
mengungkapkan keinginannya untuk melayani masyarakat miskin di daerah-daerah dan melakukan operasi di atas kapal. Julukan “dokter gila” pun dilekatkan padanya karena dianggap melawan arus dengan mencari sesuatu yang sulit. Namun kobar semangatnya tak padam. Komentar-komentar sinis tak menyurutkan langkahnya untuk melayani dan berbagi berkat pada sesama.

Ia bawa perjuangan keyakinan panggilannya dalam doa. “Dia yang setia. Saya
serahkan semua pada-Nya. Kekuatan saya adalah doa. Saya tak bisa apa-apa tanpa pertolongan-Nya,” tuturnya. Dokter Lie tak memungut biaya untuk operasi bagi masyarakat miskin. Bahkan ia dan rekanrekannya berjuang mencari bantuan untuk biaya rumah sakit pasien miskin.

RSA menjadi salah satu sarana Dokter Lie untuk menyalurkan berkat yang telah diterimanya. Pada 16 Maret 2013, pelayaran perdana RSA dr Lie
Dharmawan dilakukan. Kapal dengan luas 23,5 x 6,55 meter itu membawanya
bersama tim Yayasan Dokter Peduli menuju Pulau Panggang, Kepulauan Seribu. Perjalanan ditempuh selama 4,5 jam. Di kapal itu, sejumlah 320 warga
diobati, 15 pasien bedah minor, dan lima pasien bedah mayor.

Setelah Pulau Panggang, Dokter Lie dan tim berlayar ke Manggar, Belitung
Timur, dan Ketapang, Kalimantan Barat. Awal September ini, mereka kembali berjibaku mengarungi samudera untuk melayani masyarakat tak mampu. Mereka membuka pelayanan medis di Bali, Labuhan Bajo di Flores Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Pulau Kei, Maluku.

“Saya membiarkan diri disetir Tuhan. Rancanganku bukan rancangan-Mu.
Terjadilah kehendak-Mu,” ujarnya sambil beberapa kali masuk ruang kerjanya untuk menerima telepon yang terus berdering.

Andalkan Tuhan
Dukungan istri dan ketiga buah hatinya turut menguatkan pelayanan yang ia geluti. Istrinya, Tan Lie Tjhoen (Listijani Gunawan) pernah mengatakan, jika yang diberikan suaminya kurang, ia memintanya untuk lebih murah hati lagi.

Dokter yang akrab disapa “papi” oleh tim Yayasan Dokter Peduli ini menjadi
figur keteladanan kasih di antara rekan kerjanya. “Kasihilah sesamamu, seperti
engkau mengasihi dirimu sendiri.”

Penyerahan diri pada kehendak Tuhan dan untaian doa mengiringi pelayanannya. Tiap kali hendak melakukan operasi, Dokter Lie menyediakan waktu beberapa menit untuk berdoa. Ketua Perhimpunan Indonesia-Tionghoa
(INTI) bidang kesehatan DKI Jakarta (2005-sekarang) ini, mengajak para dokter dan perawat yang membantunya dalam operasi untuk berdoa sejenak sebelum operasi dilakukan. “Hal itu selalu dilakukan Dokter Lie. Pasti, sebelum
melakukan operasi, ia pasti doa dulu,” ungkap salah seorang perawat di RS Husada. Selain itu, ia sering melantunkan lagu rohani yang menguatkannya saat
operasi.

Dokter Lie berharap bisa terus melayani, berbagi berkat bagi sesama yang paling membutuhkan. Meski terpisah dari istri dan buah hatinya yang tinggal di Amerika Serikat, ia tetap ingin mengabdikan diri di tanah air. “Sekitar tiga bulan saya ada di Indonesia, lalu biasanya satu bulan menemui istri dan anak-anak,” bebernya.

Lulusan S3 Free University Berlin, Jerman ini, pernah mendapat tawaran bekerja dengan jaminan hidup yang lebih menjanjikan di Jerman. Namun ia justru memilih berpelayanan di bumi nusantara. “Seorang dokter itu hidup dengan mengabdi lewat sesama. Di sini (Indonesia-Red), saya merasa lebih bisa melayani sesama. Yang saya utamakan kualitas pelayanan,” tandas pria kelahiran Padang, Sumatra Barat, 16 April 1946 ini.

“Talenta yang saya punya tak hanya untuk diri sendiri,” demikian Dokter Lie, “tapi saya kembangkan untuk melayani dan menolong sesama yang membutuhkan.”

Maria Pertiwi




Kunjungan: 13223
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com