DELAPAN ABAD KARYA OP

Pentas seni dalam HUT 800 para Suster OP.
[HIDUP/Yohanes Muryadi]

HIDUPKATOLIK.com – Memperingati ulang tahun ke-800, para Suster OP diajak untuk membagi kasih kepada siapapun, terutama mereka yang kecil dan terlantar.

SEBAGAI murid Kristus, kita semua dipanggil untuk bersaksi tentang Yesus yang karena kasih-Nya telah menyelamatkan dunia. Demikian kata Administrator Keuskupan Agung Semarang Romo F.X. Sukendar Wignyosumarto saat memimpin Misa Pesta Emas dan Perak para Suster Ordo Pengkotbah (Ordo Praedicatorium/ OP) di Gereja Kristus Raja Baciro, Yogyakarta, Minggu, 11/12.

Suster yang merayakan pesta emas hidup membiara adalah Sr M. Raymunda OP dan Sr M. Yosephine OP. Sedangkan empat suster lain yang merayakan pesta perak adalah Sr M. Ferdinanda OP, Sr M. Diana OP, Sr M. Natalia OP, dan Sr M. Albertine OP. “Para suster secara khusus dipanggil untuk bersaksi tentang kebenaran ke seluruh dunia dengan berkobar-kobar,” kata Romo Sukendar.

Kegembiraan enam suster OP ini menjadi sempurna karena ordo tempat mereka menempa diri menjadi “mempelai Kristus” juga merayakan ulang tahun ke-800. Perayaan delapan abad tersebut mengambil tema “A Mirachle of Love”. Pesta syukur diadakan di Hotel Aston Cirebon, Jawa Barat, Rabu, 14/12. Sedikitnya 1600 umat dan undangan yang terdiri dari biarawan-biarawati, para guru dan murid Sekolah St Maria Cirebon menghadiri acara ini, tak terkecuali Uskup Bandung Mgr Antonius Subianto Bunyamin OSC.

Pemimpin OP Indonesia Sr Anna Marie OP mengatakan, pesta syukur ini tidak lepas dari berkat Tuhan kepada para Suster OP. “Kami, para suster bisa berkarya hingga saat ini karena Tuhan mencintai kami,” ungkap Sr Anna Marie.

Dalam rangka memeriahkan pesta iman ini, berbagai kegiatan diadakan, seperti pentas seni dan drum band dari murid-murid persekolahan St Maria, pujian dan kesaksian dari Tim Bunda Anne Avantie. Sementara pada puncak perayaan diadakan Kethoprak Humor yang mengangkat budaya setempat, khususnya Tari Topeng, dari Tim Didik Nini Thowok bersama Endah Laras dan para guru Sekolah St Maria.

Banyak pesan yang disampaikan dalam kegiatan-kegiatan tersebut. Namun rangkaian syukur ini menyimpul pada pesan utama, yakni budaya dan tradisi yang luhur terus dipelihara sehingga tidak terkikis zaman. Pesan ini juga menyiratkan sebuah harapan agar para Suster OP kapan dan di manapun bisa menjadi berkat bagi orang lain dengan cinta tanpa batas, khususnya kepada orang kecil.

Mgr Antonius mengajak para suster untuk mengembangkan kasih kepada siapapun. Katanya, kasih yang sejati adalah kasih yang harus dibagikan. “Kasih akan bermakna bila diterima orang lain. Dengan saling mengasihi kita semua akan merasakan a Miracle of love setiap hari,” ujar Mgr Antonius.

Ordo OP didirikan St Dominikus di Spanyol pada 1216. Misi OP di Indonesia bermula pada 1931 di Cilacap, Jawa Tengah, dengan fokus pelayanan di bidang pendidikan, kesehatan, sosial, dan pastoral-spiritual. OP terus melayani umat dengan kasih berdasarkan spritualitas Veritas, Laudare, Benedicere, Praedicare dan Contemplary et Contemplata. Kini Suster OP tersebar di 14 komunitas di Indonesia, antara lain di Yogyakarta, Wonosari, Purwokerto, Cimahi, Cirebon, Jakarta, dan Flores, dengan jumlah anggota 110 orang.

Yohanes Muryadi (Cirebon)

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*