HidupTV Siaran Televisi Katolik Pertama di Indonesia yang dapat ditonton melalui Televisi yang menggunakan Parabola KU-Band. HidupTV bersifat Free to Air sehingga anda juga dapat menyaksikan siaran TV Nasional lainnya secara gratis. HidupTV dapat juga ditonton secara Streaming Internet melalui www.Hidup.tv atau www.HidupKatolik.com. INFO: (021) 5491537 atau WA: 0812-8926-7548 (HidupTV) atau email: [email protected]

Siapakah Aktor Misterius Di Balik Kisah Nyata ini ?

769
Sari sedang mengajarkan sahabat cumo menggunakan molen cor
Siapakah Aktor Misterius Di Balik Kisah Nyata ini ?
4.5 (90%) 2 votes

Sebuah kisah nyata terjadi di kampung Wouma tahun 2011, sebuah dusun kecil yang dialiri sungai di sudut Kota Wamena Papua. Tokoh-tokoh yang berperan di dalam kisah ini antara lain :

  • Sari : adalah seorang tukang bangunan yang hidupnya sangat dekat dengan hal duniawi, saat itu dia sedang mengerjakan sebuah proyek besar di Sentani Jayapura Papua, namun diam-diam melarikan diri ke Wouma Wamena (sebuah pedalaman di tengah pulau Papua), tempat yang baru baginya. Sari sebenarnya takut dibunuh karena pernah mendengar cerita tentang Peristiwa Wamena Berdarah tahun 2000 yang terjadi di Wouma Wamena. Sari ke Wouma Wamena untuk membantu pembangunan Gedung Kapela kecil berukuran 12 X 24, bukan karena sebuah bayaran,  namun beliau pergi karena ada aktor di balik kisah ini, siapakah aktornya ?
Sari sedang mengajarkan sahabat cumo menggunakan molen cor
  • Cumo : adalah singkatan dari Cuci Mobil yaitu sekelompok anak muda yang mencari nafkah di pinggaran kali Wouma Wamena. Sebagian dari mereka sering membeli lem aibon untuk dihirup baunya karena bisa memabukkan. Sejak kedatangan Sari ke Wouma, para cumo setiap hari bersama-sama dengan Sari, entah apa yang mereka lakukan ? siapa aktor yang mempertemukan mereka ?
anak-anak cumo sedang memasang dinding kapela
  1. Ibu Magdalena Matuan : adalah seorang ibu yang pernah berjanji membangun Kapela jika Ibu Magdalena menjadi orang sukses, saat menjadi orang sukses Kapela belum juga dibangun karena berbagai keterbatasan yang sangat disadari ibu Magdalena. Suatu hari Ibu Magdalena mendapat teguran di dalam mimpi, dan Ibu Magdalena sangat takut akan mimpi itu. Upah gaji setiap bulan sebagai anggota DPR Provinsi Papua saat itu diberikan semua kepada pembangunan Kapela dan membantu beberapa gereja.
ibu Magdalena Matuan sedang berdiskusi dengan warga Kampung Wouma
  1. Florry Koban: adalah penulis artikel ini, semasa kecilnya pernah hidup di kampung Wouma Wamena, setelah besarnya menjadi Arsitek bekerja di Jayapura Papua, pernah bermimpi tentang tempat keramat di Wouma Wamena, mimpi itu bahkan terjadi selama tiga kali di tempat dan waktu yang berbeda. Mimpi itu membuat Florry hidup tidak tenang dan akhirnya seorang penerjemah mimpi adat Wamena mempertemukan Florry dengan Ibu Magdalena, ternyata mimpi itu ada hubungannya dengan mimpi ibu Magdalena sebelumnya.
Florry Koban sedang mengikuti acara adat di kampung Wouma

Keempat tokoh di atas bertemu karena skenario yang telah diatur oleh Aktor Misterius, dan bukan karena sebuah kesepakatan, tetapi mengalir begitu saja seolah-olah terjadi di bawah alam sadar. Kedatangan Florry ke Wamena semata-mata penasaran dengan mimpinya, setelah pergi ke tempat keramat yang dilihat dalam mimpi itu ternyata hanyalah sebuah halaman kosong. Ibu Magdalena menceritakan halaman kosong itu ingin dibangun sebuah Kapel namun rencana pembangunan kapel selalu gagal, banyak orang di kampung Wouma sering disibukkan dengan kedukaan yang terus-terus terjadi, beberapa orang kampung meninggal dalam waktu yang berdekatan. Di atas halaman kosong tadi, Sari, Florry dan Ibu Magdalena mematok lokasi berukuran 12 X 24 untuk dibangun sebuah kapel (gedung gereja katolik kecil). Keesokan harinya seluruh orang kampung Wouma datang menggali pondasi yang dalamnya 1,5 meter menggunakan alat manual yang hanya membutuhkan setengah hari saja. Sesuatu yang tidak mungkin tetapi itu benar terjadi.

Sebuah pohon besar di dekat lokasi itu harus ditebang karena berdekatan dengan pondasi Kapela, namun petuah adat di lokasi itu melarang Sari, karena di ujung pohon itu dihuni oleh roh halus Kali Wouma. Namun besok paginya secara diam-diam, tanpa diketahui Ibu Magdalena, Florry bersepakat dengan Sari untuk menebangnya. Bermodalkan sebuah parang, Sari memanjat pohon itu, Florry hanya memegang Rosario dan berdoa dari jarak yang tersembunyi, orang kampung yang melihat peristiwa itu lalu bersembunyi karena takut jika Sari dibunuh oleh roh halus. Namun hal yang ditakuti justru tidak terjadi, karena roh halus takut dengan Aktor Misterius. lagi-lagi siapa Aktor Misterius itu ?Setelah pohon ditebang, penduduk Wouma berkerumun di bawah pohon dan melakukan tarian etae (tarian ungkapan syukur sambil berdansa), karena selama ini orang kampung ingin menebang pohon itu namun takut kepada roh jahat.

Sari mulai mengerjakan gedung kapela ditemani seorang tukang, mereka berdua bekerja tanpa mengeluh, Ibu Magdalena selalu setia memberi makan dan semangat kepada pekerja. Di saat pekerjaan semakin berat dan butuh tenaga, datanglah para cumo, kehadiran cumo ini hanya melepas lelah dan mau menonton apa yang dilakukan Sari, bahkan mereka juga melakukan aktifitas isap aibon di lokasi pembangunan kapel.

Apakah Sari mengusir cumo ? ternyata tidak, karena Sari membutuhkan cumo sebagai teman cerita. Mulai dari sebatas mob (cerita humor ala Papua) hingga dengan sendirinya para cumo memegang sekop, martelu, dan sendok semen untuk membantu Sari, sambil bersuka cita setiap hari. Para cumo semakin bertambah di lokasi pembangunan hingga berjumlah 12 orang. Ketika diketahui oleh orang kampung setempat para cumo sempat diusir. Cumo sadar diri akan ketidak pantasan mereka dan pergi, hingga Sari merasa kehilangan teman. Namun para Cumo ini datang lagi diam-diam, kedatangan mereka untuk bersuka cita bersama Sari. Rupanya Florry dan Ibu Magdalena memperhatikan gerak-gerik para cumo, memanggil ke-12 anggota cumo, lalu memberikan upah. Florry bahkan tidak pernah melarang para cumo untuk isap aibon dari upah membantu Sari. Aktifitas isap aibon masih tetap berjalan walaupun mereka telah meninggalkan pekerjaan cuci mobil. Lima bulan berlalu kapel siap memasang rangka atap,  anehnya 12 orang para cumo ini tidak pernah melakukan aktifitas isap aibon lagi, tidak ada yang melarang mereka, namun mereka berhenti isap aibon dengan sendirinya. Siapa aktor di balik ini semua ini sehingga para cumo berhenti menggunakan lem aibon ? ketika atap gereja dipasang, para cumo terus bersuka cita, namun kali ini suka cita mereka bukan karena lem aibon tetapi karena mereka bebas dari lem aibon, keceriraan mereka terpancar dengan murni semurni matahari yang terbit di ufuk timur.

Florry Balik ke Jayapura melepaskan Sari bekerja bersama para cumo di Wamena, Florry menolak pemberian upah dari Ibu Magdalena yang berlebihan, karena awalnya Florry hanya datang untuk sebuah mimpi aneh yang pernah dialaminya, namun akhirnya turut mendesain gedung kapel dan mengawasi pembangunan, siapa Aktor Mistierius dibalik persitiwa ini ?. Tibalah hari minggu, Florry mendapat telepon dari orang kampung Wouma dengan nada marah-marah, karena Uskup Jayapura (pimpanan agama Katolik tertinggi di wilayah itu)  mengunjungi pembangunan Kapel Wouma tanpa memberitahukan kepada orang kampung, sebagaimana biasanya orang kampung selalu menyambut Uskup dengan bakar batu (masakan tradisional Wamena). Rupanya cerita tentang peristiwa pembangunan kapel di Wouma sampai ke telinga uskup, bukan karena bangunan fisiknya tetapi kisah Sari bersama ke-12 anak Cumo. ternyata Aktor Misterius itu juga berhasil membawa datang Uskup Jayapura ke kampung Wouma sudut kota Wamena Papua.

Setelah Kapel Wouma selesai dibangun, ke-12 anak Cumo tersebut merantau ke Jayapura, bermodalkan hasil persahabatan dengan Sari,  mereka telah menjadi manusia utuh, pintar membangun gedung, hidup dengan suka cita, tidak tergantung lagi kepada lem aibon, mereka saat ini sudah punya pekerjaan masing-masing dan ada yang sedang melanjutkan sekolah. Sari memilih untuk hidup di Wamena dan telah meninggalkan aktifitas duniawinya, membantu pembangunan gereja di berbagai tempat. Ibu Magdalena tidak berhasil mendulang suara menjadi anggota DPR kembali, namun ibu Magdalena memilih bekerja kebun bergabung bersama orang kampung Wouma, karena ibu Magdalena sadar berkebun adalah pekerjaan mulia, dan sangat dinikmati serta bisa menghidupi banyak orang. Lima tahun berlalu, kapela ini telah dibangun Goa Maria, Pagar, dan berbagai fasilitas, bahkan peresmiannya tidak dilakukan buru-buru. Tanggal 26 Desember 2016 oleh Uskup Leo Laba Ladjar, OFM, kapela Wouma diresmikan dengan nama Kampung setempat : KAPELA YESUS ELALIN (dalam bahasa Indonesia : YESUS PENEBUS).

Gedung Kapela Yesus Elalin yang telah dibangun.

Kisah nyata di atas diceritakan secara singkat oleh Florry, sekaligus tulisan perdana Florry sebagaj kontributor baru Majalah Hidup Katolik Indonesia dari pulau matahari terbit. Jika diceritakan lengkap, maka banyak sekali mujizat yang terjadi saat pembangunan Kapel Yesus Elalin, banyak sekali kerlibatan ibu-ibu dan bapak-bapak di kampung Wouma yang menyumbang material. Florry mau mengajak pembaca Majalah Hidup Katolik untuk merefleksi sebenarnya siapa Aktor Misterius di balik kisah nyata di atas. Pembaca pasti sudah mengetahui jawabannya. Aktor Misterius inilah yang juga telah merencanakan dan mengatur seluruh kehidupan anda. Seluruh kisah hidup anda akan dibuat nyata oleh Aktor Misterius, jika anda meyakininya, maka serahkanlah hidup anda kepada Aktor Misterius. Para cumo dalam kisah nyata di atas telah dirubahnya menjadi orang sukses, apalagi anda. Masihkah anda meragukanNya ? nantikan kesaksian dari Tanah Papua pada tulisan-tulisan selanjutnya, salam. (Florry Koban)

Redaksi website HIDUPKATOLIK.COM akan menerbitkan semua artikel seperti info kegiatan, refleksi, resensi, agenda/rencana kegiatan dan sebagainya di web HIDUPKATOLIK.COM. Semua artikel anda akan kami viralkan juga di semua media sosial. Kami pastikan akan dibaca dan diketahui oleh ratusan ribu pembaca online. Kirim ke email: [email protected].

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here