Gereja Jangan Alergi Politik | | HIDUPKATOLIK.com

Gereja Jangan Alergi Politik

Hidup TV Siaran Televisi Katolik Pertama di Indonesia yang dapat ditonton melalui Televisi yang menggunakan Parabola KU-Band dan juga dapat ditonton secara Streaming di Komputer dan Handphone dengan mengakses www.Hidup.tv

Tjipta Lesmana memaparkan materi tentang kondisi sosial politik Jakarta.
[HIDUP/Antonius E. Sugiyanto]
Gereja Jangan Alergi Politik
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Gereja perlu menggalakkan diskusi politik yang mengarah kepada kebaikan.

MENJELANG Pilkada DKI Jakarta, suasana politik Ibukota lebih “panas”. Masyarakat dituntut menggunakan hati nurani untuk memilih pemimpin lima tahun ke depan. Dinamika politik Jakarta inilah yang menjadi salah satu sorotan pakar komunikasi sekaligus pengamat politik, Tjipta Lesmana, dalam Pertemuan Pastores Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) di aula Katedral Jakarta, Rabu, 5/4.

Guru Besar Komunikasi Universitas Pelita Harapan ini memaparkan peta sosial politik Jakarta dan Indonesia pada Pilkada serentak tahun ini. Selain itu, Tjipta juga menyinggung megakorupsi di Indonesia. Menurutnya, korupsi selalu melibatkan tiga aktor: politisi, birokrat, dan pengusaha. “Di antara koruptor itu ada juga yang Katolik, mereka mengesampingkan agama hanya untuk memperkaya diri,” kata Tjipta.

Kaitan antara ketiga aktor ini, menurut Tjipta, selaras dengan dikatakan Paus Fransiskus. “Kaum elit di mana-mana menyalahgunakan kekuasaannya.” Dalam pemaparannya, Tjipta mengungkapkan, politik akan menjadi jelek apabila faktor suku, agama, dan ras dimainkan.

Gereja di Indonesia tak bisa dilepaskan dari dinamika politik yang berkembang. Dalam kaitan ini, maka diskusi tentang politik memang diperlukan, termasuk di lingkungan Gereja Katolik, tambah Tjipta. Gereja Katolik, sarannya, perlu meningkatkan hubungan dengan kelompok di luar Katolik, termasuk dengan political community. “Gereja tak boleh alergi dengan politik. Berpolitik praktis memang tak boleh, namun diskusi tentang politik amatlah penting.”

Gereja Katolik di Jakarta, lanjut Tjipta, mengalami pertambahan jumlah umat. Tapi di banding jumlah jemaat Gereja lain, umat Katolik Jakarta masih di bawah. “Saya bangga menjadi Katolik, meskipun juga harus mawas diri,” kata umat Paroki St Stefanus Cilandak ini.

Dalam pertemuan ini juga dipaparkan tentang perkembangan pembangunan Gereja St Clara Bekasi Utara. Romo Raymundus Sianipar OFMCap mengatakan, saat ini pembangunan sudah dilanjutkan lagi. Kepala Paroki Bekasi Utara itu menambahkan, pasca aksi penolakan Gereja St Clara beberapa waktu lalu, para tukang yang bekerja ada yang merasa trauma, lalu pulang kampung. “Belakangan ini, beberapa tukang sudah mulai bekerja dan pembangunan dapat dilanjutkan lagi,” katanya.

Sementara, Romo Felix Supranto SSCC juga diberi kesempatan untuk menyampaikan beberapa karya pastoral di Paroki St Odilia Citra Raya. Karya sosial ekonomi yang berjalan di Paroki Citra Raya diantaranya pelayanan kesehatan dan pendampingan sosial ekonomi untuk masyarakat sekitar. Romo Felix mengakui, belum semua masyarakat di wilayahnya mendapatkan akses pelayanan kesehatan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS). Dalam pengamatannya, baru sekitar 60 persen masyarakat mendapat layanan BPJS. “Dengan kondisi ini, masyarakat yang tidak terlayani BPJS dapat memeriksakan kesehatan di Klinik Kesehatan Paroki Citra Raya,” ujarnya.

Antonius E. Sugiyanto

Comments on Facebook