Hidupkatolik.com
Hidupkatolik.com


Mengenang 15 Tahun Wafat Romo Mangun - Hidup Katolik

Mengenang 15 Tahun Wafat Romo Mangun

Jumat, 21 Februari 2014 19:23 WIB
Mengenang 15 Tahun Wafat Romo Mangun
[H. Bambang S.]
Haul Romo Mangun: Suasana dialog Pemikiran Romo Mangun bersama tokoh lintas iman di Seminari Tinggi St Paulus Kentungan, Yogyakarta.

HIDUPKATOLIK.com - Romo Mangun dikenang sebagai tokoh yang konsisten membela keadilan bagi rakyat kecil. Ia pernah memprakarsai “Petisi 41 Imam” yang mengkritik kondisi masyarakat yang terpuruk pada 1974.

Ratusan umat lintas iman menghadiri peringatan 15 tahun wafat Romo Y.B. Mangunwijaya di aula Seminari Tinggi St Paulus Kentungan, Yogyakarta, Minggu, 9/2. Dialog pemikiran Romo Mangun kali ini mengusung tema “Romo Mangun Menggugat”.

Acara dibuka dengan perayaan Ekaristi yang dipersembahkan oleh Uskup Emeritus Ketapang, Mgr Blasius Pujaraharja, didampingi tujuh imam dan dua diakon. Menurut Mgr Blasius, satu hal penting yang harus dilihat dari sosok Romo Mangun adalah konsistensinya memperjuangkan keadilan bagi rakyat kecil. ”Romo Mangun berani mempertaruhkan nyawa bagi para sahabatnya,” katanya.

Bahkan, lanjutnya, Romo Mangun berani mengkritik para imam yang tak mengenal situasi sekitarnya. Pada 1974, saat pertemuan dengan 41 pastor yang tengah membicarakan evangelisasi, Romo Mangun menggugat, “Buat apa kita enak-enak berdoa di gereja, kalau situasi masyarakat kacau akibat lotre buntut.” Situasi masyarakat pada saat itu, kata Mgr Blasius yang tatkala itu tengah menjadi Vikaris Episkopal DIY, terpuruk luar biasa karena lotre buntut dari SDSB.

Mgr Blasius menjelaskan, gugatan Romo Mangun itu membuka hati para imam untuk membuat “Petisi 41 Imam”. “Yang mengakibatkan sejumlah imam, termasuk Romo Mangun dan saya diinterogasi intelijen selama delapan jam,” kata Mgr Blasius. Petisi itu, di antaranya menyoroti bobroknya moral bangsa akibat lotre buntut.

RD Y. Suyatno Hadiatmojo, penggagas acara ini mengatakan, Romo Mangun yang wafat pada 10 Februari 1999 meninggalkan banyak ajaran dan teladan bagi masyarakat luas. Menurutnya, gagasan awal menggelar haul ke-15 Romo Mangun ini disambut positif oleh Forum Persaudaraan Umat Beriman (FPUB) Yogyakarta.

Dialog lintas iman yang digelar di aula Seminari Tinggi Kentungan, antara lain dihadiri oleh Koordinator FPUB setempat K.H. Abdul Muhaimin, Pdt Bambang dari GKI Gejayan, dan Kiai Munawar dari Klaten. Tampak sejumlah aktivis yang bersama Romo Mangun pernah berkarya atau memperjuangkan keadilan. Mereka datang dari sekitar Waduk Kedungombo, Bantaran Kali Code, Gunung Kidul, dan Sendang Sono.

Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Semarang (KAS), RD F.X. Sukendar, mengatakan, peristiwa mengenang Romo Mangun ini merupakan kesempatan untuk membangun niat dan melanjutkan perjuangan Almarhum. “Dari sisi kharisma, pribadi beliau tidak mudah digantikan,” katanya. Namun, tambahnya, di KAS kharisma Romo Mangun dibagi-bagi. Misalnya, karya pendidikan dengan mengembangkan Sekolah Eksperimen Mangunan, serta karya sosial kepada masyarakat kecil. Romo Sukendar berharap, para frater dan imam muda bisa mewujudkan apa yang menjadi cita-cita Romo Mangun.

Selain dialog, mereka juga melakukan tabur bunga di makam Romo Mangun di kompleks Seminari Tinggi Kentungan.

H. Bambang S. (Yogyakarta)




Kunjungan: 1223
Loading...
Loading...
Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau topik yang dikehendaki untuk dijawab atau dijelaskan dalam rubrik Konsultasi Iman atau Konsultasi Keluarga. Kirimkan pertanyaan atau tanggapan anda melalui email ke: hidup@indo.net.id atau SMS ke nomor 081290781618 atau melalui pos ke Redaksi Majalah HIDUP Jl Kebon Jeruk Raya 85 Batusari, Jakarta 11530, Fax: 021-5485737.
lazada indonesia
lazada
© 2011 hidupkatolik.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Terms of Use | Redaksi | Karir | Contact Us | Email 1 | Email 2
     

Hidupkatolik.com