Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Jalan Berliku Seorang Pertapa - Hidup Katolik

Jalan Berliku Seorang Pertapa

Jumat, 8 November 2013 11:39 WIB
Jalan Berliku Seorang Pertapa
[HIDUP/Stefanus P. Elu]
Kaul Kekal: Romo Yohanes Indrakusuma CSE saat mengikrarkan kaul kekal di Lembah Karmel, Cikanyere, Selasa, 1 Oktober 2013

HIDUPKATOLIK.com - Setelah 46 tahun menjadi imam OCarm, Romo Yohanes Indrakusuma mengganti jubahnya dengan jubah CSE. Ia berhimpun ke dalam kongregasi pertapa yang didirikannya 27 tahun lalu.

Ratusan umat memenuhi halaman rumah Pusat Pelayanan Rohani Lembah Karmel, Cikanyere, Jawa Barat, Selasa, 1/10. Mentari yang bersinar cerah pagi itu, seakan ikut menyongsong antusiasme mereka yang ingin menyaksikan
peng ikraran kaul kekal Romo Yohanes Indra kusuma.

Menurut Konstitusi Kongregasi Carmelitae Sancti Eliae (CSE), pengikraran
kaul kekal tersebut sekaligus pelantikan Romo Yohanes menjadi Pelayan Umum Kongregasi CSE yang berlangsung dalam Perayaan Ekaristi di Kapela Maria Bun da Karmel, Lembah Karmel.

Misa pengikraran kaul kekal dan pelantikan Romo Yohanes Indrakusuma, yang bertepatan dengan Hari Raya Santa Teresia dari Kanak-kanak Yesus, dipimpin oleh Uskup Bogor, Mgr Michael Cosmas Angkur OFM, didampingi
puluhan imam.

Dalam khotbahnya, Mgr Michael menegaskan bahwa panggilan hidup membiara seperti tugas membajak. Saat membajak, dua ekor sapi diikat dengan satu kuk sehingga dapat berjalan bersama dan seirama untuk hasil yang
maksimal.

Demikian pula seorang religius akan “diikat” dengan Kristus. Seorang religius akan memikul kuknya berupa janji penyerahan diri yang total kepada Allah, melalui kaul-kaul yang diucapkannya. Para religius dan Kristus adalah pasangan yang harus selalu berjalan bersama dalam cinta kasih, saling setia dalam sikap disiplin menuju hidup yang suci.

“Romo Yohanes, melalui kaul-kaul religiusnya sesuai dengan spiritualitas CSE, ingin menyerahkan diri kepada Kristus di sepanjang usianya, untuk hidup dalam ketaatan, kemurnian, dan kesetiaan. Ia menjadi pasangan Kristus untuk selamanya,” tandas Mgr Michael.

Dalam sambutannya, Provinsial Ordo Karmel, RP Ignatius Joko Purnomo OCarm, yang turut hadir dalam Ekaristi, menegaskan bahwa tidak ada perpisahan antara Ordo Karmel dengan Romo Yohanes. “Karena Romo Yohanes tetap menimba semangat yang sama dari Nabi Elia.”

Pertapaan Karmel
Jalan panjang dan berliku telah dilintasi Romo Yohanes, hingga akhirnya ia mengenakan jubah CSE. Sewaktu masih frater, Romo Yohanes sudah mendambakan hidup sebagai pertapa. Saat itu, ia mengetahui ada satu pertapaan Karmel internasional di Wolfnitz, Austria. Ia bercita-cita ingin membaktikan hidupnya dalam keheningan di sana. Tak sekalipun terbayang, ia bakal mendirikan tarekat imam.

Pada 1964, ketika Jenderal Karmelit, Pastor Lilian Healey, berkunjung ke Indonesia, Frater Yohanes memberanikan diri untuk menanyakan tentang hal
tersebut. “Beliau mengatakan, nanti kalau kamu sudah menjadi imam, terbuka kemungkinan menjadi pertapa,” sitirnya.

Alhasil, keinginan untuk hidup ala eremitase itu ia pendam. Tahun 1967, Romo Yohanes ditahbiskan menjadi imam. Setahun berselang, 1968, Kapitel Jenderal Karmelit memutuskan untuk menutup pertapaan di Austria karena kurangnya animo para Karmelit menjadi pertapa.

Realita itu tak menyurutkan niat imam kelahiran Nganjuk Jawa Timur, 8 Juni 1938 ini untuk menjadi pertapa. Tahun 1968, ia melanjutkan studi lisensiat teologi di Universitas Gregoriana, Roma. Selanjutnya, ia studi doktoral di bidang spiritualitas di Institut Catholique de Paris. Saat di Perancis, ia kerap terlibat dalam acara-acara yang diselenggarakan di Biara Taize dan mengait relasi yang cukup akrab dengan pemimpinnya, Bruder Roger Schutz.

Setelah memungkasi studi, tahun 1973, Romo Yohanes kembali ke Tanah Air. Setahun kemudian, Romo Yohanes menerima surat dari seorang suster pemimpin sebuah tarekat di Perancis. Suster itu baru mengikuti retret Karismatik. “Ia mengalami karya Roh Kudus yang luar biasa.” Karena awalnya, Romo Yohanes mempunyai persepsi agak negatif tentang Karismatik, ia membalas suratnya dengan skeptis.

Suster itu kembali mengirim surat, hingga akhirnya Romo Yohanes minta dikirimi literatur-literatur mengenai Karismatik. Lantas, ia memperoleh tiga buku mengenai “Pentakosta Katolik” karangan Kevin dan Dorothy Renegan.
Ia sangat bahagia karena ketiga buku itu seakan menjawab pencariannya yang
panjang. “Kehadiran Allah, kasih Allah, dan kuasa Allah bisa dialami bila kita
sungguh-sungguh memohon kepada-Nya,” tegasnya.

Romo Yohanes menandaskan bahwa ia mengenal Karismatik lebih pada sisi teologisnya, bukan pada ekspresinya. Karena itu ia menekankan, sebaiknya
Karismatik dibedakan antara isi dan kemasannya. “Isinya sama, tapi kemasannya bisa berbeda-beda. Kami lebih memperhatikan isinya,” tandasnya lagi.

Di kemudian hari, muncul pihak-pihak yang menentang Romo Yohanes karena dianggap menggabungkan Karmel dengan Karismatik. Menurut Romo Yohanes, menyelaraskan keheningan dengan suasana persekutuan doa bukan
masalah. Semua itu, lanjutnya, ia lakukan sebagai pelayanan kepada umat.

“Secara pribadi, saya lebih suka pada keheningan,” akunya. Dalam keseharian,
ia lebih banyak tenggelam dalam keheningan. “Saya merayakan Misa Karismatik hanya sekali dalam seminggu, dan itu hanya sekitar dua jam. Selanjutnya, saya kembali masuk ke dalam keheningan,” tukasnya.

Menjadi Pertapa
Seiring bergulirnya waktu, keinginan Romo Yohanes untuk menjadi pertapa terus menggelitik. Tahun 1976, atas seizin Provinsial Karmel waktu itu, Pastor
Hadisumarto OCarm, ia dan Pastor Cypria nus Verbeek tinggal di Pertapaan
Ngroto, Malang. “Kami tidak mengonsumsi daging, protein diperoleh dari telur
ayam,” kenangnya.

Tahun 1977, ia mempelajari spiritualitas Zen di Jepang dan spiritualitas Asia di India. Selama beberapa waktu ia ting gal di Shantivanam Ashram, India. Sekembalinya dari India, Romo Yohanes kembali ke Pertapaan Karmel di Ngroto. Dalam sepekan, lima hari ia bertapa. “Setiap Selasa dan Rabu, saya ‘turun gunung’ untuk mengajar Dogmatik dan Spiritualitas di STFT Widyasasana, Malang.”

Sementara itu, Romo Yohanes kerap diminta untuk memberikan pengajaran-pengajaran rohani bagi para biarawan dan biarawati serta awam. Tahun 1979, lokasi pertapaan pindah dari Ngroto ke Ngadireso. Ternyata, tamu yang ingin berkonsultasi kepadanya terus meningkat. Awalnya, ia bergumul karena kondisi demikian mengusik keheningannya. Belakangan, ia bisa menerima realita tersebut. “Setelah tamu-tamu pulang, saya kembali masuk ke dalam keheningan.”

Nyatanya, keinginan untuk bertapa tak pernah beranjak dari batinnya. “Kerinduan saya, ingin bertapa sampai mati dengan ditemani dua atau tiga orang saja. Saya ingin membaktikan hidup saya dalam keheningan,” tutur imam yang menjalani Tahun Sabatikalnya pada 2007, dengan bertapa selama setahun di Padang Gurun Cikanyere.

Tiga Pemuda
Pada 1985, datang tiga pemuda yang ingin menempuh cara hidup sebagai pertapa, sebagaimana dilakukan Romo Yohanes. Kemudian, mereka menetap
di Pertapaan Ngadireso. “Waktu itu, status mereka masih belum jelas, apakah akan bergabung dengan Serikat Karmel atau berdiri sendiri,” kenang Romo Yohanes.

Akhirnya, mereka membentuk serikat baru yang otonom, lepas dari Ordo Karmel. Pada 20 Juli 1986, Carmelitae Sancti Eliae (CSE) atau Para Karmelit dari Nabi Elia berdiri secara resmi.

Seiring waktu, pelayanan dan retret, serta kemping rohani bagi kaum muda
yang diselenggarakan Pertapaan Ngadireso berkembang. Realita ini mengundang reaksi dari berbagai pihak, termasuk sebagian rekan Karmelit.

Tahun 1987, terjadi ketegangan antara Romo Yohanes dengan pihak Keuskupan Malang. “Seumur hidup belum pernah saya merasa sesedih itu,” ungkapnya. Lantas, Romo Yohanes memutuskan untuk pindah dari Malang. Akhirnya, pilihannya jatuh ke Cikanyere yang menjadi wilayah kegembalaan Uskup Bogor, Mgr Harsono (Almar hum).

Tanpa ragu Romo Yohanes bertemu dengan Mgr Harsono yang kemudian memberikan lampu hijau. “Kalau memang ini kehendak Tuhan, tak mungkin dirintangi oleh manusia. Kalau ternyata ini kehendak manusia, rencana ini akan
hancur dengan sendirinya,” sambut Mgr Harsono.

Pada 13 Juni 1990, Mgr Harsono selaku Uskup Bogor memberikan pengakuan resmi kepada CSE sebagai sebuah serikat gerejani pada tahap
awal, yakni Associatio Publica. Dan, pada 2011, CSE di akui sebagai tarekat
klerikal tingkat ke uskupan.

Di masa senjanya, Romo Yohanes kian menyatu dengan Kongregasi CSE. Lewat perjalanan waktu yang berkelok, ia mendapati rencana Tuhan sungguh bukan rencananya. “Setahap demi setahap semua ini terbentuk,” ujarnya. Setelah 46 tahun menjadi imam Para Saudara St Perawan Maria dari Gunung Karmel (OCarm), kini ia resmi menjadi imam Karmelit dari Nabi Elia (CSE).

Norben Syukur/Maria Etty




Kunjungan: 2393
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com