Emas Paroki Pasar Minggu

Sarasehan sejarah perkembangan Paroki Pasar Minggu.
[Dok. Panitia]

HIDUPKATOLIK.com – Setengah abad berziarah, Paroki Pasar Minggu bersyukur dan belajar dari sejarah. Sejarah menjadi gudang rohani dan kebijaksanaan.

TAHUN 1950-an daerah sekitar Pasar Minggu, Jakarta Selatan tidaklah seramai saat ini. Kendaraan bermotor tak sebanyak seperti sekarang. Becak masih menjadi moda transportasi primadona kala itu. Para pedagang pasar masih terlihat memikul dan menggendong aneka dagangan melewati jalan yang kini menjadi Jalan Tanjung Barat Raya.

Pada tahun itulah, kecambah Gereja Katolik di Pasar Minggu mulai tumbuh. Beberapa umat sudah menetap di sana, salah satunya Alfonsus Gondosoemarto. Ia adalah staf di Djawatan Pertanian Rakyat Pusat atau Kementerian Pertanian ketika itu.

Pada 1952, atas keprihatinan Gondosoemarto, ia menawarkan rumah kontrakannya sebagai tempat berkumpul dan berdoa. Ia pun membuka lebar pintu rumahnya bila ingin di jadikan tempat Misa jika ada imam yang berkunjung.

Rumah Dinas
Pada 1960, Gondosoemarto memperoleh rumah dinas di Jalan Pertanian III Pasar Minggu. Kegiatan umat beralih ke rumah dinasnya. Begitu Gondosoemarto pensiun, rumah dinasnya dialihkan ke Ignatius Soemardi. Rumah itu masih diperbolehkan sebagai tempat ibadat atas izin Kepala Perkebunan, Soenardjo.

Tahun 1964, Uskup Agung Jakarta Mgr Adrianus Djajasepoetra SJ (1894-1979) menunjuk Romo St. Sutopanitra untuk melayani di Pasar Minggu. Pada 1 Februari 1967 di bentuk Badan Pengurus Gereja dan Papa Roma Katolik Gereja Keluarga Kudus Pasar Minggu.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*