Anti Korupsi, Habitus Baru

Mgr Ignatius Suharyo, Mgr Antonius Bunjamin OSC dan Romo Guido Suprapto dalam Konferensi Pers (Yusti H. Wuarmanuk)

HIDUPKATOLIK.COM SIDANG Tahunan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) yang dilaksanakan pada Senin, 31 Oktober-10 November telah selesai dengan mengambil topik, “Membedah dan Mencegah Mentalitas Serta Perilaku Koruptif”. Persoalan korupsi menjadi isu penting bagi  Indonesia. Korupsi terjadi dalam segala hal dan menjadi kejahatan yang sitematis, terstruktur, dinamis dan meluas dari pusat sampai ke daerah-daerah. “Perilaku korupsi sepertinya meniadakan sikap keadilan sejati dan hanya meninggalkan kemiskinan dan kemelaratan,” ungkap Ketua KWI Mgr Ignatius Suharyo dalam Konferensi Pers di ruang Lobi Kantor KWI, Menteng, Kamis, 10/11.

Maka dari Sidang KWI ini para presidium mengeluarkan tiga dokumen penting sehubungan dengan dalam konteks mendukung topik korupsi. Tiga dokumen tersebut adalah Seruan Pastoral KWI 2016 tentang “Stop Korupsi”kemudian Pesan Natal Bersama KWI dan Perseketuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) serta Seruan Pastoral KWI dalam menyambut Pilkada Serentak 2017.

Mengungkit pesan Natal, presidium mengangkat tema “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus Tuhan di Kota Daud” (Lukas 2:11). Tema ini, kata Mgr Suharyo, direfleksikan dalam kerangka Allah berkenan turun ke dunia masuk ke dalam hiruk-pikuk kehidupan manusia. Mgr Suharyo mengajak umat merefleksikan kata “hari ini” dalam teks Injil Lukas ini. Hari ini menjadi penting karena apa yang dialami bangsa Indonesia bisa dikatakan sebagai hiruk-pikuk. Dan hiruk- pikuk kehidupan manusia itu dalam konteks Indonesia terjadi dalam berbagai bentuk seperti korupsi, pungutan liar (pungli), narkoba, isu SARA dan penyelewengan Pilkada. “Dalam perjuangan untuk mengatasi masalah-masalah seperti ini, kehadiran Juruselamat dapat memberi kekuatan kepada kita. Dengan begitu anti korupsi menjadi habitus dan slogan hidup orang Katolik,” ujar Mgr Suharyo.

Dalam Konferensi Pers tersebut, Mgr Suharyo didampingi Sekretaris Eksekutif KWI Mgr Antonius Subianto Bunjamin dan Sekretaris Komisi Kerasulan Awam (Kerawam) KWI Romo Guido Suprapto. Mgr Bunjamin mengajak seluruh umat untuk merefleksikan tentang pilkada serentak di tahun mendatang. Pilkada ini seharusnya menjadi sarana memperkokoh bangunan demokrasi bangsa. Karena sebagai bangunan demokrasi maka pilkada tidak harus dinodai dengan berbagai praktik yang merugikan pilkada. “Jangan sampai terjadi kekerasan dalam bentuk apapun, baik secara terbuka maupun terselubung,” tegas Mgr Bunjamin.

Yusti H.Wuarmanuk

KOMENTAR ANDA:

2 Comments

  1. agak tergelitik juga membaca gimana tiba tiba ikut sibuknya kalangan gereja berbicara tentang korupsi. Beberapa waktu yang lalu pernah saya melontarkan pertanyaan seberapa efektif kah per4an gereja didalam membendung korupsi ?
    Namun, sebelum kita mulai mengritik orang lain, bukankah sebaiknya kita memeriksa diri kita sendiri lebih dahulu, maksudnya, bukan rahasia umum lagi bahwa didalam dunia gereja Katolik sendiri juga banyak terjadi Korupsi baik oleh kaum rohaniawan maupun kaum awam ?

  2. Harapan saya sederhana, semoga hasil sidang soal korupsi ini juga dihidupi oleh. Para uskup, imam dan pejabat2 gereja yang dekat dengan uang ……

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*