Toleransi, Menabur Cinta | | HIDUPKATOLIK.com

Toleransi, Menabur Cinta

Hidup TV Siaran Televisi Katolik Pertama di Indonesia yang dapat ditonton melalui Televisi yang menggunakan Parabola KU-Band dan juga dapat ditonton secara Streaming di Komputer dan Handphone dengan mengakses www.Hidup.tv

Peserta Lokakarya Komisi HAK Regio Jawa di depan Masjid Agung Jawa Tengah.
[Dok. Pribadi]
Toleransi, Menabur Cinta
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Pesan damai dan toleransi mewarnai lokakarya tim Komisi HAK Keuskupan Regio Jawa. Mereka diharapkan dapat memerangi gerakan-gerakan intoleransi di Indonesia.

LAGU Amazing Grace, ciptaan John Newton dibawakan secara merdu oleh para romo diiringi tarian Sufi. Suasana penuh kedamaian ketika beberapa gadis berkerudung dengan lihai memeragakan tarian tersebut. Pesan toleransi sangat kental dalam lokakarya Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan (HAK) Keuskupan Regio Jawa di Hotel Pandanaran, Semarang, Jawa Tengah, Jumat-Minggu, 17-19/3.

Semangat toleransi ini kian nyata dengan menghadirkan dua kiai sebagai pembicara. Mereka adalah Wakil Sekjen Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, K.H. Imam Pituduh dan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Islah Tembalang, Semarang, K.H. Budi Harjono Al-Jawi.

Kiai Budi menerangkan bahwa tarian Sufi adalah tarian cinta. Musik dan tarian menjadi sarana mewujudkan hidup yang damai. “Tiada lagi beda antara aku dan kau, sebab kau hanyalah manifestasi aku yang lain. Hidup keberagaman pun laksana taman bunga yang indah tanpa harus saling menghujat satu terhadap yang lain,” tutur Kiai Budi.

Perangi Cyber
Sementara, Kiai Imam dalam paparannya menyadarkan para peserta lokakarya untuk terus berjuang merawat dan menyelamatkan empat pilar kebangsaan: Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Undang-Undang Dasar 1945. Komitmen itu harus dilakukan segera mengingat ancaman terorisme dan intoleransi kian meluas di negeri ini. Kecenderungan ini seperti tampak dalam gerakan-gerakan radikal di Indonesia.

Kiai yang akrab disapa Kiai Gondrong ini mengakui, ancaman-ancaman itu semacam perang dan harus segera diselesaikan, bukan diam dan tanpa aksi. Salah satu yang bisa dilakukan melalui “perang cyber” di media sosial terhadap hal-hal yang provokatif, hoax, gosip, dan isu-isu yang mengatasnamakan agama. “Ini hal sederhana, tapi nyata untuk mengaplikasikan semangat toleransi,” ujarnya.

Pada hari kedua, para peserta bersilaturahmi ke Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT). Kunjungan ini cukup mendadak sehingga para pengurus Masjid Agung tak ada di tempat karena sedang mengikuti kegiatan lain. Meski begitu, lewat pesan singkat Sekretaris Pengurus Masjid Agung, Fatquri menulis, “Dengan senang hati kami bermaksud hormat atas kunjungan para tokoh agama ke MAJT. Hanya saja dengan sangat menyesal para pengurus DPP MAJT ada acara ke Klaten hari ini. Kalau hanya sekadar berkunjung dan mencoba naik menara dan melihat-lihat MAJT, dengan senang hati dan bisa dipandu oleh salah satu karyawan kami.”

Suasana lokakarya ini diwarnai sukacita. Total peserta yang hadir sebanyak 75 orang. Mereka adalah para Ketua Komisi HAK Keuskupan Regio Jawa, Ketua Tim HAK empat Kevikepan di Keuskupan Agung Semarang bersama sejumlah orang muda Katolik yang menjadi relawan Asian Youth Day 2017 dari Kevikepan Semarang. Kegiatan ini ditutup dengan perayaan Ekaristi yang dipimpin Romo F.X. Sukendar Wignyosumarta di Kapel St Ignatius.

Aloys Budi Purnomo (Semarang)

Comments on Facebook