HidupTV Siaran Televisi Katolik Pertama di Indonesia yang dapat ditonton melalui Televisi yang menggunakan Parabola KU-Band. HidupTV bersifat Free to Air sehingga anda juga dapat menyaksikan siaran TV Nasional lainnya secara gratis. HidupTV dapat juga ditonton secara Streaming Internet melalui www.Hidup.tv atau www.HidupKatolik.com. INFO: (021) 5491537 atau WA: 0812-8926-7548 (HidupTV) atau email: [email protected]

Gereja Borneo Sambut AYD

13
Gereja Borneo Sambut AYD
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.COM-SEBAGAI sebuah kota pesisir, Singkawang pada 1885, sudah ramai dengan begitu banyak aktivitas perdagangan. Pada tahun-tahun itu juga, dimulailah sejarah Gereja Katolik di Bumi Borneo dengan ditugaskannya Pater Staal SJ di sana. Begitu tiba di Kalimantan, Pater Staal merintis Stasi Singkawang. Ketika itu keseluruhan Pulau Kalimantan masih menjadi bagian Vikariat Apostolik Batavia.

Jauh sebelumnya, orang-orang Melayu dan Tionghoa juga sudah ada di wilayah pesisir ini. Setelah beberapa lama berkarya di Singkawang, umat semakin bertambah banyak berkembang, maka tahun 1905 Gereja Indonesia Kalimantan memulai sejarah baru dengan ditingkatkan statusnya menjadi Perfektur Apostolik Borneo (Perfectura Apostolic of Dutch Borneo/ Borneo Olandese) dan Pater Jan Pacificus Bos OFMCap ditunjuk sebagai Prefek Apostolik. Pada 1909, dibukalah Stasi Pontianak, dan Pater Bos mulai memindahkan pusat misi Katolik dari SIngkawang ke Pontianak.

Kini 132 tahun telah berlalu sejak awal hadirnya Gereja Katolik di Kalimantan. Di titik mula Gereja Kalimantan ini di Paroki St Fransiskus Asisi Singkawan menjadi salah satu tempat pelaksanaan Days in the Diocese (DID) yang merupakan bagian gelaran Asian Youth Day (AYD) 2017. Romo ALex Mardalis mengungkapkan, dengan latar belakang sejarah ini, ia, ia berharap, peserta AYD 2017 akan mengenal Gereja Katolik di Kalimanta. Selain di Singkawang, DID juga akan diadakan di Paroki St Yoseph Pemangkat.

Ketua Komisi Kepemudaan Keuskupan Agung Pontianak ini menambahkan, dalam perkembangan di Kalimantan, kekatolikan justru lebih berkembang dalam budaya Dayak. Romo Alex menambahkan, ada lima Paroki lain yang dijadikan DID, yaitu Paroki Salib Suci Ngabang, Paroki St Yohanes Pemandi Pahauman, Paroki St Theresia dari Kanak-kanak Yesus Bandol, Paroki St Yoseph Karangan, dan Paroki St Theresia Kubu.

Lima Paroki ini sebagian besar umatnya dari Suku Dayak. Dengan tinggal di tengah mereka, peserta DID mengenak Gereja yang hidup dan berkembang dalam budaya. “Dengan keterlibatan mereka dalam DID, saya berharap, orang muda akan semakin bangga dengan imannya. Saya juga berharap, mereka akan semakin mampu terlibat dalam hidup bermasyarakat,” ujar Romo Alex

Yusti H. Wuarmanuk

Redaksi website HIDUPKATOLIK.COM akan menerbitkan semua artikel seperti info kegiatan, refleksi, resensi, agenda/rencana kegiatan dan sebagainya di web HIDUPKATOLIK.COM. Semua artikel anda akan kami viralkan juga di semua media sosial. Kami pastikan akan dibaca dan diketahui oleh ratusan ribu pembaca online. Kirim ke email: [email protected].

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here