“Lord of the Rins” yang Sebenarnya Katolik*

tokoh dalam Film Lord of the Rings, insert: JRR Tolkien

HDIUPKATOLIK.com – TEPAT pada 3 Januari ini adalah ulang tahun 175 dari penulis JRR Tolkien. Penulis yang terkenal lewat karyanya Lord of the Rings serta cerita lainnya yang ber-setting di tanah Middle Earth. Sebagai seorang Katolik yang taat sepanjang hidupnya, tercermin dalam karya-karya tulisnya.

Meskipun ia tidak menyukai alegori dunia yang ia bangun dalam Lord of the Rings menggunakan simbol alegoris, cerita dan mitos untuk menunjuk ke kebenaran yang lebih dalam. Kebenaran ini-termasuk mereka yang beragama Katolik-telah dicatat oleh banyak komentator dan sarjana selama bertahun-tahun. Tolkien sendiri mengakui dalam surat kepada teman-teman. (Surat 142 ke Fr. Robert Murray, SJ.) Stratford Caldecott, penulis di St. Benet Hall, Oxford, berkomentar pada tahun 2001, The Lord of the Rings bukanlah buku tentang agama, namun ini adalah sebuah buku Katolik.

 

Paralel Katolik

Salah satu alegori yang banyak terdapat dalam buku ini adalah kesamaan antara Ekaristi dan “roti lembas”-roti khusus yang dibuat oleh para elf. Dalam buku, makanan ini digambarkan memiliki potensi yang bisa diandalkan oleh setiap pengembara dan tidak dicampur dengan makanan lain. Ini makan kehendak dan memberi kekuatan untuk bertahan (Return of the King).

Di sepanjang buku, setiap karakter pembawa cincin mengambil kekuatan dari lembas mereka terima dari Lady Galadriel. Ketika Frodo dan Sam mendekati Mordor, mereka bergantung tidak hanya secara fisik, tapi bisa dibilang rohani yang disediakan roti ini. Selain itu, Smeagol mundur saat melihat lembas. Ia tidak dapat makan Lembas meskipun Frodo mengatakan kepadanya itu akan baik baginya.

Roti ini dimakan dengan syarat dan menagndung kekuatan spiritual. Tolkien sendiri berkomentar tentang kesamaan ini dalam surat 213 untuk Deborah Webster. Kesamaan lain yang hadir dalam buku mencakup Maria yang dalam buku digambarkan sebagai Lady Galadriel,- juga disebut Lady of Lorien, ‘terbesar dari antara peri wanita’. Tanggal 25 Maret  sebagai tanggal penghancuran cincin secara tradisional dianggap sebagai hari “penyaliban”.

 

Kebaikkan, kejahatan dan Rahmat

Selain simbol Ekaristi atau cerminan dari tokoh Maria, tugas menghancurkan cincin sebenarnya adalah cara di mana Tolkien mengkonseptualisasi kegagalan dan keberhasilan. Alih-alih tetap teguh dan menang sampai akhir, Frodo justru “gagal” sebagai pahlawan. Dia tidak bertahan sampai akhir; ia menyerah, berkhianat. Pada saat terakhir, Frodo mencoba mengambil cincin itu untuk dirinya sendiri (Surat 246 Ms Eileen Elgar).

Namun, Frodo sebenarnya sudah memenangkan pencariannya ketika sepanjang perjalanan cincin ini telah dihancurkan oleh tindakan welas asih Frodo. Sementara ia mungkin telah gagal dalam arti yang terbatas, pencarian Frodo selesai dan tercapai. Tolkien berpendapat ini adalah kegagalan moral.

Nilai yang khas dunia Katolik ini, ketika yang baik dan yang jahat tidak berhadapan secara simbang. Kejahatan mengkorupsi kebaikan dan memiliki konsekuensi dalam seluruh cerita Tolkien. Karakter Lord of the Rings belajar dari waktu ke waktu untuk melakukan yang benar.

Untuk menghormati “sang penulis besar”, kita bisa mengambil satu atau dua baris dari buku-bukunya: menghindari kejahatan, bahkan ketika hal itu bisa dilakukan. Berbuat baik, bahkan ketika itu tidak menguntungkan. Welas asih kepada mereka yang telah sampai pada batas mereka, dan mungkin memiliki sedikit “Lembas”.

*disadur dari Catholic News Agency

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*