Seruan Pastoral Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) 2016: STOP KORUPSI

Sekjen KWI Mgr Antonius Bunjamin Subianto OSC (bicara) bersama Ketua KWI Mgr Ignasius Suharyo dalam Konferensi Pers Sidang KWI 2016. (Yohanes Indra/Dokpen KWI)
Seruan Pastoral Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) 2016: STOP KORUPSI
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Sidang Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Tahun 2016 telah berakhir, Kamis, 10/11. Dalam konferensi Pers hari ini, KWI menyampaikan salah satu hasil dari sidang tersebut yaitu Seruan Pastoral KWI 2016 STOP KORUPSI. Berikut naskah lengkap seruan pastoral tersebut yang Redaksi dapat dari website resmi Departemen Dokumentasi dan Penerangan Konferensi Waligereja Indonesia, www.dokpenkwi.org.

 

SERUAN PASTORAL KWI 2016

STOP KORUPSI:

Membedah dan Mencegah Mentalitas serta Perilaku Koruptif

 

Segenap Umat Katolik terkasih,

Sidang KWI 2016 yang diawali dengan Hari Studi para Uskup yang juga diikuti oleh peserta Sidang KWI (31 Oktober – 2 November 2016) mengambil topik Membedah dan Mencegah Mentalitas serta Perilaku Koruptif.

Hari studi ini digunakan oleh para Uskup untuk mendengarkan kesaksian para penggerakanti korupsi serta berbagai langkah pencegahan yang mereka lakukan. Bahan dari berbagai narasumber itu didalami melalui diskusi-diskusi bersama untuk menemukan benang merah dari persoalan korupsi. Perilaku koruptif telah begitu merusak dan menggerogoti kehidupan masyarakat, terjadi di mana-mana, baik di dunia bisnis, pemerintahan, lembaga negara,bahkan di institusi agama, termasukGereja. Korupsi dalam segala bentuknya telah menjadi kejahatan yang sistemik, terstruktur, dinamis, dan meluas dari pusat sampai ke daerah.

Melalui media massa,setiap hari kita saksikan persoalan korupsi diangkat ke permukaan, pelakunya ditangkap, diadili, dan dijatuhi hukuman. Sangat memprihatinkan karena banyak dari mereka yang dihukum adalah pejabat negara dan tokoh masyarakat. Usaha pemberantasan korupsi bagaikan mengurai benang kusut, saling terkait, bahkan membentuk tali-temali yang tidak jelas ujungnya.

Pemidanaan dan pemiskinan para koruptor tidak mengurangi perilaku koruptif. Hari ini satu orang ditangkap, hari berikutnya muncul orang lain melakukan korupsi yang sama, bahkan lebih dahsyat, di tempat yang berbeda, seakan korupsi memang tidak akan ada habisnya.

Saudara-saudari terkasih,

Dorongan berperilaku koruptif bisa muncul dari dalam diri tiap individu maupun masyarakat di sekeliling kita. Dorongan dari dalam diri sendiri bisa disebabkan karena gaya hidup yang tidak seimbang dengan penghasilan, yaitu manakala gaji atau penghasilan tidak cukup untuk membiayai berbagai kebutuhan hidup. Penyebab lainnya adalah sifat tamak (serakah, rakus) yang membuat seseorang selalu tidak pernah puas dengan apa yang sudah dimiliki. Di samping itu, sikap moral kurang kuat dan iman lemah sehingga orang mudah tergoda untuk melakukan korupsi.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*