Renungan Sabtu, 15 Juli 2017 : Kabar Sukacita | | HIDUPKATOLIK.com

Renungan Sabtu, 15 Juli 2017 : Kabar Sukacita

Hidup TV Siaran Televisi Katolik Pertama di Indonesia yang dapat ditonton melalui Televisi yang menggunakan Parabola KU-Band dan juga dapat ditonton secara Streaming di Komputer dan Handphone dengan mengakses www.Hidup.tv

[cost-of-discipleship.blogspot.com]
Renungan Sabtu, 15 Juli 2017 : Kabar Sukacita
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Pekan Biasa XIV; Kej 49:29-32; 50:15-26a; Mat 10:24-33; Mzm 105:1-2,3-4,6-7

YESUS mengutus para murid untuk mewartakan Kerajaan Allah. Dari pengalaman pribadi, Yesus mengetahui bahwa berani bersaksi di dalam nama Allah, itu memiliki risiko. Yesus mengalami perlawanan ketika Dia mulai bermisi. Saat Dia menyembuhkan seorang lumpuh, banyak orang mengagumi-Nya. Namun, ketika Dia menyatakan “dosamu diampuni” (Mat 9:2), beberapa ahli Taurat menganggap bahwa Dia adalah penghujat (Mat 9:13). Perlawanan itu datang dari para pemimpin agama di Israel. Ketegangan itu bertumbuh, pada awalnya hanya berupa perkataan (Mat 9:2), kemudian berubah menjadi perencanaan untuk membunuh Dia (Mat 12:14). Yesus ditangkap, dianiaya, dan dibunuh (Mat 26:47-56). Namun, perlawanan itu gagal, sebab Yesus akhirnya bangkit dari kematian dan sekali lagi Dia mengutus para murid-Nya ke tengah dunia.

Yesus sadar bahwa pesan Allah tidak mudah diterima, Dia meng ingatkan murid-Nya untuk menghadapi penolakan. Para murid berpartisipasi di dalam misi Tuhan, sehingga penolakan yang dialami Yesus, akan dialami juga para murid.

Umat Kristiani saat ini pun mengalami tantangan. Menjadi semakin sulit, ketika kita ingin bersaksi tentang iman kita di tempat di mana tidak ada penghargaan terhadap hak-hak asasi manusia. Tindakan menentang penyelewengan terhadap kekuasaan atau menolak ajakan untuk korupsi, bisa menciptakan ancaman bagi diri kita. Yesus menguatkan kita untuk berjalan di dalam jalan-Nya, tetap mewartakan Kerajaan Allah dan memegang teguh nilai kebenaran dan keadilan, sekali pun di tengah perlawanan dan penganiayaan.

Sr Grasiana PRR

Comments on Facebook