Ursulin Ciptakan Generasi Bermutu

Drama musikal perayaan 160 tahun Ordo Santa Ursula berkarya di Indonesia.
[HIDUP/A.Aditya Mahendra]

HIDUPKATOLIK.com – Sudah 160 tahun Ordo Santa Ursula berkarya di Indonesia. Kisahnya dihidupkan kembali di panggung.

MONCONG kapal Herman dari Belanda akhirnya bisa mengecup bibir dermaga Batavia pada 7 Februari 1856. Butuh 140 hari perjalanan. Kapal itu mengangkut tujuh suster dari Ordo Santa Ursula, Vikaris Apostolik Batavia waktu itu Mgr Petrus Maria Vrancken (1806-1879), dan tiga imam praja.

Para Suster Ursulin datang atas permintaan Mgr Vrancken. Mereka diminta membantu misi, terutama dalam bidang pendidikan di Pulau Jawa. Komunitas pertama mereka terletak di Jalan Noordwijk, sekarang Jl. Ir. H. Juanda, Jakarta Pusat. Pada 13 Mei 1856, 30 anak perempuan masuk asrama. Seiring waktu, sejumlah lembaga pendidikan yang diasuh para Ursulin terus bermunculan dan berkembang hingga kini.

Kronik itulah yang dihidupkan kembali lewat drama musikal oleh para siswa-siswi TK-SMK St Maria Juanda di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Minggu, 18/12. Murid-murid Ursulin juga menyuguhkan berbagai tarian daerah, balet, dan band untuk menyemarakan puncak perayaan 160 tahun Ordo Santa Ursula berkarya di Indonesia.

Kepala Yayasan St Maria Juanda Sr Corina OSU bersyukur karya para Suster Ursulin masih bertahan hingga kini. Ia bertekad menjaga dan meneruskan karya misi demi kebaikan Indonesia. “Ini merupakan kasih Tuhan. Semoga Tuhan mendampingi segala usaha dan karya para suster untuk menciptakan generasi bangsa yang bermutu,” harapnya.

Ketua Panitia acara Bernadette Marita Tanaka mengatakan, berbagai acara yang disuguhkan di atas panggung bertujuan untuk memperkenalkan sejarah berdirinya Sekolah St Maria Juanda dan Biara Ursulin di Indonesia. Sebelumnya, lanjut Bernadette, panitia menggelar sejumlah acara, seperti Misa Syukur, jalan santai, pentas seni, dan bazaar makanan serta pakaian.

Acara yang mengusung tema “Jika Tuhan yang Menanam, Siapa yang Dapat Mencabutnya” dipersiapkan selama dua bulan. “Kendalanya kadang jadwal latihan berbenturan dengan pelajaran di kelas,” terang Bernadette. Lewat pementasan itu, ia berharap, penonton bisa terhibur dan pementasan bisa menjadi sarana menginternalisasi nilai-nilai positif para misionaris awal untuk diaplikasikan di tengah masyarakat.

A.Aditya Mahendra

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*