Manusia Butuh Penebus Dosa?

2
Martir pertama Stefanus dilempari batu, karya Rembrandt Harmensz van Rijn, 1625.
[artbible.info]
Manusia Butuh Penebus Dosa?
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Bukankah setiap orang bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri? Bagaimana mungkin Yesus menanggung dosa-dosa itu?

Suatu saat, seorang teman Muslim mungkin akan mengajukan beberapa pertanyaan dengan rumusan yang tak kita duga sama sekali. Tak terduga-duga, karena kita selama ini mungkin tak pernah mempertanyakan realita iman berikut: ”Keyakinan bahwa Yesus wafat di kayu salib adalah peristiwa ’mengerikan’ dan menjadi batu sandungan bagi umat Muslim. Bagaimana mungkin Allah membiarkan anak-Nya –kalau memang Yesus benar-benar Putra Allah– dan seorang Nabi besar dipaku di kayu salib? Benarkah penghapusan dosa harus membutuhkan pengorbanan seperti itu?”

Saudari-saudara Muslim menganggap, dosa asal itu tidak masuk akal. Setiap orang bertanggung jawab terhadap perbuatannya sendiri dan dengan demikian akan diadili setimpal dengan perbuatannya. Pandangan anak menanggung dosa dari orangtua atau pandangan seseorang bisa menebus dosa orang lain, tak bisa di terima. Maka ajaran Islam tidak menerima adanya pengakuan iman yang mengatakan, Yesus menderita, wafat dan bangkit untuk menebus dosa-dosa manusia.

Dosa dalam pandangan Islam memiliki kategori: berat dan ringan, seperti dalam Gereja Katolik. Dosa berat hanya menimpa seseorang yang murtad dari imannya atau ketika berlaku syirik, yaitu mengasosiasikan Allah dengan benda atau wujud ciptaan. Dosa-dosa lain yang bukan serangan langsung terhadap Allah akan di ampuni-Nya. Seseorang bisa menjadi Muslim yang baik meski ia tak bisa me lakukan seluruh peraturan dengan sempurna.

Al-Qur’ān –dalam Al-Baqarah 30-38; Al’A’raf 19-27, 117-128– mengisahkan kejatuhan Adam ke dalam dosa dengan cara dan isi yang pararel dengan Kitab Kejadian dalam Perjanjian Lama. Allah mengeluarkan perintah yang melarang ma nusia untuk makan buah terlarang.Adam dan ’istrinya’ –yang tidak disebutkan spesifik namanya dalam Al-Qur’ān tidak mengindahkan larangan itu. Adam pun jatuh ke dalam dosa. Namun Al-Qur’ān mengisahkan, Adam bertobat dan Allah mengampuninya. Ia menjadi nabi pertama yang tidak berdosa.

Kesalahan Adam memang mengakibatkan keturunannya keluar dari Firdaus. Mereka hidup tidak tenang dan berada di bawah godaan setan. Meski demikian, Al-Qur’ān menolak ide tanggung jawab dosa kolektif (Al An’aam 164; Al’A’raf 28; Al’Israa 15).Dosa-dosa leluhur tak bisa diampuni melalui dan oleh keturunan mereka. Penghakiman Terakhir juga dipahami sebagai tanggung jawab pribadi dengan Allah (Ath Thuur 21; An Najm 38). Surat Az Zalzalah 7-8 mengatakan, ”Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” Dzarrah ialah kata Arab yang berarti materi yang paling kecil yang bisa kita kenali (baca: atom).

Dosa Asal
Teologi Kristen punya cara pandang yang berbeda dengan cara pandang Islam. Para teolog Kristen memahami Kejadian 3 dan Roma 5:12-21 sebagai upaya menyampaikan pesan iman pada manusia lewat cerita-cerita simbolis yang menyentuh dimensi kejahatan dan dosa. Dalam dirinya, tiap manusia menghadapi pergumulan ini.

”Demikianlah aku dapati hukum ini: jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku. Sebab didalam batinku aku suka akan hukum Allah, tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku” (Rm 7:21-23). Godaan untuk melakukan kejahatan ini sangat kuat. Manusia sangat kerap mengalami ketidak harmonisan dengan Allah. Setiap manusia yang baru dilahirkan punya kodrat itu. Alkitab menamakan situasi kodrati ini sebagai ‘dosa dunia’. Dosa seseorang secara sosial selalu akan melemahkan manusia lain.

Dosa asal bukanlah dosa pribadi yang dipahami berada dalam posisi salah sejak lahirnya. Ayat-ayat dalam Kitab Suci tidak mengatakan dosa asal sebagai dosa pribadi sejak lahir (Yoh 9:2-3; Mat 16:27). Dosa asal –sekali lagi– ialah realitas di mana setiap manusia ketika lahir membawa sebuah kodrat dosa dunia, di mana manusia tak bisa lepas dari sejarah panjang dan jaringan yang baik dan yang jahat serta dosa-dosa personal.

Salib dan Penebusan
Salib adalah skandal besar untuk umat Muslim. Al-Qur’ān memiliki kisah yang berbeda dan menganggap, penyaliban Nabi Isa tidak pernah ada.

“Dan karena ucapan mereka (orang-orang Yahudi): Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah. Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Mahaperkasa lagi Maha bijaksana” (An-Nisa’ 157-158).

Baik dari luar maupun dari dalam umat Katolik, tak jarang muncul sindiran: “Benarkah umat Katolik (dan Kristen) pada dasarnya senang membuat glorifikasi atau mengagungkan dan memuliakan penderitaan? Benarkah pengikut Kristus itu semacam penderita sakit jiwa masokisme yang menikmati penderitaan dan kesakitan?”

Biografi Yesus dalam empat Injil mengatakan pada para pembacanya, penderitaan dan wafat Yesus adalah konsekuensi dari perjuangan untuk mewujudkan misi-Nya. Sejak awal, Dia sudah berkonflik dengan para penguasa dan penjaga hukum agama pada zaman-Nya (Mat 11:28, 34; Luk 11:46). Menghadapi situasi yang tidak mudah ini, Dia terus konsisten dengan pilihan panggilan-Nya. Maka berlangsung eskalasi benturan-benturan antara Yesus dengan penguasa agama dan politik.

Kematian Yesus di kayu salib menimbulkan dilema. Di satu pihak, kejadian ini membuat ‘musuh politik’-Nya berada di atas angin. Mereka menunjukkan, Khot bah Yesus selama ini memang palsu. Buktinya, Allah tidak menolong- Nya. Selama beberapa periode, para murid-Nya pun sedih dan kecewa dengan kenyataan ini. Di lain pihak, kejadian ini membuat komunitas para pengikut-Nya merumuskan kembali keyakinan dan iman yang pada dasarnya senantiasa mengandung misteri. Mereka memandang Yesus yang wafat dengan mata iman baru.

Wafat Yesus sedemikian itu telah mengajarkan pada para pengikut-Nya: ‘iman menuntut pengorbanan’. Di tengah penderitaan, kemiskinan, perlakuan sewenang-wenang dan tidak adil, kasih sejati harus menjadi jawaban. Pesan moral peristiwa disekitar penderitaan dan wafat Tuhan Yesus ialah kasih dan pengorbanan mampu mematahkan rantai kekerasan. Hanya jika biji gandum jatuh kedalam tanah dan mati, ia bisa menghasilkan buah melimpah (Yoh 12:24). Disini ’cinta tanpa syarat’ dari Yesus bak lilin yang habis oleh api, bukanlah sejenis masokisme. Akan tetapi, cinta sehabis-habisnya adalah jawaban atas dunia yang dipenuhi dengan kebencian, permusuhan dan perang. Yesus wafat karena manusia berdosa, sekaligus untuk menyelamatkan manusia yang berdosa. Konsili Vatikan II tidak meletakkan beban tuduhan pembunuhan Yesus pada orang-orang Yahudi. Dosa-dosa dunia menyeluruh yang menyebabkan kematian Yesus.

Jadi apa makna Paskah dan kebangkitan Yesus? Dialah proklamasi, cinta adalah pemenang atas kebencian. Semua umat Katolik dan Kristen dipanggil untuk mengikuti teladan yang sudah dimulai oleh para rasul-Nya. Gereja Perdana mengalami konsekuensi menjadi pengikut Kristus. Kisah kemartiran Stefanus (Kis 7) memberikan ilustrasi ini. Gereja merefleksikan dan merumuskan iman terus menerus hingga hari ini. Sengsara, kematian dan kebangkitan Yesus adalah al-fi dā’, penebusan, yang menyatukan kembali hubungan Allah dengan manusia.

Gregorius Soetomo SJ

HIDUP NO.15 2014, 13 April 2014

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here